Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Dituding Dibiayai Pihak Tertentu, Sutradara Film Pesta Babi Buka Suara

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

21 - May - 2026, 10:09

Placeholder
Kolase foto Sutradara Pesta Babi Dandhy Laksono dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak. (Foto: tangkapan layar X)

JATIMTIMES - Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kembali jadi sorotan publik. Kali ini, sutradara Dandhy Laksono buka suara terkait tudingan adanya pendanaan pihak tertentu di balik produksi film tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Dandhy saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Tribun Pekanbaru, Erwin Adrian. Dalam percakapan tersebut, Dandhy menjelaskan proses pendanaan film dilakukan secara gotong royong oleh berbagai pihak yang terlibat dalam produksi.

Baca Juga : Konsep Street Food Jember Usung Nuansa Nusantara dan Dunia 

Awalnya, Dandhy sempat ditanya soal sumber pendanaan film dokumenter yang ramai diperbincangkan di media sosial itu.

"Kalau kita baca atau kita sering dengar, oh film itu butuh biaya besar, gimana caranya, sendiri ya?," tanya Erwin kepada Dandhy. 

"Pokoknya ada," jawab Dandhy. 

Ia mengaku sengaja tidak menjelaskan secara rinci alur pendanaan film tersebut. "Saya berhak tuh ngomong pokoknya ada, karena saya gak mempertanggungjawabkan pajak. Ya lebih bener kalau saya ngomong pokoknya ada," ujarnya.

Meski begitu, Dandhy menilai publik justru lebih penasaran terhadap gerakan sipil independen dibanding sumber dana politik atau kekuasaan. "Tapi orang justru lebih curious dengan inisiatif-inisiatif sipil seperti ini daripada dari mana sih duit capres untuk pemilu," katanya.

Ia kemudian menyinggung biaya politik yang menurutnya juga jarang dipertanyakan secara terbuka. "Dari mana sih duit parpol bisa bagi-bagi sembako, bisa bikin konser gede? Dari mana sih duit jenderal-jenderal polisi dan tentara ketika dia mau promosi jabatan?" lanjutnya.

Menurut Dandhy, dalam karya jurnalistik maupun dokumenter, sumber pendanaan memang penting untuk diumumkan ke publik agar masyarakat bisa menilai independensi sebuah karya.

"Di semua karya jurnalistik yang paling penting adalah mendeklarasi dari mana sumber beritanya, termasuk sumber pendanaan. Karena dari sana publik bisa menilai apakah ini karya yang independen atau tidak," jelasnya.

Ia mengatakan informasi soal pihak-pihak yang mendukung produksi film sebenarnya sudah dicantumkan secara terbuka di poster maupun kredit film. 

Untuk diketahui, di poster film dibubuhkan 6 logo. Di antaranya yaitu Ekspedisi Indonesia Baru, Jubi.id, Greenpeace, Yayasan Pusaka, Watch Doc dan LBH Papua Meraoke. 

"Di film Pesta Babi setelah judul Pesta Babi dan semua nama orangnya jelas, teman-teman bisa melihat logo-logo yang ada di poster film. Nah itulah para kolaborator," katanya.

Dandhy menjelaskan lembaga dan komunitas yang terlibat tidak memberikan dana besar dalam bentuk honor, melainkan bantuan alat, tenaga, hingga biaya operasional.

"Jadi itulah lembaga-lembaga yang patungan untuk membiayai film ini," ujarnya.

Baca Juga : Viral Audio Bocor di Paripurna DPR, Dasco Diduga Bilang “Jangan Teriak Hidup Jokowi”

Ia menyebut seluruh kru film bekerja tanpa bayaran demi menyelesaikan proyek dokumenter tersebut.

"Kami semua yang bekerja di situ, misalnya saya sebagai sutradara, Bang Cypri sutradara, para produser, para director of photography, videographer, itu gak ada yang dibayar," katanya.

Menurutnya, semua sponsor dan kolaborator bergotong royong untuk membuat film ini. "Misalnya Watchdoc itu lembaga kecil, dia gak punya duit. Dia menyumbang dalam bentuk kamera dan kameramen," lanjutnya.

Sementara pihak lain membantu kebutuhan perjalanan dan logistik selama produksi berlangsung. "Teman-teman yang punya duit, dia nyumbang transportnya, tapi gak ada honor," kata Dandhy.

Ia menegaskan proses produksi film dilakukan dengan semangat gotong royong dan urunan antarkomunitas. "Jadi kami semua benar-benar mengerjakan ini dengan gotong royong, dengan patungan, dan kami percaya bahwa usaha ini justru akan lebih membuat filmnya passionate," ujarnya.

Sebelumnya, film Pesta Babi sempat mendapat sorotan dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Maruli Simanjuntak. Jenderal Maruli mempertanyakan sumber pembiayaan produksi film tersebut.

"Sekarang permasalahannya, orang sampai membuat video, bagaimana ceritanya seperti ini segala macam, duitnya dari mana?" kata Maruli.

Ia juga menyinggung biaya perjalanan dan produksi yang dinilai tidak sedikit. "Sampai datang ke sana, bikin video, terbang sini terbang sana, orang berduitlah," katanya.

Saat ditanya awak media terkait kemungkinan adanya pihak tertentu yang mendanai film itu, Maruli tidak menjawab secara rinci. "Ya, silakan aja. Ya kan? Anda yang bilang ada yang mendanai ya," tuturnya.

Film Pesta Babi sendiri belakangan ini ramai dibicarakan setelah beberapa kali dibubarkan oleh pihak keamanan, baik pihak TNI maupun keamanan kampus. Adapun film ini mengangkat isu proyek strategis nasional di Papua dan dampaknya terhadap masyarakat adat serta lingkungan. Dokumenter tersebut diputar melalui skema nonton bareng komunitas di berbagai daerah Indonesia.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Film Dokumenter Pesta Babi sutradara pesta babi Cara Nonton Pesta Babi Syarat Nobar Pesta Babi



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni