Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Waspada! Suhu Indonesia Tembus 38,6 Derajat Celsius, BMKG Ungkap Penyebabnya

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

29 - Jun - 2026, 12:07

Placeholder
Ilustrasi panas terik. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Cuaca panas mulai terasa di berbagai daerah di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat musim kemarau terus meluas, diikuti peningkatan suhu udara yang di sejumlah wilayah telah mencapai lebih dari 35 derajat Celsius. Bahkan, suhu tertinggi tercatat menyentuh 38,6 derajat Celsius di Papua Barat.

BMKG menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan menguatnya fenomena El Nino, yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal 2027 dan berpotensi menyebabkan musim kemarau menjadi lebih kering serta lebih panjang.

Baca Juga : Peringati Bulan Bung Karno, Donor Darah DPC PDI Perjuangan Banyuwangi Diserbu Warga

Kondisi ini tidak hanya membuat cuaca terasa lebih menyengat, tetapi juga meningkatkan risiko dehidrasi, kebakaran hutan dan lahan, serta terganggunya sektor pertanian akibat berkurangnya curah hujan. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi cuaca terbaru dari BMKG selama musim kemarau berlangsung.

Berdasarkan data BMKG, hingga akhir Juni 2026 sebanyak 37,6 persen wilayah Indonesia, atau sekitar 263 Zona Musim (ZOM), telah memasuki musim kemarau. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah seiring berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah.

Selama periode 22-24 Juni 2026, suhu udara maksimum di sejumlah daerah tercatat berada pada kisaran 35 hingga 35,5 derajat Celsius, terutama di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Sementara itu, suhu tertinggi mencapai 38,6 derajat Celsius berdasarkan hasil pengamatan Stasiun Meteorologi Rendani, Manokwari, Papua Barat, pada 21 Juni 2026.

Dalam analisis Dasarian III atau 10 hari terakhir Juni 2026, BMKG mencatat musim kemarau telah meluas ke sejumlah wilayah, di antaranya sebagian Sumatera Utara, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, serta sebagian Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, hingga Maluku.

Menurut BMKG, perluasan musim kemarau ini terjadi seiring perubahan dinamika atmosfer global.

"Perluasan musim kemarau ini sejalan dengan hasil pemantauan dinamika atmosfer pada skala global. Pada Dasarian II Juni 2026, anomali suhu permukaan laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61," tulis BMKG dalam laman resminya, dikutip Senin (29/6).

Nilai tersebut mengindikasikan bahwa fenomena El Nino telah berkembang. Dampaknya, curah hujan di berbagai wilayah Indonesia diperkirakan akan semakin berkurang sehingga kondisi kemarau menjadi lebih dominan.

BMKG memprakirakan dalam beberapa hari ke depan sejumlah wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan rendah, yakni kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Penurunan curah hujan diprediksi meliputi sebagian Pulau Sumatera, Banten, seluruh Nusa Tenggara Timur, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga berbagai wilayah di Papua.

Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa musim kemarau akan terus meluas dalam waktu dekat.

Baca Juga : Kerjakan Skripsi di Kamar Kos, Mahasiswi di Tulungagung Meninggal

BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Berdasarkan analisis awal Juni 2026, peluang El Nino berada pada kategori moderat mencapai 98 persen, sedangkan peluang kategori kuat mencapai 62 persen.

Meski demikian, dampak langsung terhadap Indonesia diperkirakan paling terasa selama musim kemarau hingga sekitar Oktober 2026.

Dalam informasi yang sebelumnya dibagikan melalui akun Instagram resminya, BMKG menjelaskan bahwa El Nino akan memengaruhi pola cuaca di berbagai belahan dunia.

Biro Meteorologi Australia juga menyatakan bahwa El Nino di kawasan Pasifik tropis telah terbentuk dan berpotensi berkembang menjadi salah satu yang terkuat dalam sekitar tujuh dekade pada paruh kedua 2026.

Akibatnya, sejumlah wilayah di Amerika diperkirakan mengalami curah hujan tinggi, sedangkan kawasan Asia, termasuk Indonesia, berpotensi menghadapi cuaca yang lebih panas dan kering. Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu sektor pertanian, meningkatkan risiko kekeringan, serta memengaruhi ketahanan pangan.

Para ilmuwan juga menilai dampak El Nino tahun ini berpotensi semakin kuat akibat pengaruh perubahan iklim global.

Cara Menghadapi Cuaca Panas Saat Musim Kemarau

Seiring meningkatnya suhu udara dan meluasnya musim kemarau, masyarakat diimbau untuk menerapkan sejumlah langkah pencegahan agar tetap sehat dan aman selama cuaca panas.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi, mengurangi aktivitas di luar ruangan pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB saat suhu biasanya berada di titik tertinggi, menggunakan topi, payung, atau pakaian yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan, serta tidak membakar sampah atau lahan karena dapat memicu kebakaran saat kondisi kering.

Selain itu, masyarakat juga disarankan rutin memantau informasi prakiraan cuaca yang dirilis BMKG agar dapat mengantisipasi potensi cuaca ekstrem maupun perkembangan musim kemarau di wilayah masing-masing.


Topik

Peristiwa Kemarau panas cuaca panas BMKG



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni