JATIMTIMES - Rencana laga derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya Surabaya yang dijadwalkan berlangsung di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026 memantik penolakan keras dari kalangan mahasiswa.
Aliansi mahasiswa Universitas Brawijaya yang menamakan diri Amarah Brawijaya secara terbuka menyatakan sikap menolak pertandingan tersebut digelar di stadion yang menjadi lokasi tragedi 1 Oktober 2022.
Baca Juga : Bakal Diperiksa Polisi, Berikut Alasan Warga Buka Portal Bendungan Lahor
Dalam pernyataan resminya yang diunggah melalui akun Instagram resmi aliansi, pihaknya menilai penyelenggaraan laga di Kanjuruhan sebelum keadilan benar-benar ditegakkan justru berpotensi menormalisasi tragedi.
“Tanah di bawah Stadion Kanjuruhan belum kering. Di sanalah pada malam 1 Oktober 2022, negara menembakkan gas air mata ke arah manusia yang datang hanya untuk mencintai sepak bolanya,” ujar Amarah Brawijaya dalam pernyataan sikap resminya, dikutip Instagram Amarah Brawijaya, Senin (6/4/2026).
Aliansi itu mengingatkan tragedi tersebut merenggut lebih dari 135 nyawa dan hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban serta publik sepak bola nasional.
“Lebih dari 135 nyawa pergi. Bukan karena bencana alam, bukan karena takdir, tapi karena sebuah sistem yang menempatkan jadwal liga di atas keselamatan,” ujar mereka.
Menurut Amarah Brawijaya, keputusan menggelar laga panas Arema kontra Persebaya di Kanjuruhan berisiko menjadi bentuk penguburan ingatan kolektif atas tragedi yang pernah terjadi di stadion tersebut.
“Ini bukan pertandingan sepak bola. Ini adalah upaya modal untuk mengubur sejarah di bawah sorak tribun,” ujarnya. “Bukan dengan menghapus ingatan, tapi dengan menenggelamkannya dalam keramaian yang dijual seharga tiket,” tambah aliansi tersebut.
Pihak aliansi juga menyoroti dipilihnya laga derby Jatim sebagai pembuka di Kanjuruhan. Menurut aliansi, derby dipilih karena memiliki nilai komersial paling tinggi dalam industri sepak bola nasional. “Derby adalah komoditas paling laris dalam industri sepak bola Indonesia,” ujar Amarah Brawijaya.
“Rivalitas adalah mesin uang dan Kanjuruhan yang seharusnya menjadi situs duka, kini hendak difungsikan kembali sebagai mesin produksi nilai,” imbuhnya lagi.
Penolakan itu juga semakin menguat usai digelarnya acara sosialisasi dan penandatanganan nota kesepahaman menjaga stabilitas keamanan menjelang pertandingan Arema FC versus Persebaya di Pendapa Panji Kabupaten Malang, Minggu (5/4/2026).
Dalam surat bernomor 024/PRES-ARM/IV/2026, sejumlah pihak diundang, mulai dari panitia pelaksana, manajemen Arema FC, Presidium Arema Utas, unsur kepolisian, hingga kepala daerah di Malang Raya.
Namun, menurut Amarah Brawijaya, nota kesepahaman tersebut tidak menjawab pertanyaan utama, yakni apakah pertandingan tersebut layak digelar di Kanjuruhan. “Kesepahaman yang ditandatangani di atas ketidakadilan bukan kesepahaman. Ia adalah kesepakatan untuk melupakan,” ujar mereka.
Baca Juga : Madura United vs Borneo FC Malam Ini: Rekor Tuan Rumah Lagi Tak Bagus
Aliansi mahasiswa menilai fokus nota itu hanya sebatas pengamanan teknis pertandingan, bukan pada aspek moral dan kemanusiaan pascatragedi.
Dalam poin tuntutannya, Amarah Brawijaya secara tegas meminta PSSI, PT Liga Indonesia Baru, Pemerintah Kabupaten Malang, Polres Kabupaten Malang, dan DPRD Kabupaten Malang untuk membatalkan laga.
“Kami menolak dengan tegas penyelenggaraan laga Arema FC versus Persebaya di Stadion Kanjuruhan pada 28 April 2026,” ujar mereka.
“Pertandingan ini bukan pemulihan. Ia adalah pemakaman kedua atas 130 nyawa lebih,” ujar Amarah Brawijaya.
Pihaknya juga mengecam manajemen klub Arema yang dinilai menjadikan stadion sebagai aset komersial di atas tragedi kemanusiaan. “Memilih venue ini untuk derby adalah keputusan bisnis yang berdiri tegak di atas tulang-tulang korban,” ujarnya.
“Mereka tidak sedang memulihkan sepak bola, mereka sedang memodifikasi duka,” tambah aliansi itu.
Selain kepada otoritas sepak bola dan pemerintah, mahasiswa juga mengingatkan masyarakat luas agar tidak melupakan tragedi Kanjuruhan.
Aliansi juga menegaskan bahwa stadion tidak boleh kembali difungsikan sebagai arena pertandingan sebelum proses keadilan benar-benar tuntas.
“135 bukan angka, mereka adalah nama. Mereka adalah anak, ibu, bapak, saudara, dan kekasih yang pergi di malam yang seharusnya hanya menjadi malam sepak bola biasa,” ujar mereka. “Tidak ada pertandingan yang lebih penting dari keadilan,” tutup pernyataan Amarah Brawijaya.
