JATIMTIMES - Masa orientasi peserta didik baru di banyak sekolah umumnya identik dengan pengenalan ruang kelas, guru, maupun tata tertib. Namun, pendekatan berbeda ditunjukkan MIN 1 Kota Malang dalam pelaksanaan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (Matamuda) Tahun Ajaran 2026/2027. Selama tiga hari pelaksanaan, kegiatan tersebut diarahkan sebagai proses awal pembentukan karakter melalui pengenalan budaya madrasah, penguatan moderasi beragama, hingga pembiasaan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi fondasi peserta didik selama menempuh pendidikan.
Sebanyak 255 murid baru tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan fisik madrasah, tetapi juga diajak memahami bahwa pendidikan sejak hari pertama tidak semata mengejar capaian akademik. Adaptasi sosial, kemampuan menghargai perbedaan, kedisiplinan, hingga pembiasaan hidup religius menjadi bagian yang sengaja dibangun bersamaan dengan proses transisi mereka memasuki jenjang pendidikan dasar.
Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Kliwon 17 Juli 2026: Tahan Dulu Kejar KeinginanĀ
Pendekatan tersebut menjadi relevan di tengah tantangan pendidikan saat ini yang tidak lagi cukup berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan. Dunia pendidikan juga dituntut mampu membentuk karakter peserta didik agar memiliki kemampuan hidup berdampingan dalam masyarakat yang semakin beragam, sekaligus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak.

Komitmen itu mulai terlihat sejak hari pertama masuk sekolah. Penyambutan murid baru tidak hanya dimaksudkan menciptakan suasana yang menyenangkan, tetapi juga membangun rasa aman bagi anak-anak yang untuk pertama kalinya memasuki lingkungan belajar baru. Guru menyambut mereka di gerbang madrasah, sementara orang tua turut mendampingi hingga anak memasuki kelas masing-masing.
Momentum tersebut dimanfaatkan madrasah untuk memperkuat kemitraan dengan keluarga. Bagi MIN 1 Kota Malang, keberhasilan pendidikan tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah, melainkan memerlukan sinergi yang kuat antara guru dan orang tua.
Perwakilan wali murid, Yoppy Yunhasnawa, menyampaikan harapannya agar proses pendampingan terhadap anak-anak dapat berjalan secara optimal.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh bapak dan ibu guru yang akan mendampingi putra-putri kami. Semoga selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan amanah mulia ini. Kepada anak-anak kami, ikutilah dengan baik apa yang diarahkan oleh bapak dan ibu guru selama belajar di MIN 1 Kota Malang," ujarnya.
Sementara itu, Kepala MIN 1 Kota Malang Hj Siti Aisah SAg MPd menegaskan bahwa kepercayaan masyarakat menjadi amanah yang harus dijawab melalui pendidikan yang tidak hanya menghasilkan siswa berprestasi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
"Terima kasih atas kepercayaan ayah dan bunda kepada MIN 1 Kota Malang. Mudah-mudahan kami diberikan kemudahan oleh Allah SWT untuk mengemban amanah ini sebaik-baiknya," katanya.
Kepada peserta didik baru, ia mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan akan dimulai dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
"Anak-anakku yang hebat, hari ini kalian sudah menjadi keluarga besar MIN 1 Kota Malang. Kalian sudah besar, maka harus semakin rajin belajar, rajin beribadah, rajin salat, berdoa, dan mengaji."
Pesan tersebut kemudian dipertegas melalui tiga nilai utama yang terus diinternalisasikan kepada seluruh peserta didik, yakni membiasakan diri rajin belajar dan beribadah, menghormati guru serta orang tua, dan membangun kepedulian terhadap sesama teman.

Penguatan karakter itu berlanjut pada hari kedua melalui materi moderasi beragama berbasis Panca Cinta. Tema ini menjadi penting karena pendidikan toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman kini dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan karakter peserta didik sejak usia dini.
Alih-alih menggunakan metode ceramah, materi disampaikan melalui pendekatan yang lebih sesuai dengan dunia anak. Permainan edukatif, interaksi kelompok, media pohon karakter, hingga yel-yel bersama digunakan untuk mengenalkan nilai religius, sosial, intelektual, ekologis, personal, dan kebangsaan secara lebih mudah dipahami.
Kegiatan tersebut dipandu Ketua Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama Ning Rudloh Quds yang dikenal sebagai Bunda MODIS, bersama para agen moderasi dan kader moderasi MIN 1 Kota Malang.
Baca Juga : Optimalkan Potensi Zakat Camat Singojuruh Launching Gerakan Cinta ZakatĀ
Menurut dia, moderasi beragama bukan sekadar konsep yang dipahami secara teoritis, tetapi harus tumbuh menjadi sikap hidup yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.

"Alhamdulillah, murid-murid MIN 1 Kota Malang yang memasuki hari kedua Matamuda mendapatkan pembelajaran tentang moderasi beragama. Harapannya, sejak usia muda kalian tumbuh menjadi pribadi yang moderat. Moderat itu berada di jalan tengah, tidak berlebihan dan tidak meremehkan sesuatu. Tetap menjadi anak yang menyayangi orang tua dan mudah menolong sesama," tuturnya.
Melalui pendekatan tersebut, moderasi dikenalkan bukan dalam konteks perbedaan agama semata, melainkan sebagai kemampuan menghormati orang lain, menjaga lingkungan, membangun empati, serta menempatkan diri secara proporsional dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada hari ketiga, pembentukan karakter dilanjutkan melalui pengenalan budaya madrasah dan berbagai fasilitas yang akan digunakan peserta didik selama belajar. Mereka diperkenalkan dengan perpustakaan sebagai pusat literasi, laboratorium sebagai ruang pembelajaran berbasis praktik, Unit Kesehatan Sekolah sebagai layanan kesehatan dasar, hingga kantin sehat dan koperasi siswa yang menjadi media pembelajaran kedisiplinan serta kemandirian.
Di setiap titik, guru tidak sekadar menjelaskan fungsi ruangan, tetapi juga mengenalkan budaya yang menyertainya, mulai dari tata tertib, tanggung jawab menggunakan fasilitas bersama, budaya antre, hingga etika menjaga kebersihan lingkungan.

Nilai-nilai tersebut dipadukan dengan penguatan budaya literasi, madrasah digital, serta implementasi Panca-Cinta yang selama ini menjadi identitas MIN 1 Kota Malang.
Siti Aisah menegaskan bahwa orientasi pendidikan di madrasah tidak berhenti pada pencapaian akademik semata. Pembentukan karakter tetap menjadi prioritas agar peserta didik mampu tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kecerdasan sosial.
"MIN 1 Kota Malang tidak hanya membangun kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik yang religius, santun, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan siapa saja. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta melalui Panca-Cinta yang terus kami tanamkan kepada seluruh warga madrasah," ungkapnya.
Rangkaian Matamuda di MIN 1 Kota Malang memperlihatkan bagaimana masa orientasi dapat dikembangkan menjadi bagian dari strategi pendidikan karakter. Adaptasi lingkungan, penguatan moderasi beragama, pembiasaan budaya literasi, hingga pengenalan ekosistem belajar dipadukan dalam satu proses yang saling berkesinambungan. Dengan model tersebut, orientasi tidak lagi menjadi kegiatan seremonial di awal tahun ajaran, melainkan titik awal pembentukan budaya belajar dan karakter peserta didik yang diharapkan terus tumbuh sepanjang mereka berada di lingkungan madrasah.
