Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Viral! Tarawih 23 Rakaat Cuma 13 Menit di Blitar, Ini Sejarahnya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

25 - Feb - 2026, 15:40

Placeholder
Potret pelataran masjid pondok dipenuhi jemaah laki-laki. (Foto: TikTok @rizkioo2)

JATIMTIMES - Salat tarawih 23 rakaat biasanya memakan waktu hampir satu jam. Namun di Blitar, Jawa Timur, ada tradisi berbeda. Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam atau yang dikenal sebagai Pondok Mantenan, 23 rakaat tarawih bisa tuntas hanya dalam waktu sekitar 13 menit.

Tradisi ini bukan hal baru. Tarawih kilat tersebut sudah berlangsung sejak 1907 dan terus dipertahankan hingga sekarang. Setiap Ramadan, ratusan jemaah tetap setia mengikuti salat berjemaah dengan tempo super cepat itu.

Baca Juga : Rahasia Fadhilah Tarawih Malam ke 8 dan 9 Ramadan, Disebut Seperti Ibadah Para Nabi

Lalu, apa alasan di balik pelaksanaan tarawih yang terbilang singkat tersebut?

Pengasuh Ponpes Mambaul Hikam, KH Muhammad Dliya'uddin Azzamzami atau Gus Dliya’, menjelaskan bahwa tarawih cepat sudah ada sejak awal berdirinya pondok.

"Salat tarawih ini dimulai dari Mbah Yauqul Ghofur, sejak berdirinya pondok ini. Beliau yang mencetuskan Tarawih cepat ini," ungkap Gus Dliya’, dikutip detikjatim, Rabu (25/2/2026). 

Menurut Gus Dliya’, sang pendiri pondok, Mbah Yauqul Ghofur, memiliki pertimbangan khusus saat itu. Mayoritas warga sekitar merupakan mualaf serta pekerja, termasuk buruh tani, yang memiliki keterbatasan waktu di malam hari.

"Akhirnya beliau memutuskan untuk mencetuskan Tarawih cepat seperti ini sebagai solusi pada umat supaya tetap mau Tarawih. Sebenarnya dulu juga Tarawih normal tapi hanya bertahan seminggu, setelah itu tidak ada jamaah. Setelah Tarawih cepat banyak yang antusias," jelasnya.

Dari situlah tradisi ini mengakar dan terus dijalankan hingga lebih dari satu abad kemudian.

Durasi 13 menit untuk 23 rakaat tentu mengundang tanya. Namun Gus Dliya’ menegaskan, kecepatan bukan berarti mengurangi rukun maupun kesunahan salat.

Baca Juga : Ramai Isu Dana Zakat untuk MBG, Kiai Marzuki Mustamar: Mohon, Jangan Diteruskan!

"Ini yang perlu digaris bawahi, Tarawih di pondok mantenan ini meskipun cepat tidak mengurangi rukun dan tidak mengurangi kesunahan-kesunahan dalam salat. Standarnya biasanya 13 menit, kadang yang 15 menit. Tapi kalau imamnya pas muda bisa jadi lebih cepat lagi," katanya.

Ia memastikan seluruh bacaan, mulai dari Al-Fatihah hingga surat pendek, tetap dibaca. Hanya saja, tempo bacaan dan perpindahan gerakan dibuat lebih ringkas.

Tradisi ini masih diminati hingga kini. Setiap malam Ramadan, pelataran masjid pondok dipenuhi jemaah laki-laki, sementara jemaah perempuan menempati aula yang berada tak jauh dari masjid utama. Kendaraan bahkan kerap memenuhi gang-gang sekitar lokasi.

Jemaah tak hanya berasal dari Blitar, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Kediri dan Tulungagung. Salah satunya Mutiah (50), warga Sambi, Kediri, yang mengaku sudah lama mengikuti tarawih kilat di Pondok Mantenan.

"Sudah terbiasa cepat, karena sudah ikut salat di sini sejak lama sekali," tandas Mutiah.


Topik

Peristiwa Tarawih kilat pondok mantenan Blitar



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa