Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Pasar Monolog #4 KBKB Malang: Saat Satu Aktor Suarakan Banyak Cerita, Sedot Ratusan Penonton

Penulis : Irsya Richa - Editor : Dede Nana

24 - Jan - 2026, 16:32

Placeholder
Monologis Dr. M. Fatoni R., M.Pd. saat membawakan Hidup Seorang Hakim di atas panggung Pasar Monolog #4 di Amphitheater Malang Creative Center (MCC), Sabtu (24/1/2026). (Foto: Irsya Richa/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Amphitheater Malang Creative Center (MCC) berubah menjadi ruang perjumpaan ide, emosi, dan refleksi pada Sabtu (24/1/2026). Pasar Monolog #4 yang digagas Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang sukses menyedot perhatian publik, dengan kehadiran sekitar 300 penonton yang datang dari berbagai latar belakang mulai dari seniman, akademisi, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.

Sejak lampu panggung menyala, perhatian penonton tak beranjak. Setiap monolog mengalirkan cerita yang berbeda, menghadirkan keheningan yang khidmat, lalu pecah menjadi tepuk tangan panjang usai pertunjukan berakhir.

Baca Juga : Tren Parfum 2026: Wangi Tenang, Berkarakter, dan Sarat Cerita

Atmosfer itu memperlihatkan bahwa monolog, meski dimainkan oleh satu aktor, mampu menyentuh banyak orang dalam satu ruang. Mengusung tema Satu Panggung, Banyak Suara, dan Kisah-Kisah yang Menggugah, Pasar Monolog #4 menghadirkan tujuh monologis lintas generasi dan profesi.

a

Tujuh karya yang dipentaskan menawarkan sudut pandang beragam, mulai dari kegelisahan personal, realitas sosial, hingga refleksi kemanusiaan. Di antaranya Suatu Hari di Hidup Seorang Hakim oleh Dr. M. Fatoni R., M.Pd. Pahlawan di Negeri Para Hantu oleh Dr. Mustofa Kamal, S.Pd., M.Sn.

Ada juga Niskala oleh Dr. M. Zaeni, M.Pd. Langit Markeso oleh Dohir “Sindu” Herliato. Raiasu Risau oleh Agus Fauzi Rhomadhon. Bicara (adaptasi dari Pengakuan Dedes) oleh Ning Naila Ali. Jawaban oleh Januari Kristiyanti.

Pimpinan Produksi Pasar Monolog, Andrean Fahreza Nur Wicaksana, mengatakan tingginya antusiasme penonton menjadi sinyal kuat bahwa seni monolog masih memiliki tempat di tengah masyarakat.

“Kehadiran ratusan penonton menunjukkan monolog masih relevan sebagai medium ekspresi, refleksi, dan kritik sosial,” ungkap Andrean.

Ia menegaskan, Pasar Monolog dirancang bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga ruang temu yang terbuka bagi seniman dan masyarakat. “Konsep ‘pasar’ kami maknai sebagai ruang yang egaliter, tempat seniman dan penonton bisa saling bertukar gagasan,” imbuh Andrean.

Tak berhenti di panggung, Pasar Monolog #4 juga membuka ruang dialog melalui sesi diskusi dan bedah karya. Dipandu Candra R.W.P., dengan pengulas Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., sesi ini mengajak penonton menyelami proses kreatif dan pesan di balik setiap pertunjukan.

Dr. Tengsoe menilai Pasar Monolog memiliki posisi penting dalam menjaga denyut seni pertunjukan di Malang. Menurutnya, monolog adalah bentuk teater yang paling jujur karena bertumpu pada satu aktor sebagai pusat cerita.

“Satu aktor itu satu suara, satu ruang, satu persoalan. Ini merepresentasikan kondisi manusia hari ini yang sering kali harus menyelesaikan persoalannya sendiri,” jelas Tengsoe.

Baca Juga : Mengayuh dengan Hati, Ratusan Pesepeda di Surabaya Galang Dana Rp 50 Juta untuk Korban Banjir di Sumatera

Ia juga menyinggung sejarah Malang yang pernah menjadi barometer teater pada era 1980-an. “Dulu komunitas teater di Malang sangat hidup. Sekarang aktivitasnya tidak seramai itu. Padahal potensi masih ada,” terang Tengsoe.

Menurutnya, monolog merupakan dasar penting dalam seni peran. “Kalau ingin kuat di seni peran, monolog adalah pondasinya. Penampil malam ini membuktikan Malang punya potensi besar,” tegas Tengsoe.

Namun ia mengingatkan, penguatan ekosistem seni tak bisa hanya bergantung pada komunitas. Masyarakat dan pemerintah perlu memberi ruang dan perhatian. “Ini kerja budaya, dan akan ironis jika tidak didukung,” terang Tengsoe.

Apresiasi juga datang dari penonton. Lingga Galih Permadi mengaku jarang menyaksikan pertunjukan monolog dengan kualitas dan kedalaman seperti yang ditampilkan KBKB Malang.

“Menarik karena yang tampil adalah seniman-seniman senior yang sudah lama berkarya. Pengalamannya terasa di panggung,” kata Lingga di sela-sela penampilan Pasar Monolog.

Kesuksesan Pasar Monolog #4 kembali menegaskan konsistensi KBKB Malang dalam merawat ruang ekspresi seni pertunjukan. Lebih dari sekadar pementasan, Pasar Monolog hadir sebagai ruang mendengar, tempat satu suara di panggung mampu menggema menjadi banyak cerita di benak penontonnya.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya pasar monolog mcc kelompok bermain kangkung bersemi teater monolog



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Dede Nana