Cuaca Ekstrem Diprediksi Berlangsung Sampai 2 Februari 2026: Ini Wilayah yang Perlu Waspada

Reporter

Mutmainah J

28 - Jan - 2026, 02:52

Ilustrasi cuaca ekstrem. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Langit Indonesia belum benar-benar bersahabat di penghujung Januari ini. Hujan turun hampir setiap hari di banyak daerah, kadang hanya gerimis, tapi tak jarang berubah menjadi deras disertai petir dan angin kencang. Situasi ini bukan sekadar cuaca biasa. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya potensi cuaca ekstrem yang masih akan berlanjut hingga 2 Februari 2026, dengan dampak yang bisa mengganggu aktivitas harian masyarakat hingga memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah.

Berdasarkan keterangan resmi BMKG, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat berpotensi terjadi di banyak daerah di Indonesia. Kondisi ini bahkan bisa disertai kilat atau petir serta angin kencang, yang meningkatkan risiko kerusakan dan bencana.

Baca Juga : Pembagian Becak Listrik Dinilai Tidak Tepat Sasaran, Koordinator GSN Situbondo Buka Suara

"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang dapat terjadi," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani dalam keterangannya, dikutip Rabu (28/1/2026).

Penyebab Cuaca Ekstrem Masih Bertahan

Cuaca ekstrem yang terjadi saat ini tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah faktor atmosfer yang memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia, antara lain:

• Monsun Asia yang menguat, membawa massa udara basah ke wilayah Indonesia

• Pertemuan angin (konvergensi) di sejumlah perairan Indonesia yang memicu pertumbuhan awan hujan

• Kondisi atmosfer yang labil, membuat awan hujan mudah tumbuh menjadi awan badai

Kombinasi faktor-faktor ini membuat curah hujan meningkat di berbagai daerah, terutama pada sore hingga malam hari.

Wilayah yang Perlu Meningkatkan Kewaspadaan

BMKG telah mencatat sejumlah wilayah di Indonesia yang diprediksi akan mengalami hujan sedang sampai lebat hingga 2 Februari 2026. Wilayah yang perlu waspada meliputi:

Sumatera

• Sumatera Barat

• Jambi

• Sumatera Selatan

• Kepulauan Bangka Belitung

• Bengkulu

• Lampung

Jabodetabek dan Pulau Jawa

• Banten

• DKI Jakarta

• Jawa Barat

• Jawa Tengah

• Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

• Jawa Timur

• Bali dan Nusa Tenggara

• Bali

• Nusa Tenggara Barat (NTB)

• Nusa Tenggara Timur (NTT)

Kalimantan

• Kalimantan Barat

• Kalimantan Tengah

• Kalimantan Timur

• Kalimantan Utara

• Kalimantan Selatan

Sulawesi

• Sulawesi Utara

• Gorontalo

• Sulawesi Tengah

• Sulawesi Barat

• Sulawesi Selatan

Maluku & Papua

• Maluku Utara

• Papua Barat Daya

• Papua Tengah

• Papua Pegunungan

BMKG mencatat hujan dengan intensitas tinggi sangat mungkin terjadi secara bergantian di wilayah-wilayah tersebut hingga awal Februari 2026.

Dampak yang Berpotensi Terjadi

Cuaca ekstrem bisa memicu berbagai dampak yang perlu diwaspadai masyarakat:

Banjir dan Genangan

Baca Juga : Tanah Warisan Muncul Sertifikat Atas Nama Orang Lain, Warga Ajung Laporkan Juragan Pasir ke Polisi

Hujan lebat dalam waktu singkat bisa membuat sungai meluap dan menggenangi permukiman, terutama di dataran rendah.

Tanah Longsor

Daerah perbukitan atau lereng dengan kondisi tanah labil sangat rentan longsor saat curah hujan tinggi.

Angin Kencang dan Petir

Angin kencang dapat merusak atap rumah atau menumbangkan pohon. Sementara petir berisiko bagi warga yang beraktivitas di ruang terbuka.

Dengan begitu banyaknya risiko yang ditimbulkan, BMKG mengimbau masyarakat agar tidak panik, namun tetap siaga dengan langkah antisipasi seperti:

- Rutin memantau informasi cuaca terbaru dari kanal resmi BMKG

- Membersihkan saluran air di sekitar rumah

- Menghindari berteduh di bawah pohon saat hujan petir

- Waspada saat berkendara ketika hujan deras

- Menyiapkan perlengkapan darurat di daerah rawan banjir atau longsor.

Cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga 2 Februari 2026 di banyak wilayah Indonesia. Hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang dapat memicu banjir, longsor, serta gangguan aktivitas masyarakat. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk meminimalkan risiko.