JATIMTIMES - Setiap bulan Ramadan, perdebatan soal kebiasaan tidur setelah sahur kembali ramai dibahas. Banyak orang merasa bersalah karena kembali tidur usai makan sahur dan salat Subuh. Kekhawatiran yang seringkali muncul salah satunya adalah takut berat badan naik selama puasa.
Anggapan bahwa tidur setelah sahur bikin gemuk memang terdengar masuk akal bagi sebagian orang. Logikanya, setelah makan lalu langsung tidur, makanan tidak sempat “dibakar” sehingga menumpuk menjadi lemak. Namun, apakah benar sesederhana itu?
Baca Juga : Ngabuburit di Rel Kereta Ancam Nyawa, KAI Daop 8 Surabaya Ingatkan Sanksi Pidana
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr Tirta, memberikan penjelasan yang lebih ilmiah terkait hal ini. Dalam tayangan di kanal YouTube dr Tirta yang dikutip pada Jumat (27/2), ia menegaskan bahwa tidur setelah sahur bukanlah penyebab langsung kenaikan berat badan.
Menurutnya, kegemukan tidak terjadi hanya karena satu kebiasaan sesaat, melainkan hasil dari proses keseimbangan energi dalam satu hari penuh.
“Tidur setelah sahur itu bikin gemuk? Sebenarnya bukan bikin gemuk. Jadi, seperti teman-teman tahu, kegemukan itu adalah suatu siklus proses dalam satu hari penuh ketika dibandingkan jumlah makanannya masuk dibandingkan dengan aktivitas yang keluar,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa berat badan naik ketika terjadi surplus kalori, yaitu kondisi saat jumlah kalori yang dikonsumsi lebih besar dibandingkan energi yang dibakar tubuh.
“Kalau misalkan jumlah kalorinya berlebih, otomatis dinamakan surplus kalori yang akan disimpan menjadi cadangan energi di perut atau di paha atau di lengan. Jadi, kegemukan itu tidak langsung saklek, tidur habis sahur gemuk. Nggak,” tambahnya.
Banyak orang justru mengalami kenaikan berat badan selama Ramadan, padahal waktu makan lebih terbatas. Hal ini biasanya terjadi karena pola makan yang berubah drastis.
Saat sahur, sebagian orang memilih makanan tinggi karbohidrat sederhana, gorengan, atau minuman manis agar merasa kenyang lebih lama. Begitu pula saat berbuka, konsumsi takjil manis dan makanan berlemak sering kali berlebihan. Jika kebiasaan ini berlangsung selama 30 hari tanpa diimbangi aktivitas fisik yang cukup, maka surplus kalori sulit dihindari.
Dalam kondisi tersebut, tidur setelah sahur bukanlah faktor utama. Penyebab sebenarnya adalah total asupan energi harian yang melebihi kebutuhan tubuh.
Secara sederhana, tubuh bekerja seperti sistem penyimpanan energi. Ketika energi yang masuk lebih banyak daripada yang digunakan, sisanya akan disimpan sebagai cadangan lemak. Proses ini bisa terjadi kapan saja, tidak peduli seseorang tidur atau tetap terjaga.
Meski tidak otomatis membuat gemuk, dr Tirta menyoroti dampak lain dari kebiasaan tidur kembali setelah sahur, yakni gangguan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh.
Ritme sirkadian adalah sistem alami yang mengatur siklus tidur dan bangun. Saat seseorang bangun dini hari untuk sahur, lalu kembali tidur setelah Subuh, tubuh bisa mengalami kebingungan dalam mengatur fase istirahat.
“Tidur habis sahur itu meningkatkan potensi risiko apa? Berantakannya sirkadian rhythm. Kenapa? Kalian sudah bangun ketika sahur terus sahur salat Subuh terus habis itu kalian tidur lagi. Otomatis tubuh tuh bingung ini tidurnya itu di fase apa,” katanya.
Gangguan ritme sirkadian dapat berdampak pada kualitas tidur, konsentrasi, hingga metabolisme jika berlangsung terus-menerus. Tubuh menjadi kurang sinkron antara waktu istirahat dan waktu aktif.
Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa pada waktu subuh kadar insulin dalam tubuh sedang tinggi. Kondisi ini membuat tubuh sebenarnya siap untuk beraktivitas.
Baca Juga : Cegah Bahan Berbahaya, Dinkes Kota Malang Lakukan Tes Sampel Takjil
“Kedua, ketika di fase subuh itu insulin kita sangat tinggi ya. Otomatis ketika insulin sangat tinggi itu energinya sangat bagus, sangat banyak. Jadi tubuh kita ready. Alangkah lebih baik ketika kalian malah justru memanfaatkan itu buat apa? Selain zikir, membaca atau bisa buat aktivitas atau push up pull up atau gym,” jelasnya lagi.
Artinya, waktu setelah sahur bisa dimanfaatkan untuk aktivitas ringan agar energi yang tersedia digunakan secara optimal.
Jadi, tidak semua orang memiliki jadwal yang sama. Ada yang harus bekerja pagi, ada pula yang masih memiliki waktu istirahat sebelum beraktivitas. Jika memang membutuhkan tidur tambahan agar tidak kelelahan sepanjang hari, hal itu tidak otomatis menyebabkan kegemukan.
Yang lebih penting adalah memperhatikan:
• Total kalori yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka
• Komposisi makanan (cukup protein, serat, dan karbohidrat kompleks)
• Tingkat aktivitas fisik harian
• Pola tidur yang tetap teratur
Selama asupan dan pengeluaran energi seimbang, berat badan cenderung stabil.
Kesimpulannya, mitos bahwa tidur setelah sahur langsung bikin gemuk tidak sepenuhnya benar. Berdasarkan penjelasan dr Tirta, kenaikan berat badan lebih dipengaruhi oleh surplus kalori dalam satu hari penuh, bukan karena langsung tidur setelah makan.
Jadi, daripada sekadar menyalahkan kebiasaan tidur usai sahur, lebih baik fokus pada pola makan yang terkontrol dan aktivitas yang cukup agar Ramadan tetap sehat dan berat badan tetap terjaga.
