Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Penyesalan Tak Lagi Bermakna : Jerit Permohonan dari Para Kafir di Neraka

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : A Yahya

12 - Feb - 2026, 09:21

Placeholder
Ilustrasi orang-orang kafir yang menjerit memohon untuk dikeluarkan dari neraka (ist)

JATIMTIMES - Alquran tidak pernah menggambarkan akhirat dengan bahasa yang samar. Tentang surga, ia menghadirkan harapan. Tentang neraka, ia menghadirkan peringatan yang tajam. Dalam Surah Fatir ayat 36 sampai 37, Allah memotret satu adegan yang mengguncang: jeritan orang-orang kafir yang tak lagi punya jalan pulang.

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir” (QS Fatir: 36).

Baca Juga : 10 Ide Kado Valentine untuk Pria: Bermanfaat, Simpel dan Berkesan

Ayat ini menegaskan satu hal yang gamblang. Siksa itu terus berlangsung. Tidak ada jeda. Tidak ada keringanan. Bahkan kematian pun bukan solusi. Mereka tidak dimatikan untuk mengakhiri derita, dan azab itu tidak pula diperingan.

Dalam ayat berikutnya, suasana berubah menjadi lebih memilukan. Para penghuni neraka digambarkan berteriak memohon kesempatan kedua. “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan kebajikan yang berbeda dari apa yang telah kami kerjakan dahulu” (QS Fatir: 37).

Permintaan itu terdengar seperti janji yang tulus. Namun semuanya datang terlambat. Allah menjawab dengan pertanyaan yang menghentak, “Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu untuk dapat berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan telah datang kepadamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah, dan bagi orang-orang zalim tidak ada seorang penolong pun.”

Syekh Yasin Muhammad Yahya dalam kitab Min Wahyil Quran menjelaskan, dua ayat ini menggambarkan kesinambungan siksa yang tak terputus. Hukuman itu adalah balasan atas kekufuran yang mereka pilih sendiri ketika di dunia. Menurutnya, kematian yang disebut dalam ayat bukanlah akhir, melainkan perpindahan fase. Dari dunia ke alam kubur, lalu ke akhirat. Di setiap fase, azab telah menanti.

Penyesalan di neraka bukan sekadar rasa bersalah. Itu adalah kesadaran total yang datang setelah semua peluang tertutup. Ketika di dunia, umur dipanjangkan. Kesempatan berpikir dibuka. Peringatan dikirimkan. Namun semuanya diabaikan.

Baca Juga : Kisah Pengkhianatan yang Berujung Kebinasaan dari Seorang Istri Nabi

Istilah an nadzir dalam ayat tersebut ditafsirkan beragam oleh para ulama. Ada yang memaknainya sebagai para rasul yang diutus membawa risalah. Ada pula yang menafsirkannya sebagai Alquran itu sendiri, kitab yang berisi peringatan dan petunjuk hidup.

Pesan ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi refleksi keras tentang waktu. Hidup bukan ruang coba-coba tanpa batas. Ada masa di mana pilihan masih bisa diubah. Ada masa di mana pintu tobat masih terbuka. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Tirmidzi, “Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Dan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.” 


Topik

Agama Alquran kafir jeritan orang kafir Syekh Yasin Muhammad Yahya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

A Yahya

Agama

Artikel terkait di Agama