Insiden Mahasiswa NTT di Malang, Wali Kota Dorong Pendekatan Siskamling
Reporter
Riski Wijaya
Editor
Yunan Helmy
01 - Jan - 2026, 06:25
JATIMTIMES - Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan bahwa insiden kericuhan yang melibatkan mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kota Malang tidak bisa digeneralisasi. Menurut dia, peristiwa tersebut murni dipicu oleh oknum tertentu dan bukan mencerminkan keseluruhan komunitas mahasiswa NTT.
Kericuhan itu terjadi pada akhir Desember 2025, tepatnya di kawasan Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, dan sempat menimbulkan korban luka hingga satu orang meninggal dunia. Peristiwa tersebut langsung mendapat atensi serius dari Pemkot Malang.
Baca Juga : Pohon Tumbang Timpa Warung dan Tutup Akses Jalan di Kepanjen
Wahyu mengungkapkan, jauh sebelum kejadian, pihaknya sebenarnya sudah melakukan langkah pencegahan. Pemkot Malang bahkan telah mengumpulkan perwakilan mahasiswa NTT yang tinggal di kawasan tersebut untuk memberikan imbauan agar menjaga kondusivitas lingkungan.
“Sedikit pada saat awal itu kita sudah mengimbau, sudah mengumpulkan juga mahasiswa NTT yang di sana, dan mereka siap mengikuti. Saya kira ini tidak semua ya, hanya oknum-oknum saja,” ujar Wahyu.
Ia menekankan bahwa akar persoalan kerap muncul dari pemicu kecil yang tidak dikelola dengan baik. Padahal, menurut Wahyu, jika semua pihak mau duduk bersama, konflik semacam ini bisa dihindari.
“Kalau kita duduk bersama, orang kita ini kan sama-sama NKRI. Mungkin hanya karena hal-hal sepele saja yang kemudian membesar,” katanya.
Sebagai langkah lanjutan, Wahyu mendorong pendekatan sosial dan humanis dengan melibatkan mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan. Salah satunya melalui siskamling. Ia menilai, interaksi informal justru bisa menjadi ruang efektif untuk membangun kebersamaan.
“Dengan siskamling, kita ajak mereka gantian, bergiliran, sama-sama jaga keamanan. Ngopi bareng di pos ronda, saling kenal, saling jaga,” imbuhnya.
Baca Juga : Parkir Kayutangan Bakal Mulai Ditarif Pertengahan Januari
Wahyu juga telah menginstruksikan lurah bersama RT/RW setempat untuk merangkul seluruh warga, termasuk mahasiswa pendatang, tanpa ada sekat atau pembedaan.
“Makanya saya sudah minta Pak Lurah dengan RT/RW, kita rangkul mereka. Jangan dibedakan. Saya yakin mereka juga ingin daerah tempat tinggalnya aman,” ujar wali kota.
Wahyu mengingatkan, para mahasiswa tersebut datang ke Malang dengan harapan besar dari orang tua mereka yang telah berjuang membiayai pendidikan dari jauh. Karena itu, insiden kekerasan justru menjadi hal yang sangat disayangkan.
“Mereka ini dibiayai orang tuanya jauh-jauh supaya berhasil. Kalau sampai terjadi sesuatu, kan sayang sekali. Jadi, pemicunya inilah yang harus kita jaga bersama,” pungkas Wahyu.
