Minum Kopi Setiap Hari, Aman atau Tidak? Ini Dampaknya pada Pencernaan
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
09 - Feb - 2026, 11:16
JATIMTIMES - Kopi sudah seperti “teman setia” bagi banyak orang. Pagi hari belum lengkap tanpa secangkir kopi, siang butuh tambahan energi, bahkan sore pun masih tergoda menyeruputnya. Selain mengusir kantuk, kopi memang memberi efek segar yang sulit ditolak.
Namun di balik aromanya yang khas dan rasanya yang nikmat, ada sejumlah dampak yang bekerja langsung di dalam tubuh. Tak hanya bikin jantung berdebar atau susah tidur, kebiasaan minum kopi juga berkaitan erat dengan kesehatan usus dan sistem pencernaan.
Baca Juga : Gus Qowim Hadiri Tasyakuran Harlah Partai Gerindra Ke-18, Ajak Kompak, Bergerak, dan Berdampak
Lalu, apakah minum kopi setiap hari benar-benar aman? Dilansir dari Dagens.com, ada sejumlah efek kopi terhadap usus dan pencernaan yang perlu diketahui.
1. Merangsang Gerakan Usus Lebih Cepat
Salah satu efek paling terasa setelah minum kopi adalah dorongan untuk buang air besar. Bukan sekadar sugesti, kafein memang berperan dalam merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran cerna. Proses ini dikenal sebagai motilitas usus.
Ketika motilitas meningkat, makanan bergerak lebih cepat melalui sistem pencernaan. Pada sebagian orang, hal ini membantu melancarkan buang air besar dan mengurangi rasa penuh atau kembung setelah makan.
Secara ilmiah, kopi juga memicu pelepasan hormon pencernaan seperti gastrin dan cholecystokinin (CCK). Hormon ini merangsang produksi asam lambung sekaligus kontraksi usus.
Namun, efek ini tidak selalu menyenangkan bagi semua orang.
Bagi mereka yang memiliki Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau sensitivitas usus, rangsangan tersebut justru bisa memicu diare atau rasa tidak nyaman di perut.
2. Bantu Kesehatan Mikrobiota Usus
Tak melulu soal efek “ke belakang”, kopi juga dikaitkan dengan kesehatan mikrobiota usus. Minuman ini kaya polifenol, yakni senyawa antioksidan yang berfungsi sebagai prebiotik alami. Prebiotik membantu memberi makan bakteri baik di dalam usus.
Beberapa studi menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi kopi cenderung memiliki keragaman mikrobiota yang lebih tinggi. Salah satu bakteri yang meningkat jumlahnya adalah Bifidobacterium, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Keragaman bakteri usus yang baik sering dikaitkan dengan daya tahan tubuh yang lebih kuat serta risiko gangguan pencernaan yang lebih rendah. Meski begitu, manfaat ini tetap bergantung pada konsumsi yang wajar dan dibarengi pola hidup sehat secara keseluruhan.
Di sisi lain, kopi juga memiliki sifat asam. Kandungan ini dapat meningkatkan produksi asam lambung, terutama jika dikonsumsi saat perut kosong.
Produksi asam lambung yang meningkat, ditambah relaksasi sfingter esofagus bawah, otot yang mencegah isi lambung naik ke kerongkongan, dapat memicu sensasi panas di dada atau heartburn. Pada sebagian orang, kondisi ini berkembang menjadi gastroesophageal reflux disease (GERD).
Baca Juga : Tak Cuma Praktis, 3 Menu Sarapan Ini Bikin Kenyang Tahan Lama dan Lebih Sehat
Tak hanya itu, kafein dalam kopi juga dapat memengaruhi penyerapan mineral tertentu seperti zat besi dan kalsium. Risiko ini lebih besar jika kopi diminum berdekatan dengan waktu makan atau saat mengonsumsi suplemen mineral.
Beberapa orang juga melaporkan mengalami kram perut, diare, atau rasa tidak nyaman setelah minum kopi. Kondisi ini umumnya lebih sering terjadi jika kopi dikonsumsi dalam keadaan perut kosong, karena rangsangan pada otot usus menjadi lebih kuat.
3. Pengaruh pada Kualitas Tidur
Efek kopi tidak berhenti di saluran cerna. Kafein memiliki masa paruh biologis sekitar 5–12 jam, tergantung kondisi masing-masing individu. Artinya, secangkir kopi di sore hari masih bisa “bertahan” di dalam tubuh hingga malam.
Kondisi ini membuat sebagian orang sulit tertidur atau mengalami penurunan kualitas tidur. Padahal, tidur yang tidak optimal dapat memicu siklus negatif: tubuh terasa lelah keesokan harinya, lalu kembali mengandalkan kopi untuk bertahan.
Jika berlangsung terus-menerus, gangguan tidur berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon, suasana hati, hingga sistem pencernaan itu sendiri.
Jadi, Perlukah Berhenti Minum Kopi?
Minum kopi setiap hari pada dasarnya tidak selalu berbahaya, selama dalam jumlah moderat dan tubuh tidak menunjukkan reaksi negatif yang signifikan. Setiap orang memiliki toleransi kafein yang berbeda.
Bagi yang memiliki masalah asam lambung, IBS, atau gangguan tidur, mengurangi konsumsi kopi, terutama di sore dan malam hari, bisa menjadi langkah bijak. Sementara bagi yang merasa pencernaannya bermasalah justru terbantu, kopi dalam jumlah wajar masih bisa menjadi bagian dari rutinitas harian.
Kuncinya ada pada keseimbangan. Mendengarkan respons tubuh sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti tren atau kebiasaan. Semoga informasi ini bermanfaat ya.
