Dialog Abu Yazid dan Seekor Anjing, Pelajaran Kerendahan Hati dari Makhluk yang Dipandang Hina
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
07 - Feb - 2026, 10:52
JATIMTIMES - Sebuah kisah sufistik klasik mengajarkan bahwa kebersihan sejati tidak selalu tampak pada lahiriah. Dialog batin antara Abu Yazid al Busthami dan seekor anjing justru membuka tabir tentang kesombongan tersembunyi dalam diri manusia, serta cara Allah menegur hamba-Nya melalui jalan yang tidak pernah disangka.
Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Surusyan al Busthami merupakan tokoh besar tasawuf yang hidup pada abad ke 9 Masehi. Ia dikenal sebagai sufi yang keras mendidik jiwanya sendiri. Kisah-kisah laku spiritualnya dihimpun oleh Fariduddin Attar, ulama dan sufi Persia abad ke 12, dalam kitab Tadzkiratul Auliya yang hingga kini menjadi rujukan utama literatur tasawuf klasik.
Baca Juga : 4 Drama Korea Ringan yang Cocok Ditonton Saat Butuh Hiburan Tanpa Ribet
Dalam salah satu riwayat, diceritakan Abu Yazid tengah berjalan menyusuri sebuah jalan sunyi. Seekor anjing tiba-tiba berlari di sampingnya. Melihat itu, Abu Yazid secara refleks mengangkat jubahnya. Sikap spontan tersebut justru menjadi awal teguran batin yang mendalam.
Dalam kisah simbolik itu, sang anjing seakan berkata bahwa tubuhnya kering dan tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika ia basah, najisnya dapat disucikan dengan air yang dicampur tanah sebagaimana tuntunan syariat. Namun apabila Abu Yazid menyingsingkan jubah karena rasa tinggi diri sebagai seorang Parsi, maka kotoran batin itu tidak akan bersih meski dibasuh dengan tujuh samudera.
Ucapan tersebut mengguncang kesadaran Abu Yazid. Ia pun menjawab dengan jujur bahwa sang anjing memang kotor secara lahiriah, sementara dirinya kotor secara batiniah. Ia mengajak agar keduanya sama-sama berusaha menjadi bersih.
Namun anjing itu menolak ajakan tersebut. Alasannya sederhana namun menyayat. Semua orang menolak kehadirannya dan melemparinya batu, sementara Abu Yazid disambut dan dimuliakan sebagai raja di antara para sufi. Anjing itu tidak pernah menyimpan sepotong tulang untuk hari esok, sedangkan Abu Yazid masih memiliki sekarung gandum sebagai bekal masa depan.
Perbandingan itu menyentak Abu Yazid. Ia pun berkata bahwa dirinya tidak pantas berjalan bersama seekor anjing. Jika demikian, bagaimana mungkin ia merasa pantas berjalan bersama Tuhan Yang Maha Abadi dan Maha Kekal. Ia lalu mengakui bahwa Allah telah memberi pengajaran kepada makhluk-Nya yang termulia melalui makhluk yang selama ini dipandang paling hina.
Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah bahwa ukuran kemuliaan tidak terletak pada simbol lahiriah, melainkan pada kualitas batin. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa,” (QS. Al Hujurat: 13).
Riwayat lain menguatkan pesan itu. Pada suatu hari, Abu Yazid berjalan bersama beberapa muridnya melewati jalan yang sangat sempit. Dari arah berlawanan datang seekor anjing. Tanpa ragu, Abu Yazid menyingkir ke tepi jalan untuk memberi jalan kepada binatang tersebut.
Baca Juga : Zodiak Hari Ini Lagi Panas! 7 Februari 2026 Bawa Peluang Besar dan Drama Emosi
Salah seorang murid merasa heran. Ia mempertanyakan sikap itu, mengingat Allah telah memuliakan manusia di atas seluruh makhluk-Nya dan Abu Yazid dikenal memiliki kedudukan spiritual yang tinggi. Menurutnya, perbuatan tersebut terasa tidak pantas.
Abu Yazid menjawab dengan tenang. Ia mengatakan bahwa anjing tadi seakan berbicara kepadanya secara diam-diam. Pertanyaan itu sederhana namun mengguncang, dosa apa yang telah dilakukan sang anjing hingga terlahir dalam rupa anjing, dan pahala apa yang dimiliki Abu Yazid hingga mengenakan jubah kehormatan sebagai pemimpin para sufi.
Pertanyaan batin itulah yang membuat Abu Yazid memilih untuk menyingkir dan memberi jalan.
Sikap tersebut sejalan dengan peringatan Rasulullah SAW tentang bahaya kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi,” (HR. Muslim). Dalam hadis lain, Rasulullah menegaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan pihak lain.
Dalam tradisi tasawuf, kisah Abu Yazid bukan sekadar cerita simbolik. Ia menjadi cermin bagi manusia agar tidak terjebak pada kesalehan lahiriah dan pengakuan sosial. Sebab Allah tidak menilai rupa dan kedudukan, melainkan hati dan amal perbuatan manusia.
