JATIMTIMES - Menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadan tidak berarti menghentikan aktivitas fisik sepenuhnya. Di tengah perubahan pola makan dan waktu istirahat, masyarakat kerap mempertanyakan keamanan berolahraga, khususnya pada malam hari.
Menjawab hal tersebut, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Dr H.R.M. Hardadi Airlangga SpPD MH CMC, CCD, menyatakan bahwa olahraga malam saat puasa diperbolehkan dengan catatan dilakukan secara terukur.
Baca Juga : Ramalan Keuangan Zodiak 24 Februari 2026: Siapa Paling Beruntung Soal Uang Hari Ini?
Menurut dokter Hardadi, waktu malam setelah berbuka justru menjadi salah satu pilihan yang relatif aman untuk berolahraga karena tubuh telah kembali mendapatkan asupan cairan dan energi. Namun demikian, jenis dan durasi olahraga tetap harus diperhatikan.
“Olahraga malam itu bagus juga, tetapi tidak perlu terlalu lama dan tidak terlalu berat. Tubuh tetap membutuhkan waktu untuk istirahat dan pemulihan,” ujarnya.
Hardadi menekankan bahwa olahraga dengan intensitas tinggi, seperti latihan beban berat atau aktivitas fisik yang terlalu menguras energi, sebaiknya dihindari pada malam hari selama Ramadan. Sebagai gantinya, aktivitas ringan seperti stretching atau peregangan dinilai lebih aman dan bermanfaat untuk menjaga kebugaran tanpa mengganggu kualitas istirahat maupun ibadah malam.
Secara fisiologis, selama kurang lebih 14 jam berpuasa, tubuh tidak mendapatkan asupan cairan dan nutrisi. Oleh karena itu, pengaturan aktivitas fisik perlu mempertimbangkan risiko dehidrasi dan kelelahan. Bagi individu yang terbiasa berolahraga pagi, kegiatan tersebut tetap dapat dilakukan dengan penyesuaian intensitas.
“Kalau biasanya jogging dengan jarak dan kecepatan tertentu, saat puasa sebaiknya dikurangi. Dosisnya diturunkan sesuai kemampuan tubuh,” jelasnya.
Alternatif lain yang disarankan adalah memindahkan jadwal olahraga mendekati waktu berbuka. Dengan demikian, setelah selesai beraktivitas, tubuh dapat segera memperoleh cairan untuk menggantikan kehilangan cairan selama latihan.
Selain pengaturan olahraga, Hardadi juga mengingatkan pentingnya persiapan kesehatan menjelang Ramadan, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan dislipidemia. Konsultasi dengan dokter diperlukan untuk menyesuaikan jadwal dan dosis obat selama berpuasa.
“Bagi pasien diabetes, misalnya, obat yang biasa diminum pagi hari dapat disesuaikan menjadi saat berbuka. Saat takjil, dianjurkan berbuka dengan tiga buah kurma dan air putih, sekaligus minum obat sesuai anjuran dokter,” terangnya.
Baca Juga : Dinsos Jatim Jalin Sinergitas dengan Disdukcapil dan Bank Jatim untuk Penyaluran Bansos Tepat Sasaran
Dari sisi nutrisi, kebutuhan cairan menjadi perhatian utama. Ia merekomendasikan konsumsi air putih sebanyak 8 hingga 10 gelas per hari, yang dibagi secara bertahap dari waktu berbuka hingga sahur. Pola berbuka sebaiknya diawali dengan air dan kurma, kemudian memberi jeda sebelum mengonsumsi makanan utama agar tubuh beradaptasi setelah berpuasa seharian.
Asupan gizi seimbang yang terdiri dari sayur, buah, ikan, serta tambahan protein seperti telur dan susu juga dianjurkan untuk menjaga daya tahan tubuh. Khusus bagi usia lanjut, kebutuhan kalsium perlu diperhatikan untuk menjaga kesehatan tulang.
Lebih lanjut, Hardadi menegaskan bahwa puasa pada hakikatnya merupakan latihan pengendalian diri yang berdampak positif bagi kesehatan apabila dijalankan dengan pola yang tepat.
“Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga keseimbangan. Jika dijalankan dengan strategi yang benar, insyaallah memberikan manfaat fisik dan batin,” tutupnya.
Dengan demikian, olahraga malam saat puasa bukanlah hal yang dilarang. Selama dilakukan secara ringan, tidak berlebihan, dan tetap memperhatikan kondisi tubuh, aktivitas fisik justru dapat mendukung kebugaran selama Ramadan tanpa mengurangi kualitas ibadah.
