Pelatihan Enterpreneur pengolahan Nata de Coco dan Nata de Pina digelar Dosen Unisba Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pelatihan Enterpreneur pengolahan Nata de Coco dan Nata de Pina digelar Dosen Unisba Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Upaya untuk memantapkan diri sebagai kampus enterpreneur terus dilakukan Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Sejumlah riset dan program pengabdian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat terus digalakkan.

Salah satunya Pengabdian Masyarakat Pengelolaan Produk Lokal dan Enterpreneur tentang pengolahan Nata de Coco dan Nata de Pina yang dilakukan Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unisba Blitar. 

Baca Juga : Tingkatkan Kompetensi, BNSP Uji 25 Peserta Digital Marketing

Kegiatan tersebut digelar selama dua hari, mulai Minggu (29/11/2020) hingga Senin (30/11/2020) dan diikuti oleh 150 siswa Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian di SMKI Anharul Ulum, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan wujud pengaplikasian Tri Darma Perguruan Tinggi guna memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa. 

Bertindak selaku pemateri, Mar'atus Sholihah., M.Pd (Dosen Program Studi Biologi FKIP Unisba Blitar), Eva Nurul Malahayati.,S.Pd., M.Pd (Kepala Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unisba Blitar), Dr Supriyono., MEd (Wakil Rektor III sekaligus Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisba Blitar).

"Kegiatan pengabdian kepada masyarakat kali ini kita menyasar pada siswa SMK yang mana di sini terdapat Jurusan Pengolahan Hasil Pertanian dengan praktek untuk membuat Nata yaitu Nata de Coco yang terbuat dari air kelapa dan Nata de Pina yang terbuat dari Nanas. Kemudian sekaligus pengolahan Nata hingga menjadi makanan siap saji yaitu dibuat pudding dan juga es sirup dan sebagainya," kata Mar'atus Sholihah saat ditemui BLITARTIMES, Senin (30/11/2020).

Menurutnya, Blitar sendiri memiliki potensi produk pertanian nanas dan kelapa yang cukup melimpah. Meski demikian, pengolahan hasil pertaniannya masih sangat terbatas. Untuk itu diharapkan dengan pelatihan ini nantinya produksi hasil pertanian di Blitar semakin bervariasi dan bisa menjadi produk unggulan daerah.

“Di Blitar itu produk utamanya nanas. Makanya yang dipilih sebagai produk lokalnya adalah nanas yang diolah sebagai Nata seperti itu,” ujarnya.

Sebenarnya, lanjut Mar'atus Sholihah, di SMK yang dituju sudah mengolah nanas. "Tapi masih sebatas kripik nanas, sari nanas dan juga dodol seperti itu. Makanya ini kita dorong dan beri arahan untuk dikembangkan lagi untuk dijadikan Nata. Harapannya nanti diusahakan bisa menjadi produk unggulan di SMK. Jadi menambah produk olahan nanas yang sudah ada tadi dan bisa sampai ke pemasaran," imbuhnya.

Baca Juga : Unisba dan KPU Gelar Webinar, Bedah Peluang Pilwali Blitar di Era Pandemi

Kepala Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unisba Blitar Eva Nurul Malahayati, menerangkan, prospek produk nata saat ini sangat digemari. Hal ini tentu menjadi peluang usaha besar untuk membuka usaha pembuatan nata. Selain itu, bahan baku pembuatannya pun murah dan melimpah.

“Menurut saya prospeknya sangat menguntungkan. Sebab dari air kelapa dan sari kulit nanas yang kalau kita mau beli itu 1 liternya seharga 1.000 rupiah itu kita bisa menghasilkan Nata sekitar 1 kg,” ucapnya.

Bila diolah, lanjut Eva Nurul, menjadi makanan hidangan yang siap saji.

"Misalnya jadi pudding atau es itu bisa jadi sekitar 30 cup untuk makanan siap saji. Kalau kita jual perlembaran itu satu lembar ukuran nampan standar itu sekitar Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu," pungkasnya (Adv).