Ada Metode Hisab dan Rukyat, Kemenag Pakai yang Mana untuk Tentukan Awal Ramadan 2026? Ini Jawabannya

12 - Feb - 2026, 04:37

Ilustrasi puasa. (Foto dari Pixabay)

JATIMTIMES - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi, publik kembali menantikan kepastian tanggal dimulainya puasa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, penetapan awal Ramadan di Indonesia dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag).

Lantas, di tengah perbedaan metode yang berkembang di masyarakat antara hisab dan rukyat metode mana yang digunakan Kemenag?

Baca Juga : Hampir Sebulan Ditahan, Kondisi Kejiwaan Yai Mim Disebut Masih Belum Stabil

Sidang Isbat Jadi Penentu Resmi

Kementerian Agama akan menggelar Sidang Isbat untuk menetapkan awal Ramadan 1447 H pada 17 Februari 2026. Sidang ini menjadi forum resmi pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat Islam, para ahli falak (astronomi Islam), BMKG, BRIN, hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sidang Isbat tidak sekadar menjadi ajang pengumuman, melainkan proses musyawarah nasional yang mempertimbangkan data ilmiah dan laporan lapangan sebelum menetapkan 1 Ramadan secara resmi untuk seluruh Indonesia.

Kemenag Gunakan Integrasi Hisab dan Rukyat

Dalam menentukan awal Ramadan, Kemenag tidak hanya menggunakan satu metode. Pemerintah menerapkan pendekatan integratif, yakni menggabungkan metode hisab dan rukyat.

1. Hisab (Perhitungan Astronomi)

Hisab adalah metode perhitungan posisi bulan secara astronomis. Melalui data ilmiah, para ahli dapat mengetahui kapan terjadi ijtimak (konjungsi) serta menghitung ketinggian dan posisi hilal saat matahari terbenam. Data hisab menjadi dasar awal dalam memprediksi kemungkinan terlihatnya hilal.

2. Rukyat (Pengamatan Hilal)

Selain perhitungan, Kemenag juga melakukan rukyatul hilal atau pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama setelah matahari terbenam. Pengamatan dilakukan di berbagai titik strategis di seluruh Indonesia. Hasil rukyat inilah yang kemudian dilaporkan dan dibahas dalam Sidang Isbat.

Keputusan akhir diambil setelah mempertimbangkan kedua data tersebut.

Mengapa Harus Digabung?

Pendekatan gabungan ini dipilih untuk mengakomodasi aspek ilmiah sekaligus tradisi keagamaan. Hisab memberikan kepastian secara matematis dan astronomis, sementara rukyat menjadi verifikasi langsung sesuai praktik yang telah berlangsung sejak masa awal Islam.

Dengan integrasi ini, pemerintah berupaya menghadirkan keputusan yang komprehensif dan dapat diterima oleh berbagai kalangan umat Islam di Indonesia.

Potensi Perbedaan dengan Ormas Lain

Perlu diketahui, beberapa organisasi Islam memiliki metode penetapan sendiri. Misalnya, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal dan telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026 tanpa menunggu hasil rukyat.

Perbedaan ini wajar terjadi karena dasar metodologi yang digunakan memang berbeda. Namun, keputusan pemerintah melalui Sidang Isbat tetap menjadi acuan resmi secara nasional.

Perkiraan Jadwal Awal Puasa Ramadan 2026

Sambil menunggu keputusan resmi dari Sidang Isbat, sejumlah lembaga dan organisasi di Indonesia sudah mengeluarkan prediksi atau penetapan awal Ramadan 1447 H berdasarkan pendekatan masing-masing:

Muhammadiyah

Baca Juga : Mudik Jasa Raharja 2026 Dibuka! Cek Link Daftar, Cara Registrasi hingga Daftar Rutenya

Muhammadiyah melalui Maklumat Pimpinan Pusat telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Penetapan ini menggunakan hisab hakiki wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal tanpa menunggu rukyat lokal.

Pemerintah (Kemenag)

Berdasarkan kombinasi hisab dan rukyat serta prediksi kalender hijriah nasional, pemerintah memperkirakan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Hal ini mengacu pada data posisi hilal yang diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas lokal pada 17 Februari sehingga kemungkinan awal Ramadan jatuh satu hari setelahnya.

Nahdlatul Ulama (NU)

NU juga menggunakan pendekatan rukyat yang dikombinasikan dengan hisab (kriteria Imkanur Rukyah), sehingga prediksi awal Ramadan NU sejauh ini sejalan dengan perkiraan pemerintah, yakni Kamis, 19 Februari 2026, meski keputusan pasti akan diumumkan setelah rukyat hilal dan Sidang Isbat.

BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)

Pakar astronomi dari BRIN memprediksi bahwa posisi hilal pada 17 Februari 2026 akan masih di bawah ufuk, sehingga hilal tidak mungkin terlihat dan awal Ramadan kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 juga.

Untuk menentukan awal Ramadan 2026, Kementerian Agama menggunakan metode integrasi hisab dan rukyat yang diputuskan melalui Sidang Isbat pada 17 Februari 2026. Keputusan tersebut akan menjadi penetapan resmi pemerintah mengenai kapan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa.

Dengan pendekatan ini, Kemenag berupaya menjaga keseimbangan antara perhitungan ilmiah dan pengamatan langsung, sekaligus mengedepankan musyawarah dalam menetapkan awal bulan suci Ramadan.