JATIMTIMES - Penyakit jantung koroner selama ini kerap dianggap sebagai penyakit yang identik dengan usia lanjut. Namun kenyataannya, penyakit mematikan ini kini semakin sering menyerang kelompok usia muda akibat gaya hidup yang tidak sehat.
Dokter Spesialis Jantung RS UB dr HM. Subandi MKes mengungkapkan, perubahan pola hidup seperti kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, hingga pola makan tidak sehat menjadi faktor utama meningkatnya kasus jantung koroner pada usia produktif.
Baca Juga : Ingin Turunkan Berat Badan setelah Lebaran? Coba 5 Cara Ini agar Tubuh Kembali Ideal
Hal itu ia sampaikan saat memaparkan sebuah kasus pasien yang ditanganinya belum lama ini. Pasien tersebut merupakan pria berusia 35 tahun yang datang dengan keluhan nyeri pada ulu hati yang menjalar ke dada kiri, disertai rasa panas hingga ke lengan kiri dan belikat.
“Awalnya pasien mengira hanya gangguan lambung. Namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, ternyata mengarah ke penyakit jantung koroner,” ujar dr Subandi dalam sebuah podcast belum lama ini.
Menurut dia, gejala jantung koroner sering menyerupai keluhan asam lambung sehingga banyak orang mengabaikannya. Padahal, tanda khas penyakit ini adalah nyeri pada dada sebelah kiri yang dapat menjalar ke leher, rahang, lengan kiri, atau punggung, serta sering disertai keringat dingin dan sesak napas.
Dari hasil pemeriksaan, pasien tersebut diketahui memiliki beberapa faktor risiko serius. Ia merupakan perokok berat dengan konsumsi dua bungkus rokok per hari, mengalami kelebihan berat badan, tekanan darah tinggi, serta kadar gula darah yang sangat tinggi hingga mencapai 288 mg/dL yang menandakan diabetes.
“Ini contoh nyata bagaimana banyak faktor risiko yang tidak dikendalikan dapat memicu jantung koroner meskipun usia masih muda,” jelasnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG), ditemukan adanya tanda iskemia atau penyempitan pembuluh darah jantung bagian depan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aliran darah ke otot jantung mulai terganggu.
Subandi menjelaskan bahwa jantung koroner terjadi ketika pembuluh darah arteri yang menyuplai darah ke jantung mengalami penyempitan akibat penumpukan plak lemak. Penyempitan ini membuat pasokan oksigen dan nutrisi ke otot jantung berkurang sehingga menimbulkan nyeri dada yang dikenal sebagai angina.
“Jika penyumbatan semakin berat, aliran darah bisa terhenti total dan menyebabkan serangan jantung,” katanya.
Ia menambahkan, faktor risiko penyakit jantung koroner terbagi menjadi dua kelompok. Pertama adalah faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keturunan. Laki-laki dan orang berusia di atas 40 tahun umumnya memiliki risiko lebih tinggi.
Baca Juga : Hotel Trio Indah 2 Malang, Hotel Bersejarah di Jantung Kota yang Menyimpan Jejak Kolonial dan Energi Kota
Namun faktor kedua justru yang paling berpengaruh, yakni faktor yang bisa dikendalikan melalui perubahan gaya hidup. Faktor tersebut antara lain merokok, kolesterol tinggi, diabetes, hipertensi, obesitas, kurang olahraga, pola makan tidak sehat, serta stres yang tidak terkelola.
“Kalau faktor-faktor ini tidak dikendalikan, orang yang masih muda pun bisa terkena jantung koroner seperti pasien yang saya tangani tadi,” ujarnya.
Kabar baiknya, perubahan gaya hidup terbukti mampu memperbaiki kondisi kesehatan secara signifikan. Pada pasien tersebut, setelah menjalani pengobatan serta memperbaiki pola makan dengan menghindari makanan manis, gula darahnya turun dari 288 menjadi 153 mg/dL hanya dalam beberapa hari.
“Ini menunjukkan bahwa disiplin dalam mengatur pola hidup sangat berpengaruh terhadap kesehatan jantung,” kata dr. Subandi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika merasakan nyeri dada sebelah kiri yang menjalar, terutama bila disertai keringat dingin dan sesak napas. Pemeriksaan sederhana seperti EKG dapat membantu mendeteksi gangguan jantung sejak dini.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat dianjurkan untuk berhenti merokok, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi serat, serta mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.
“Yang paling penting adalah mengenali faktor risiko dan mengubah gaya hidup. Jangan menunggu sampai terjadi serangan jantung,” tegasnya.
