JATIMTIMES - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak hingga berujung pada serangan militer bersama Israel pada awal 2026. Situasi ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Ada rangkaian negosiasi panjang yang kandas, saling tuding, hingga kegagalan mencapai kesepakatan strategis yang akhirnya memperkeruh hubungan kedua negara.
Berdasarkan perkembangan situasi hingga awal 2026, kemarahan Washington dipicu oleh sikap Teheran yang menolak sejumlah poin penting dalam kesepakatan nuklir baru yang diusulkan AS. Dilansir dari berbagai sumber, berikut sejumlah faktor utama yang membuat hubungan kedua negara semakin panas.
Baca Juga : Puasa dan Peradaban Islam, Prof Wildana: Ramadan Bukan Bulan Lemas, tapi Momentum Kebangkitan
1. Iran Tolak Pembekuan Pengayaan Uranium 60 Persen
Salah satu tuntutan utama AS dan negara-negara Barat adalah penghentian pengayaan uranium tingkat tinggi hingga 60 persen. Washington menilai angka tersebut sudah mendekati level yang bisa digunakan untuk pengembangan senjata nuklir.
Namun Iran menolak mentah-mentah permintaan tersebut. Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai dan tidak melanggar komitmen internasional. Penolakan ini menjadi salah satu titik krusial yang membuat negosiasi kembali buntu.
2. Proposal Nuklir Era Trump Ditolak
Dalam perundingan yang berlangsung sepanjang 2025 hingga awal 2026, pemerintahan Presiden Donald Trump mengajukan proposal baru. Isinya mencakup jaminan tegas bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, pembatasan program rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap kelompok-kelompok proksi di kawasan Timur Tengah.
Iran menilai tuntutan tersebut terlalu jauh dan melampaui kesepakatan nuklir sebelumnya. Teheran menolak memasukkan isu rudal balistik dan kebijakan regional ke dalam paket perjanjian nuklir, sehingga perundingan kembali menemui jalan buntu.
3. Ketidakpastian Pencabutan Sanksi Ekonomi
Masalah lain yang memperkeruh suasana adalah soal sanksi. Iran menegaskan tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun tanpa jaminan pencabutan total sanksi ekonomi dari AS.
Di sisi lain, Washington enggan memberikan jaminan tersebut tanpa kepatuhan penuh Iran terhadap seluruh tuntutan yang diajukan. Kebuntuan ini memperbesar ketidakpercayaan kedua pihak dan mempersempit ruang kompromi.
4. Pengabaian Peringatan Pasca-Serangan Juni 2025
Ketegangan sebenarnya sudah meningkat sejak serangan AS-Israel pada Juni 2025 yang menargetkan sejumlah fasilitas nuklir Iran. Setelah serangan itu, AS menuntut Iran tidak membangun kembali kemampuan nuklirnya.
Baca Juga : Luapan Sungai Kembali Menggenangi Permukiman di Mangliawan, Sebelumnya 61 Rumah Terdampak Banjir
Namun Iran justru melanjutkan aktivitas pengayaan uranium. Sikap ini dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap peringatan Washington. Sejak saat itu, hubungan kedua negara semakin memburuk dan mencapai puncaknya pada awal 2026.
AS Kembali Jalankan “Tekanan Maksimum”
Sebagai respons, Amerika Serikat menuduh Iran menyalahgunakan jalur mediasi dan tidak menunjukkan itikad baik dalam negosiasi. Pemerintah AS kemudian kembali menjalankan kebijakan “kampanye tekanan maksimum”, termasuk memperketat sanksi ekonomi dan melancarkan serangan terhadap sejumlah situs strategis Iran.
Langkah tersebut menandai fase baru dalam konflik AS-Iran yang semakin terbuka dan berisiko memicu eskalasi lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Situasi ini menunjukkan bahwa kegagalan diplomasi, ditambah ketidakpercayaan yang mendalam, bisa dengan cepat berubah menjadi konfrontasi militer. Hingga kini, ketegangan masih membayangi hubungan kedua negara dan dunia internasional terus mencermati perkembangan berikutnya.
