Keliling Keraton Surakarta, Ketemu Kebo Bule dan Melihat dari Dekat Rumah Raja | Blitar TIMES

Keliling Keraton Surakarta, Ketemu Kebo Bule dan Melihat dari Dekat Rumah Raja

Dec 23, 2020 20:46
Keraton Kasunanan Surakarta.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Keraton Kasunanan Surakarta.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Banyak orang bilang Kota Solo juga dikenal dengan nama Kota Surakarta adalah jiwa dan jantungnya Jawa. Ya, selain Yogyakarta, Kota Solo menyimpan warisan kerajaan Mataram Islam yang hingga kini masih bisa ditemukan yakni Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Keraton Surakarta adalah salah satu objek wisata paling menarik yang bisa dikunjungi di Kota Solo. Kunjungan ke keraton paling menarik adalah berkeliling tembok benteng keraton yang dikenal dengan sebutan area Baluwarti. 

Baca Juga : Hujan Tiba, Sambil Ngopi di Rumah Inilah Tiga Jenis Camilan Yang Disukai Orang Tulungagung

Yup, mendekati masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) kali ini Tim BLITARTIMES Jalan-Jalan berwisata ke Keraton Surakarta. Jelang Nataru kali ini wisatawan yang berkunjung ke Surakarta berkurang drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. Penyebabnya tentu akibat pandemi Covid-19.

Meskipun Pemkot Surakarta belum mewajibkan wisatawan yang menginap di hotel untuk menunjukkan hasil Rapid Test Antigen, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo masih tidak banyak, bahkan pengelola hotel dan penginapan mengaku banyak calon wisatawan yang membatalkan booking kamar yang sebelumnya dipesan jauh-jauh hari jelang libur panjang Nataru.

Kembali ke Keraton Surakarta, bila ingin berwisata ke keraton dengan sensasi berbeda kami sarankan kepada traveler untuk naik becak. Ya, ada sensasi berbeda bila Anda berkeliling keraton pewaris kerajaan Mataram Islam itu dengan naik becak. Untuk mencari becak di tempat ini tidaklah sulit, traveler bisa menemukannya di hampir setiap sudut kawasan Keraton Surakarta. 

Tim BLITARTIMES Jalan-Jalan tiba di kawasan Keraton Surakarta sekitar pukul 14.00 WIB setelah riding dari Blitar. Perjalanan Tim BLITARTIMES  kali ini cukup seru, hujan menemani kami sejak awal perjalanan. Kami baru lepas mantel saat akan memasuki Kabupaten Ponorogo. Setelah melewati Kabupaten Wonogiri dan Karanganyar kami akhirnya tiba di Kota Solo pada Sabtu (19/12/2020).

Setiba di Kota Solo, kami memilih penginapan yang jaraknya 450 meter dari Keraton Surakarta. Sengaja kami memilih penginapan yang dekat dengan keraton karena dalam kunjungan kali ini kami ingin lebih banyak  berinteraksi dan mengenal budaya masyarakat di sekitar Keraton Surakarta. 

Tak mau menunggu lama, sekitar pukul 16.00 setelah beristirahat kami langsung menuju ke kawasan Keraton Surakarta dengan berjalan kaki. Setelah melewati kawasan Alun-alun utara, kami tiba di pintu masuk keraton. Kami kemudian duduk-duduk dan menikmati suasana keraton yang adem. Nampak sejumlah wisatawan berfoto dengan asyik di kala senja mulai memancarkan sinarnya untuk menyambut malam di Kota Ningrat. 

Tak lama setelah kami duduk-duduk, seorang lelaki tua mendatangi kami. Gaya bicaranya sangat halus khas orang mataraman. Dia menawarkan becaknya kepada kami sambil bercerita bahwa dia adalah seorang abdi dalem Keraton Surakarta. Paino, nama lelaki itu, usianya sudah 82 tahun dan lebih dari 30 tahun mengabdi sebagai abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. 

Sekedar diketahui, naik becak keliling Keraton Surakarta cukup merogoh kocek Rp 50 ribu. Sepanjang perjalanan, para tukang becak akan memandu traveler menjelaskan bangunan dan sejarah di Keraton Surakarta. 

 “Monggo mas saya antar keliling keraton. Paket lengkap cukup Rp 50 ribu saja sesuai dengan amanat dari sinuwun (Sri Susuhunan Pakubuwana XIII, Raja Surakarta), nanti saya antar ke sekolah anak raja, rumah keluarga raja, Alun-alun Kidul hingga rumah kediaman raja, kalau museumnya jam segini sudah tutup,” ungkap Paino. 

Beberapa bangunan yang bisa ditemui di kawasan keraton di antaranya sekolah bagi anak-anak raja yang dinamakan sekolah kasatriyan. Kemudian tak jauh dari sekolah kasatriyan ada museum Keraton Kasunanan Surakarta, disamping museum ada patung Sri Susuhunan Pakubuwana VI yang oleh pemerintah diberi gelar pahlawan nasional karena ikut membiayai perjuangan Pangeran Diponegoro. 

Di samping kiri keraton, Pak Paino memperlihatkan perumahan yang dulu digunakan sebagai mes pajurit, tempat tersebut dinamakan Tamtaman. Tempat menarik lain di Baluwarti adalah rumah yang dulu ditempati oleh abdi dalem keraton.

Baca Juga : Lewat Gebyar Giveaway Tsunami 1260, Lokasi Kongkow Asyik Muncul ke Permukaan

“Rumah-rumah ini seluruhnya hingga saat ini merupakan aset keraton. Keturunan prajurit, keturunan abdi dalem dan kerabat keraton boleh menempati tapi tidak boleh menjual, seluruhnya masih aset keraton,” terang Paino.

Perjaalanan sore dengan naik becak kemudian membawa Tim BLITARTIMES ke Alun-alun Kidul Keraton Surakarta. Pak Paino menunjukkan kami bangunan Sithinggil dan Kebo Bule. Pantauan BLITARTIMES, kebo bule di Alun-alun Kidul ini menjadi magnet utama bagi wisatawan, banyak wisatawan mulai dari yang tua, muda hingga anak-anak melihat kebo bule dari dekat dan berfoto. 

“Kebo bule ini diarak setiap malam 1 Suro. Dan ini kalau mengeluarkan kotoran pasti jadi rebutan warga, tapi pas dikirab, kalau tidak dikirab ya biasa saja,” jelasnya.

Setelah dari Alun-alun Kidul, Pak Paino mengayuh becaknya dan membawa kami berkeliling melihat kediamat kerabat kerajaan. Bangunan-bangunan tersebut mayoritas masih digunakan sebagai tempat tinggal oleh keturunan Keraton Surakarta. 

Salah satu bangunan yang cukup menyita perhatian adalah Ndalem Sasono Putro, atau tempat tinggal Raja Surakarta saat ini Sri Susuhunan Pakubuwana XIII. Rumah Raja Surakarta ini menjadi salah satu tempat favorit traveler dan kawula muda untuk berfoto. Bangunan lainya adalah rumah-rumah yang digunakan sebagai tempat tinggal raja terdahulu diantaranya Sri Susuhunan Pakubuwana X dan Sri Susuhunan Pakubuwana XII. “Kawasan keraton ini luas seluruhnya 54 hektar,” terang Paino. 

Sekedar diketahui, Pembangunan Keraton Surakarta Hadiningrat dilakukan dari tahun 1743 hingga 1745. Konstruksi bangunan keraton menggunakan bahan kayu jati yang diperoleh dari Alas Kethu di dekat kota Wonogiri.

Arsitek keraton ini adalah Pangeran Mangkubumi, kerabat Susuhunan (raja Solo) yang kelak memberontak dan berhasil mendirikan kesultanan Yogyakarta dengan gelar Sultan Hamengku Buwana I. Jadi tidak mengherankan jika bangunan kedua keraton memiliki banyak kesamaan. Setelah pembangunan selesai karena diarsiteki olej orang yang sama yakni Pangeran Mangkubumi. 

Setelah boyongan dari Kartasura, keraton lama yang hancur akibat geger pecinan, keraton baru yang diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat tersebut resmi digunakan oleh raja pada tanggal 17 Februari 1745.

Topik
Berita Blitar Kota Solo

Berita Lainnya