JATIMTIMES - Kemampuan membaca dan menafsirkan kitab kuning kembali diuji di Mahad Darul Hikmah MAN 1 Kota Malang. Melalui Lailah Qiro’atil Kutub Batch 4, santri kelas 12 dari jalur reguler non-takhosus dan non-MAPK mendapat ruang untuk menunjukkan sejauh mana pemahaman mereka terhadap literatur klasik Islam, bukan sekadar kemampuan membaca teks Arab gundul.
Sebanyak 11 santri mengikuti proses uji baca yang digelar belum lama ini, di Masjid Darul Hikmah. Dalam forum tersebut, para santri diminta membaca bagian kitab yang telah ditentukan, lalu menjelaskan makna dan konteksnya secara lisan di hadapan pengasuh dan asatidz.
Baca Juga : Bupati Sanusi Targetkan Seķolah Unggulan Merata di 33 Kecamatan di Kabupaten Malang
Situasi berlangsung sederhana, tanpa panggung atau seremoni berlebih, namun menuntut konsentrasi dan keberanian intelektual.
Berbeda dari batch sebelumnya yang melibatkan santri program Takhosus-MAPK, pelaksanaan kali ini secara khusus menyasar santri reguler. Langkah tersebut memberi tantangan yang sama, sekaligus membuka ruang evaluasi apakah santri di luar kelas khusus juga mampu mengakses dan memahami khazanah keilmuan klasik secara mandiri.
Mudir Mahad Darul Hikmah, Ustaz Syarifuddin, M.Pd., MA.TESOL, menyebut kegiatan ini sebagai cara melihat kesiapan santri menghadapi tradisi keilmuan pesantren secara utuh.
“Kami ingin melihat bagaimana santri membaca kitab, menangkap maksud penulisnya, lalu menyampaikannya dengan bahasa mereka sendiri. Di situ terlihat proses berpikirnya,” ujarnya.
Baca Juga : Perkuat Peran Guru sebagai Agen Kesehatan, FIP Unikama Gelar Pelatihan UKS/M
Menurutnya, kemampuan membaca kitab kuning tidak cukup berhenti pada kelancaran teknis. “Yang lebih penting adalah keberanian santri untuk memahami dan menjelaskan isi kitab. Ini melatih nalar, bukan sekadar hafalan,” kata dia.
Melalui Lailah Qiro’atil Kutub, Mahad Darul Hikmah memposisikan kitab klasik bukan sebagai simbol akademik, melainkan sebagai alat pembelajaran yang hidup. Santri tidak hanya diuji, tetapi juga diajak menyadari bahwa tradisi keilmuan Islam menuntut ketekunan, ketelitian, dan keberanian berpikir kritis sejak dini.
