Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Filosofi Uma Batangu, Rumah Adat Sumba Senilai Rp 350 Juta dengan Atap Setinggi 30 Meter

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

09 - May - 2026, 12:12

Placeholder
Rumah adat tradisional bernama Uma Batangu di Sumba. (Foto: Instagram Lady Quinn)

JATIMTIMES - Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, masyarakat adat di Pulau Sumba masih menjaga keberadaan rumah tradisional bernama Uma Batangu. Rumah adat dengan atap menjulang tinggi ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Konten kreator asal Bali, Lady Quinn, membagikan pengalamannya saat mengunjungi desa adat di Sumba dan melihat langsung kehidupan masyarakat yang masih mempertahankan tradisi tersebut.

Baca Juga : Lagi, Davina Karamoy Tampil dalam Serial Perselingkuhan dengan Suami Orang

Dalam unggahannya, Lady Quinn menjelaskan bahwa untuk membangun satu rumah Uma Batangu, dibutuhkan biaya minimal sekitar Rp350 juta. Rumah besar itu bahkan dapat dihuni lebih dari 50 kepala keluarga dalam satu garis keturunan.

“Rumah ini bukan cuma tempat tinggal biasa. Mereka percaya semakin tinggi atapnya, maka semakin dekat rumah mereka dengan langit dan leluhur mereka,” ungkap Lady Quinn.

Uma Batangu sendiri memiliki bentuk menyerupai menara dengan atap tinggi yang bisa mencapai sekitar 30 meter. Material rumah sebagian besar menggunakan bambu, kayu, dan jerami yang disusun menyambung tanpa banyak sekat modern.

Nama Uma Batangu berasal dari bahasa setempat, yakni “Uma” yang berarti rumah dan “Batangu” yang berarti menara menjulang tinggi. Filosofi rumah ini sangat erat dengan kepercayaan masyarakat Sumba terhadap leluhur yang diyakini selalu hadir mengawasi keturunannya.

Hal itu terlihat dari keberadaan ratusan makam batu yang berada di sekitar permukiman adat. Dalam satu makam biasanya terdapat beberapa jenazah dari satu keluarga besar.

“Bagi mereka, leluhur bukan sesuatu yang jauh. Mereka hidup berdampingan dengan sejarah keluarganya sendiri,” kata Lady Quinn.

Di dalam rumah, ruang dibagi menjadi tiga bagian utama. Bagian bawah digunakan sebagai kandang hewan ternak seperti ayam dan babi. Sementara bagian tengah menjadi pusat aktivitas keluarga, mulai dari memasak, berkumpul, hingga beristirahat bersama.

Baca Juga : Gubernur Khofifah Pimpin Gerakan Percepatan Tanam, Produksi Padi  Diprediksi Naik Hingga 5 Persen 

Sedangkan bagian paling atas dimanfaatkan untuk menyimpan benda berharga dan hasil panen. Mayoritas masyarakat di desa tersebut diketahui bekerja sebagai petani dan menggantungkan hidup dari hasil bercocok tanam.

Keunikan lain terlihat dari ornamen tulang hewan yang dipasang di beberapa bagian rumah. Kepala kerbau maupun rahang babi menjadi simbol kebanggaan sekaligus penanda jumlah hewan kurban yang pernah diberikan keluarga tersebut dalam upacara adat.

 

Meski masih mempertahankan tradisi, masyarakat adat mulai melakukan sejumlah penyesuaian demi keamanan dan ketahanan bangunan. Beberapa rumah kini menggunakan fondasi semen serta mengganti atap jerami dengan seng.

Meski demikian, nilai budaya dan filosofi rumah adat tetap dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. “Aku berharap tradisi seperti ini terus dipertahankan karena ini salah satu kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa,” tutup Lady Quinn.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Uma Batangu rumah adat Sumba Sumba



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

Hiburan, Seni dan Budaya

Artikel terkait di Hiburan, Seni dan Budaya