Profil Ali Khamenei, Ulama Revolusioner yang Tewas dalam Serangan AS-Israel di Teheran
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Yunan Helmy
01 - Mar - 2026, 01:03
JATIMTIMES - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei diumumkan tewas dalam serangan militer yang diklaim dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026). Kabar ini dikonfirmasi media pemerintah Iran setelah sebelumnya sempat dibantah.
Bagi Iran, Khamenei adalah figur sentral Republik Islam yang memegang otoritas tertinggi dalam politik, militer, hingga keagamaan selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga : Pangeran Dodol dan Senjakala Kedaulatan Ponorogo
Dilansir Al Jazeera dan laman resmi Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra kedua Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama sederhana yang dikenal hidup bersahaja.
Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan agama. Ia belajar alfabet dan Al-Qur’an di maktab, sekolah dasar tradisional pada masanya, lalu melanjutkan ke sekolah Islam sebelum akhirnya masuk seminari teologi di Mashhad.
Di sekolah agama Soleiman Khan dan Nawwab, ia mendalami logika, filsafat, serta yurisprudensi Islam di bawah bimbingan ayahnya dan sejumlah ulama terkemuka.
Semasa remaja, Khamenei disebut terpengaruh pidato berapi-api Nawwab Safavi yang lantang mengkritik kebijakan Shah Iran yang dianggap anti-Islam dan pro-Barat.
Pada 1962, Khamenei bergabung dalam gerakan revolusioner yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini untuk menentang rezim Shah yang dinilai pro-Amerika.
Selama 16 tahun, ia aktif bergerak di bawah tanah hingga rezim Shah runtuh pada 1979. Dalam periode itu, Khamenei berkali-kali ditangkap dan dipenjara. Ia pernah ditahan di Penjara Gabungan Polisi-SAVAK di Teheran selama berbulan-bulan serta diasingkan selama tiga tahun akibat aktivitas politiknya.
Setelah bebas, ia tetap terlibat dalam demonstrasi dan aktivitas politik-keagamaan yang memperkuat gelombang Revolusi Islam.
Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei menjabat presiden Iran pada era perang Iran-Irak di dekade 1980-an. Konflik panjang melawan Irak, yang saat itu dipimpin Saddam Hussein dan didukung banyak negara Barat, membentuk sikap keras Khamenei terhadap Barat, khususnya Amerika Serikat.
Baca Juga : Dubai Airport Diserang Usai Serangan Balasan Iran, Penerbangan Lumpuh Total
Pada 1989, setelah wafatnya Ayatollah Khomeini, Khamenei diangkat sebagai pemimpin tertinggi Iran. Sejak saat itu, ia menjadi figur paling berpengaruh di negara tersebut, mengendalikan arah kebijakan dalam dan luar negeri, serta membentuk struktur militer dan paramiliter Iran.
Di bawah kepemimpinannya, Iran memperluas pengaruh di Timur Tengah dan dikenal sebagai kekuatan anti-AS paling vokal di kawasan.
Kematian Khamenei pertama diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump. "Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," kata Trump di jaringan media Social Truth miliknya, dilansir AFP, Minggu (1/3/2026).
Serangan yang terjadi Sabtu (28/2) disebut menyasar kompleks kediaman Khamenei di Teheran. Puluhan bom dilaporkan dijatuhkan. Media Iran juga menyebut putri hingga cucu Khamenei turut menjadi korban.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, kemudian memastikan kabar tersebut. "Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid," demikian dilaporkan stasiun penyiaran negara itu, dikutip CNN.
Kantor berita Tasnim dan Fars juga mengonfirmasi kematian Khamenei. Pemerintah Iran langsung menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan meliburkan kegiatan publik selama tujuh hari.
