Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Ponpes Tertua di Blitar Jadi Lokasi Syuting Film Pesantren dan Kemerdekaan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : A Yahya

07 - Jul - 2018, 03:05

Placeholder
Blitar TIMES bersama utusan Ponpes Tebu Ireng dan cucu pengasuh pondok Nurul Huda saat survey lokasi.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

 Pondok Pesantren Nurul Huda, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, menjadi lokasi syuting film Pesantren dan Kemerdekaan.

Film tersebut dibuat oleh santri-santri Ponpes Tebuireng, Jombang. Pondok pesantren legendaris yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari. Film tersebut akan menceritakan perjalanan keterlibatan para santri dan pesantren dalam perang kemerdekaan.

“Pesantren dan kemerdekaan sangat erat kaitannya. Karena pesantren memiliki sumbangsih luar biasa bagi kemerdekaan Indonesia,” ucap Mahathir Muhammad, utusan Ponpes Tebu Ireng yang pernah  memproduseri film dokumenter Manaqib Ulama Blitar saat bincang-bincang bersama BLITARTIMES di sela survey lokasi Ponpes Nurul Huda, Jumat (6/7/2018).

Film Pesantren dan Kemerdekaan akan mengambil syuting di tiga tempat di Kabupaten Blitar. Masing-masing Pondok Pesantren Nurul  Huda, Hutan Pinus Gogoniti di Desa Kemirigede Kecamatan Kesamben dan Pantai Serang. Rencana pengambilan gambar akan dilakukan  mulai tanggal 11-14 Juli 2018.

Pondok pesantren Nurul Huda adalah pondok pesantren pertama di Blitar didirikan oleh Syech Abu Hasan di tahun 1800an. Pondok tersebut hingga saat ini masih berdiri. Begitupun jejak Abu Hasan di tempat tersebut masih bisa ditemui, seperti rumah kediaman Syech Abu Hasan dan pondok model zaman dulu yang berbentuk angkringan.

“Kita pilih Ponpes Nurul Huda selain karena sejarahnya, di tempat ini masih ada bangunan kuno berbentuk angkringan bambu yang digunakan santri untuk mondok. Dan kedua pondok ini punya energi yang beda, karena disini masih terdapat rumah dan makam pendirinya. Spirit perjuangan masih sangat terasa, karena dahulu disini juga menjadi markas pejuang-pejuang prajurit Pangeran Diponegoro,” terangnya.

Puncak kejayaan pondok ini terjadi pada masa penjajahan Jepang. Selain santrinya banyak, pada masa itu santri Ponpes Nurul Huda banyak yang ikut terlibat dalam perang kemerdekaan.

Selain itu, cucu Syech Abu Hasan yakni Kyai Mansyur dari Kalipucung dikenal sebagai tokoh yang mengijazahi bambu runcing perang 10 November di Surabaya. "Film ini harus kita apresiasi karena dibuat oleh anak-anak pesantren. Mulai dari kameraman, aktor hingga produksinya. Insyallah ada sekitar 20 anak yang terlibat dalam film ini," tuturnya lagi.

Rencananya film ini akan menampilkan Arumi Bachsin, artis ibukota yang juga istri dari Bupati Trenggalek dan Wagub Jatim terpilih Emil Elestianto Dardak. Ditanya soal peran yang akan dilakoni Arumi dalam film itu, Mahathir enggan menerangkan lebih dalam.“Nanti ditunggu aja, terkait Arumi menjadi apa biar semuanya penasaran,” tuntasnya.

Sementara itu pendiri Co. Produser Rumah Produksi Tebuireng, Ustad Amin Zen menjelaskan selain di Blitar lokasi utama syuting film ini berlokasi di Keras, Jombang.  Lokasi ini dinilai memiliki nilai sejarah yang tinggi.

"Dusun Keras ini adalah saksi mata perjuangan Kiai Asy'ari dan putranya Hadrtussyaikh KH M Hasyim Asyari dalam dakwah Islam dan sebagai cikal bakal lahirnya Pesantren Tebuireng. Pesantren merupakan lembaga yang punya sejarah panjang dalam perjuangan bangsa dan negara ini. Seluruh artis diambil dari santri Tebuireng dan Mahasiswa Unhasy. Kami berterima kasih kepasa Mbak Arumi Bahsin yang bersedia ikut main dalam film ini,".

Di era milenial sekarang ini,  di mana sosial media dan perkembangan teknologi informasi begitu masif dan digandrungi banyak orang, santri dituntut untuk kreatif dalam mendakwahkan Islam. Pesantren Tebuireng ingin ikut ambil bagian dalam peran ini, salah satunya dengan mendirikan Rumah Produksi Tebuireng.

“Rumah produksi ini didirikan atas perintah pengasuh KH. Salahuddin Wahid langsung untuk mengembangkan minat dan bakat santri sekaligus dakwah Islam,” ungkap Co. Produser Rumah Produksi Tebuireng, Ustadz Amin Zen.

Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menjelaskan bahwa sudah saatnya pesantren ikut andil dalam dakwah via teknologi informasi. Seperti memproduksi film dan video. Gus Kikin menjelaskan tentang beberapa fase pergeseran fungsi media.

“Media, dalam hal ini televisi dan film, pada awalnya memang menjadi sarana hiburan. Kemudian, bergeser menjadi sarana untuk memperkenalkan budaya. Setelah itu, media berfungsi untuk mempengarui budaya bangsa lain. Sampai pada 2008, muncul vudeo streaming berkenaan dengan munculnya gadget,” kata Gus Kikin.


Topik

Peristiwa berita-blitar Ponpes-Tertua-di-Blitar Pondok-Pesantren-Nurul-Huda



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa