JATIMTIMES - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengakui bahwa Washington melancarkan serangan terhadap Iran setelah mengetahui Israel akan lebih dulu melakukan aksi militer. Pemerintah AS khawatir Teheran akan membalas dengan menargetkan pasukan Amerika yang berada di kawasan Timur Tengah.
Pengakuan tersebut, seperti dilansir Agence France-Presse (AFP), Selasa (3/3/2026), disampaikan Rubio kepada wartawan pada Senin (2/3) waktu setempat. Saat itu, ia tengah bersiap memberikan penjelasan kepada anggota parlemen AS terkait operasi militer terhadap Iran.
Baca Juga : Jurang Inflasi Jatim Tembus 2,41 Poin: Sumenep 6,37 Persen, Gresik 3,96 Persen
Rubio menjelaskan bahwa pemerintah AS sudah mengetahui rencana aksi militer Israel dan memperkirakan dampaknya. Menurutnya, jika Iran diserang, maka respons pertama Teheran kemungkinan besar akan menyasar pasukan Amerika di wilayah tersebut.
"Kita mengetahui bahwa akan ada aksi Israel. Kita mengetahui bahwa hal itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kita mengetahui jika kita tidak menyerang mereka terlebih dahulu sebelum mereka melancarkan serangan tersebut, kita akan menderita korban jiwa yang lebih tinggi," ujar Rubio.
Ia juga menyebut bahwa Iran telah memberi instruksi kepada komandan lapangan mereka untuk merespons secara otomatis jika terjadi serangan.
Menurut Rubio, keputusan Presiden Donald Trump untuk menyerang bersama Israel merupakan langkah pencegahan agar korban di pihak AS tidak lebih besar.
"Jika kita hanya berdiri dan menunggu serangan itu terjadi terlebih dahulu sebelum kita menyerang mereka, kita akan menderita korban jiwa yang jauh lebih tinggi," tegasnya.
Ketika ditanya apakah AS benar-benar menghadapi ancaman mendesak dari Iran isu penting karena secara konstitusional Kongres memiliki kewenangan menyatakan perang, Rubio kembali menyinggung rencana serangan Israel.
"Tentu saja ada ancaman mendesak, dan ancaman itu adalah kita mengetahui bahwa jika Iran diserang dan kita meyakini mereka akan diserang bahwa mereka akan segera menyerang kita," ujarnya.
Rubio menambahkan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam jika mengetahui risiko serangan lebih dulu terhadap pasukan Amerika. "Kita tidak akan tinggal diam dan menerima pukulan itu," katanya.
Pernyataan Rubio memicu respons dari sejumlah anggota parlemen. Salah satunya anggota DPR dari Partai Demokrat, Joaquin Castro, yang menilai komentar tersebut menunjukkan bahwa Israel telah menempatkan pasukan AS dalam bahaya dengan tetap bersikeras menyerang Iran.
Baca Juga : Anggaran Perpusnas 2026 Anjlok Jadi Rp 377 Miliar, Terendah dalam 5 Tahun Terakhir
"Ini tidak dapat diterima dari Presiden, dan tidak dapat diterima dari negara yang menyebut dirinya sekutu kita," tulis Castro melalui media sosial X.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan bahwa Israel adalah pihak yang melancarkan serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat penting lainnya. Serangan itu disebut terjadi setelah muncul intelijen mengenai pertemuan mereka di Teheran.
Meski demikian, Rubio menegaskan bahwa pemerintahan Trump memang meyakini operasi terhadap Iran pada akhirnya perlu dilakukan, terlepas dari waktu pelaksanaannya.
"Apa pun yang terjadi, pada akhirnya operasi ini perlu dilakukan," tegasnya.
Pernyataan para pejabat tinggi AS ini memperjelas bahwa keputusan militer diambil dengan pertimbangan pencegahan korban dan kalkulasi strategis. Namun di sisi lain, langkah tersebut membuka babak baru dalam ketegangan AS-Iran.
Eskalasi ini berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah, mengingat keberadaan pangkalan militer AS di berbagai negara kawasan dan aliansi yang saling terkait.
Dunia internasional kini mencermati apakah ketegangan ini akan berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas, atau justru mendorong kembali upaya diplomasi di tengah situasi yang semakin panas.
