KH.Imam Bukhori Jatinom Blitar, Ulama Sufi dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan Indonesia
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
A Yahya
30 - Jan - 2019, 03:08
Menelusuri Jejak Peradaban Islam di Blitar (4)
Samsuri adalah nama jawanya, KH. Imam Bukhori atau sekarang banyak dikenal dengan nama Mbah Bestir. Beliau merupakan tokoh sufi dan pejuang pendiri Pondok Pesantren Maftahul Ulum Jatinom Blitar. Ayahnya adalah ulama ternama di masa pemerintahan Hamengkubuwono III, ia bernama Muhammad Kahfi Ats Tsani. KH. Imam Bukhori dilahirkan di Kaligintung, Yogyakarta pada tahun ± 1823. Kaligintung dalam hirarki merupakan wilayah Negara Agung atau wilayah induk yang langsung dipimpin oleh Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Imam Bukhori kecil atau Samsuri lahir pada masa-masa memanasnya kondisi politik di Jawa, khususunya mataram (Yogyakarta dan Surakarta). Kebijakan politik Kolonial Belanda yang waktu itu banyak menekan kehidupan rakyat dan kesultanan Yogyakarta menjadi api pemicu konflik besar pada tahun 1825 yang kita kenal dengan sebutan Perang Jawa atau Perang Diponegoro.
Dimasa itulah samsuri kecil tumbuh dan melewati masa kanak-kanaknya. Dimana-mana para santri dan Kiai, termasuk ayahandanya ikut terjun ke medan peperangan. Setiap hari ia mendengar kata-kata ‘jihad’, ‘perang sabil’ dan kata-kata peperangan lainnya.
Dalam situasi seperti ini Samsuri kecil dididik dan ditanamkan benih-benih keimanan dan keislaman oleh ayahnya. Kiai Kahfi banyak mengajari Samsuri tentang watak dan sikap hidup khas keluarga Alawiyyin, yaitu sikap-sikap hidup yang berani, tegas, dan pantang menyerah.
Seperti keluarga ulama pada umumnya, KH. Imam Buhori selain banyak belajar ilmu agama dari ayahnya, beliau juga mondok di beberapa ulama besar. Meskipun kurang diketahui dimana beliau menimba ilmu, yang pasti KH. Imam Bukori merupakan tipe orang yang haus ilmu pengetahuan. Terbukti saat remaja beliau mengembara ke Mancanegara wetan (sebutan orang Mataram untuk daerah Jawa Timur).
“Mbah Kiai ini menurut sejarah masih berkerabat dekat dengan keraton Yogyakarta. Karena ya memang kabarnya masih dekat dengan keraton, ilmu agama yang dipelajarinya masih murni dari kitab-kitab para ulama terdahulu,” ungkap Sunawan, ketua santri di Pondok Maftahul Ulum, Senin (28/1/2019).
Tidak diketahui secara pasti, pada usia berapa dan dengan siapa beliau menikah saat di Yogyakarta. Namun beberapa riwayat mengatakan beliau pernah menikah di sana dan berakhir dengan perceraian.
Hingga kemudian beliau kemudian mengembara ke arah timur untuk memperdalam ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Di antara guru dan murid beliau (dikatakan demikian karena keduanya saling belajar satu sama lain) yaitu Kiai Zaid dari Njalen, Ponorogo. Selain itu, beliau juga berguru pada pendiri Pesantren Keling atau RIngin Agung Pare, bernama Raden Sekepuh atau dikenal dengan nama Kiai Nawawi, beliau adalah seorang priyayi dan bekas penghulu Keraton Surakarta Hadiningrat. Disinilah beliau bertemu dengan seorang sahabat karib dari Desa Jatinom bernama Mas’ud Komarudin yang kelak menjadi kakak ipar Beliau.
Singkat cerita, melihat kealiman KH. Imam Bukhori, KH. Mas’ud menjodohkan Beliau denga adiknya yang bernama Khadijah Binti KH. Hasan Mustar alias KH. Qomarudin pada tahun ± 1883. KH. Qomarudin adalah seorang santri yang ikut berjuang dalam Perang DIponegoro.
Di Jatinom yang saat itu sudah berdiri sebuah pondok yang diasuh KH. Qomarudin, disana KH. Imam Bukhori bersama KH. Mas’ud ikut membantu mertuanya untuk mengasuh para santri. Dari gemblengan beliau-beliau inilah kelak akan melahirkan para santri dan pejuang yang memiliki andil besar dalam dakwah islam dan pembebasan Nusantara dari cengkraman para penjajah.
Belum berselang lama KH. Imam Bukhori melanjutkan perjuangan dakwahnya ke Jambewangi, Wlingi. Disana beliau mendirikan sebuah pesatren dan memiliki santri yang cukup banyak. Namun, belum sempat berkembang lebih besar KH. Imam Bukhori dijemput Paman Nyai Khadijah, Yaitu KH. Irfan untuk kembali ke Desa Jatinom untuk membantu KH. Qomrudin berdakwah di sana.
Pada tahun ± 1883, KH. Imam Bukhori diberi sebidang tanah untuk merintis kembali pusat penggemblengan agama Islam yang diberi nama Daarus Salaam yang berarti Kampung Damai. Sebagaimana pesantren pemula, di bidang tanah tersebut didirikan sebuah masjid kecil dan sederhana serta beberapa kamar pondokan santri.
Baru hingga 1923 KH. Imam Bukhori memimpin pembangunan Masjid dan pondokan yang cukup layak yang diberi nama Pondok Pesantren Maftahul Uluum. Di sinilah beliau mengajarkan para santri berbagai ilmu keislaman.
“Memang beliau KH. Imam Bukhori ini selain tokoh ulama sufi, kabarnya menurut riwayat beliau juga adalah pejuang. Karena memang beliau hidup di masa-masa perjuangan melawan Belanda, menurut riwayat beliau juga tokoh Pergerakan Serikat dagang Islam (SI)” terang Sunawan.
Pada tahun 1914 organisasi anti penjajahan saat itu, Serikat Islam mulai memasuki wilayah Blitar. Melihat tujuan baik yaitu memperjuangkan hak-hak umat islam dan pribumi Indonesia, KH. Imam Bukhori pun bergabung di dalamnya. Hingga selanjutnya, Pondok Jatinom asuhan beliau dijadikan pusat kegiatan organisasi SI di Blitar. Bahkan di kemudian hari KH. Imam Bukhori menjadi ketua SI cabang Blitar, karena itulah beliau mendapat julukan ‘Mbah Bestir’ yang diambil dari kata ‘bestuur’ yang artinya ketua pengurus.
Selain itu, pada saat pendirian Nahdlatul Ulama (NU) di Tebuireng, Jombang pada tahun 1996 KH. Imam Bukhori juga mendapatlkan undangan untuk menghadiri acara tersebut. Dari sini dapat dipastikan betapa pentingnya ketokohan KH. Imam Bukhori yang saat itu sedemikian diperhitungkannya oleh KH. Hasyim Asy’ari.
Hingga pada tahun 1927, setelah SI dibubarkan dan diganti dengan Serikat Rakyat (SR), disana KH. Imam Bukhori tergabung dan melancarkan pemberontakan terhadap kolonial Belanda bersama anggota SR lainnya di seluruh Indonesia. Namun saying, rencana pembrontakan itu gagal karena piha Belanda mendahului dengan melakukan penggrebekan di Pondok Jatinom. KH. Imam Bukhori beserta seluruh penghuni lainnya ditangkap dan diasingkan secara terpisah. KH. Imam Bukhori diasingkan di Digul (Papua) dan kemudian dipindahkan ke Bandaneira (Maluku). Putera Beliau K. Sofwan dibuang ke Bandung sementara sebagian santri lainnya dibuang ke Nusakambangan.
Selama di pengasingan beliau justru bisa berinteraksi dengan masyarakat sekitar dan tokoh-tokoh Nasional lainnya, seperti Bung Karno dan Bung Hatta yang juga sama-sama ibuang di Bandaneira. Disana beliau dekat sekali dengan masyarakat disana dan sempat membuat halaqoh pengajian Banda.
Hingga pada tahun 1932 KH. Imam Bukhori dibebaskan Belanda dari pengasingan di Bandaneira. Beliau pulang kembali ke Jatinom bersama rombongan pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Dihari-hari tuanya beliau kembali mengajar ilmu agama dan menghabiskan masa tuanya dengan mendekatkan diri pada Allah SWT.
KH. Imam Bukhori diberi yang cukup panjang yaitu sekitar 122 tahun. Beliau berpulang ke rahmatullah pada tahun ± 1945. Konon beliau memiliki firasat sebelum beliau wafat, sering kali setiap bangun tidur sebelum kepulangannya beliau berkata ‘Ealah, durung dipundut to (Ealah rupanya belum dipanggil Allah).
Sepeninggal KH. Imam Bukhori, Pondok Pesantren Maftahul Uluum diasuh oleh salah satu putranya yaitu KH. Banu Sofwan. Hingga saat ini Pondok Jatinom diasuh oleh KH. Abdul Hafidz bersama Puteranya KH. Abul Fatih Zakaria.
Hingga saat ini yang banyak diajarkan di Pondok Pesantren Maftahul Uluum ini antara lain, Al Quran dan Tafsirnya, Hadist, Nahwu, Sharaf, Ilmu Fiqih dan lain-lain. Sudah tak terhitung lagi lulusan pondok Maftahul Uluum yang sekarang menjadi ulama besar di wilayah Blitar dan sekitarnya.(*)
