Trump Klaim Presiden Venezuela Nicolas Maduro Ditangkap AS
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
03 - Jan - 2026, 06:46
JATIMTIMES - Situasi politik Venezuela mendadak memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim militer AS telah melancarkan operasi besar-besaran dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Pernyataan mengejutkan itu disampaikan Trump melalui media sosial Truth Social pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.
“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” tulis Trump dalam unggahannya.
Baca Juga : Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan Viral Usai Ancam Bunuh Korban, Diduga Dipicu Masalah Anak
Klaim tersebut menuai sorotan internasional. Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela yang mengonfirmasi kabar penangkapan Maduro. Namun, sejumlah laporan menyebutkan adanya ledakan di ibu kota Caracas dan beberapa wilayah lain, yang memicu spekulasi bahwa operasi militer skala besar memang sedang berlangsung.
Mengutip laporan Reuters, Trump menyebut Maduro telah dibawa keluar dari wilayah Venezuela. Sementara itu, saksi mata melaporkan terdengarnya beberapa ledakan di Caracas pada Sabtu pagi waktu setempat. Kepulan asap tampak membumbung, dan helikopter terlihat berpatroli di atas kota.
Jika klaim Trump terbukti benar, langkah ini akan menjadi intervensi langsung Amerika Serikat paling signifikan di kawasan Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 yang menggulingkan Manuel Noriega.
Dalam perkembangan lain, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan pemerintah belum mengetahui keberadaan Presiden Nicolas Maduro maupun Ibu Negara Cilia Flores. Ia juga menyebut serangan AS telah menimbulkan korban jiwa, termasuk dari kalangan pejabat, personel militer, hingga warga sipil.
Laporan CNN International, Sabtu (3/1), wartawan yang berada di Caracas disebut menyaksikan sejumlah ledakan. Beberapa area kota bahkan dilaporkan mengalami pemadaman listrik. Ledakan pertama disebut terjadi sekitar pukul 01.50 waktu setempat.
Klaim penangkapan Maduro juga diperkuat pernyataan seorang senator Partai Republik. Senator Utah, Mike Lee, mengaku mendapat informasi langsung dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.
“Ia memberi tahu saya bahwa Nicolas Maduro telah ditangkap oleh personel AS untuk diadili atas tuntutan pidana di Amerika Serikat, dan tindakan kinetik yang kita saksikan malam ini dilakukan untuk melindungi dan membela pihak yang mengeksekusi surat perintah penangkapan,” tulis Lee melalui akun X pada Sabtu pagi.
Lee menambahkan bahwa Rubio memperkirakan tidak akan ada tindakan lanjutan di Venezuela setelah Maduro berada dalam tahanan AS. Ia juga menilai operasi tersebut berada dalam kewenangan Presiden AS berdasarkan Pasal II Konstitusi untuk melindungi personel Amerika dari ancaman nyata atau yang akan segera terjadi.
Namun, sebelumnya Lee sempat mempertanyakan dasar konstitusional serangan tersebut. “Saya ingin mengetahui apa, jika ada, yang secara konstitusional membenarkan tindakan ini tanpa deklarasi perang atau otorisasi penggunaan kekuatan militer,” tulisnya.
Hubungan Washington dan Caracas memang memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump menuduh Maduro memimpin “negara narkoba” dan melakukan manipulasi pemilu. Sebaliknya, Maduro berulang kali membantah tuduhan tersebut dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia.
Baca Juga : KUHP dan KUHAP Baru Resmi Berlaku Hari Ini: Ini Pasal-Pasal Krusialnya
Ironisnya, hanya sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Maduro justru menyatakan terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Venezuela yang dikutip BBC News, Maduro menyebut siap membahas isu perdagangan narkoba dan minyak dengan AS.
“Kita bisa bicara di mana pun mereka mau dan kapan pun mereka mau,” ujar Maduro saat itu.
Dalam wawancara yang sama, Maduro menghindari pertanyaan terkait klaim Trump sebelumnya mengenai serangan AS ke fasilitas dermaga Venezuela. Ia hanya menyebut hal tersebut “bisa dibicarakan dalam beberapa hari ke depan”.
BBC News juga melaporkan, selama tiga bulan terakhir Amerika Serikat meningkatkan operasi militernya di kawasan Karibia dan Pasifik timur dengan dalih perang melawan narkoba. Militer AS mengklaim telah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang diduga mengangkut narkotika, dengan total korban tewas lebih dari 110 orang.
Serangan terbaru dilaporkan terjadi pada Rabu lalu, ketika dua kapal dihantam dan menewaskan lima orang di dalamnya.
Di sisi lain, Trump juga menggandakan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro serta berencana menetapkan pemerintah Venezuela sebagai Foreign Terrorist Organisation (FTO). Pemerintah Venezuela menilai langkah-langkah tersebut sebagai upaya sistematis untuk menjatuhkan Maduro dari kekuasaan.
Sejumlah pakar kontra-narkotika menyebut peran Venezuela dalam perdagangan narkoba global relatif kecil dan lebih banyak berfungsi sebagai negara transit. Namun, kebijakan agresif AS terus berlanjut, termasuk penyitaan kapal tanker minyak Venezuela yang dituding melanggar sanksi internasional. Caracas menyebut tindakan itu sebagai “pembajakan internasional”.
Hingga Sabtu (3/1) malam, di penelusuran Google trending kata kunci seperti "Maduro" hingga "Amerika serang Venezuela". Banyak warganet yang ingin mengetahui update kejelasan dan konfirmasi resmi terkait nasib Presiden Nicolas Maduro di tengah eskalasi ketegangan yang berpotensi mengubah peta geopolitik kawasan itu.
