Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Tak Hanya Indonesia, Ini 9 Negara yang Punya Tradisi Mudik Saat Hari Raya

Penulis : Mutmainah J - Editor : Nurlayla Ratri

11 - Mar - 2026, 12:31

Placeholder
Ilustrasi mudik. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Tradisi mudik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran di Indonesia. Setiap tahun, jutaan orang rela menempuh perjalanan jauh dari kota tempat bekerja menuju kampung halaman demi satu tujuan yang sama, yakni berkumpul bersama keluarga tercinta.

Namun ternyata, kebiasaan pulang kampung saat hari raya bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara lain, masyarakat juga memiliki tradisi serupa ketika merayakan momen besar keagamaan maupun budaya, dengan cara dan sebutan yang berbeda-beda. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut negara yang juga melakukan mudik:

Baca Juga : Bupati Magetan Beri Angin Segar Jelang Idul Fitri: Stok Pangan Aman, Harga Disubsidi

1. Malaysia

Di Malaysia, tradisi mudik dikenal dengan istilah Balik Kampung. Kebiasaan ini biasanya mulai terasa sekitar satu minggu sebelum Hari Raya Idulfitri, yang oleh masyarakat setempat disebut Hari Raya Puasa.

Pada periode ini, masyarakat yang bekerja di kota-kota besar seperti Kuala Lumpur akan kembali ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Selain bersilaturahmi, mereka juga menikmati berbagai hidangan khas Hari Raya dan mempererat hubungan keluarga.

2. Turki

Di Turki, perayaan Idulfitri dikenal dengan nama Şeker Bayramı, yang berarti “Festival Gula”. Perayaan ini identik dengan tradisi berbagi permen dan makanan manis kepada keluarga serta tamu.

Menjelang hari raya, banyak warga Turki melakukan perjalanan ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Selain itu, masyarakat juga memiliki kebiasaan berziarah ke makam leluhur sebagai bentuk penghormatan. Menjelang hari raya, pasar bunga di berbagai kota biasanya dipenuhi pembeli.

3. Tiongkok

Tradisi pulang kampung terbesar di dunia terjadi di Tiongkok saat perayaan Tahun Baru Imlek. Fenomena ini dikenal sebagai Chunyun.

Selama periode tersebut, ratusan juta orang melakukan perjalanan pulang ke daerah asal untuk merayakan Imlek bersama keluarga. Lonjakan penumpang pada kereta api, pesawat, dan bus terjadi secara besar-besaran sehingga menjadikan Chunyun sebagai migrasi manusia tahunan terbesar di dunia.

4. Korea Selatan

Di Korea Selatan, tradisi mudik terjadi saat perayaan Chuseok, yang juga dikenal sebagai Hangawi. Festival panen ini berlangsung pada bulan kedelapan kalender lunar.

Pada momen ini, masyarakat Korea Selatan pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga, melakukan penghormatan kepada leluhur, serta mengunjungi makam keluarga. Mereka juga menikmati makanan tradisional seperti songpyeon, yaitu kue beras khas Chuseok.

5. Amerika Serikat

Di Amerika Serikat, tradisi pulang kampung paling terasa saat perayaan Thanksgiving pada akhir November.

Masyarakat biasanya melakukan perjalanan jauh untuk berkumpul bersama keluarga dan menikmati makan malam bersama, yang identik dengan hidangan kalkun panggang. Periode Thanksgiving dikenal sebagai salah satu musim perjalanan paling sibuk di Amerika Serikat karena meningkatnya mobilitas masyarakat.

6. India

Di India, tradisi pulang kampung terjadi dalam beberapa perayaan besar. Umat Muslim biasanya kembali ke kampung halaman saat Idulfitri untuk merayakan hari raya bersama keluarga.

Baca Juga : Transformasi Eks Hi-Tech Mal Jadi Pusat Komunitas, Wali Kota Eri Targetkan Basement Rampung Mei 2026  

Namun, arus perjalanan terbesar justru terjadi saat festival Diwali atau Deepavali, yang dikenal sebagai Festival Cahaya. Pada perayaan ini, masyarakat dari berbagai agama melakukan perjalanan pulang untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan festival secara meriah.

7. Bangladesh

Di Bangladesh, tradisi mudik menjelang Idulfitri dikenal dengan istilah Grame Fera, yang berarti “kembali ke desa”.

Menjelang Lebaran, jutaan warga yang bekerja di kota besar seperti Dhaka akan pulang ke kampung halaman. Kondisi ini menyebabkan lonjakan penumpang pada transportasi umum seperti kereta api, bus, dan kapal feri. Antrean tiket panjang serta kemacetan juga kerap terjadi selama periode ini.

8. Arab Saudi

Di Arab Saudi, tradisi pulang kampung tidak sebesar di Indonesia, tetapi tetap terjadi menjelang Idulfitri. Banyak pekerja di kota besar seperti Riyadh, Jeddah, dan Dammam melakukan perjalanan kembali ke daerah asal untuk bertemu keluarga.

Tradisi ini sering disebut sebagai ‘Awda ila ad-Diyar, yang berarti kembali ke kampung halaman. Meski demikian, sebagian besar keluarga di Arab Saudi juga merayakan Idulfitri dengan berkumpul di rumah masing-masing serta memperbanyak kegiatan sosial seperti berbagi zakat.

9. Mesir

Di Mesir, tradisi pulang kampung juga terjadi menjelang Idulfitri, meskipun skalanya tidak sebesar di Indonesia.

Masyarakat Mesir menyebut Idulfitri sebagai “hari raya kecil” dibandingkan dengan Iduladha. Namun banyak warga tetap pulang ke kampung halaman untuk berkumpul dengan keluarga, menunaikan salat Id, serta menikmati makanan khas seperti kahk, yaitu kue tradisional yang identik dengan perayaan Idulfitri.

Tradisi mudik pada dasarnya mencerminkan nilai yang sama di berbagai negara, yaitu keinginan untuk berkumpul dengan keluarga dan mempererat hubungan saat hari besar.

Meski istilah dan perayaannya berbeda-beda, semangat pulang ke rumah dan merayakan momen bersama orang terdekat ternyata menjadi tradisi yang juga dirasakan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia.


Topik

Serba Serbi tradisi mudik lebaran 2026



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Nurlayla Ratri