JATIMTIMES - Ketegangan global yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memantik pertanyaan lama tentang nubuwah akhir zaman. Di tengah konflik yang terus memanas, sebagian umat Islam mengaitkannya dengan Al Malhamah Kubra, perang besar menjelang kiamat yang disebut dalam hadis-hadis Rasulullah SAW.
Al Malhamah Kubra dikenal sebagai pertempuran dahsyat antara kaum Muslim dan Romawi atau Nasrani. Peristiwa ini bukan mitos, melainkan bagian dari kabar gaib yang disampaikan Rasulullah SAW dan diriwayatkan dalam sumber hadis yang sahih.
Baca Juga : Bukan Sekadar UAS, Pandikara 2026 Buktikan Mahasiswa PGSD Unikama Jago Seni
Salah satu hadis penting tentang lokasi peristiwa ini diriwayatkan dari Abu Darda RA. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya tempat perlindungan kaum Muslimin pada hari terjadinya peperangan besar adalah di Ghouta, di samping sebuah kota yang disebut Damaskus. Tempat itu adalah sebaik-baik wilayah Syam.” (HR Ahmad No. 21725 dan Abu Dawud No. 4298).
Hadis ini menunjukkan bahwa wilayah Syam, khususnya Ghouta dan Damaskus, memiliki posisi sentral dalam rangkaian peristiwa besar akhir zaman. Karena itu, konflik yang terjadi di kawasan tersebut kerap menjadi bahan tafakur dan kajian umat Islam.
Gambaran Al Malhamah Kubra juga dijelaskan secara rinci dalam hadis sahih riwayat Muslim. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga bangsa Romawi turun di A’maq atau Dabiq. Lalu pasukan dari Madinah, dari sebaik-baik penduduk bumi saat itu, keluar menghadapi mereka…” (HR Muslim No. 2897)
Dalam hadis tersebut dijelaskan bahwa perang berlangsung sengit. Sepertiga pasukan Muslim kalah dan tercerai-berai, sepertiga gugur sebagai syuhada terbaik di sisi Allah, dan sepertiga lainnya memperoleh kemenangan besar hingga menaklukkan Konstantinopel.
Rasulullah SAW juga menggambarkan kelanjutan peristiwa itu dengan sangat jelas. Ketika kaum Muslim tengah membagi harta rampasan perang, setan berteriak bahwa Al Masih Dajjal telah mendatangi keluarga mereka. Mereka pun kembali ke Syam, hingga pada saat persiapan perang berikutnya, Isa bin Maryam AS turun ke bumi.
Baca Juga : Akas Asih Sumanding: Mahasiswi Tulungagung Raih Tiga Besar di Ajang Lomba News Anchor Nasional
Namun, para ulama menegaskan bahwa hadis-hadis ini tidak boleh dipaksakan untuk menafsirkan konflik politik kontemporer. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Munajjid menegaskan:
“Tidak boleh memastikan penerapan hadis-hadis sahih pada realitas tertentu tanpa kaidah ilmiah. Hadis-hadis ini adalah perkara gaib yang hakikatnya tidak diketahui oleh siapa pun.”
Ia juga menolak klaim yang menyebut negara tertentu seperti Cina, Rusia, atau Iran sebagai pihak yang dimaksud dalam hadis Al Malhamah Kubra. Menurutnya, memastikan identitas tersebut termasuk berbicara tentang perkara gaib tanpa dasar yang sah.
Dengan demikian, Al Malhamah Kubra tetap diyakini sebagai bagian dari tanda besar akhir zaman. Namun, keyakinan itu harus dibingkai dengan kehati-hatian ilmiah, bukan spekulasi politik. Rasulullah SAW menyampaikan kabar akhir zaman bukan untuk memicu ketakutan massal, melainkan agar umat bersiap secara iman dan akhlak.
