Ikan yang baru panen sebelum dinaikkan kendaraan harus ditimbang / Foto : Zaenal Arifin Aspigrata / Tulungagung TIMES
Ikan yang baru panen sebelum dinaikkan kendaraan harus ditimbang / Foto : Zaenal Arifin Aspigrata / Tulungagung TIMES

Pembudidaya gurami di Tulungagung kini gembira. Pasalnya, pelan-pelan ikan mereka dihargai cukup signifikan. Jika awalnya hanya di angka Rp 16 ribu per kilogram, kini harga gurami mendekati Rp 30 ribu timbangan basah dan hampir Rp 25 ribu timbangan kering. 

Harga ini tergolong normal dan bahkan diprediksi bisa naik kembali lantaran ketersediaan gurami siap konsumsi sudah mulai jarang.

Baca Juga : Promo Akhir Tahun, Cat Propan di Graha Bangunan Diskon 15 Persen

Walau ada kenaikan harga gurami, pembudidaya tetap wajib waspada. Pasalnya, selain mulai rawan pencurian ternyata pembudidaya juga terancam manipulasi timbangan saat panen tiba. Hal ini terjadi di banyak tempat, bahkan pembudidaya tak segan mengutarakan pengalamannya di media sosial.

"Risiko ikan itu saat dipelihara kan mati. Nah namun hitungan randemen (berat umum) gurami ini kan bisa dihitung dari habis berapa konsentrat (pelet) yang diberikan," kata SM, saat dikonfirmasi.

Lanjutnya, satu kolam menurutnya, dimasuki nener 1.500 ekor. Dalam perjalanan waktu, ikan SM mati mencapai angka 500-an sehingga ikannya tinggal 1.000-an ekor.

Selama hampir setahun, SM memberikan ikannya 21 zak. Sehingga jika logikanya per 30 kilogram pelet bertambah berat ikan 20 kilogram. Maka ikan miliknya seharusnya mendapat 4,2 kwital.

"Faktanya, 8 gronjong ikan hanya seberat 2 kwital saja. Ini sungguh terlalu," ujarnya, Minggu (22/11/2020).

Dirinya mengaku salah, karena mencari pembeli ikan dari media sosial Facebook. Namun, sebagai pembeli, dikatakan SM, tidak pantas punya tabiat mencuri timbangan untuk mencari keuntungan.

Pengalaman serupa dialami PG (inisial) pembudidaya asal Ngunut. Dirinya mengatakan, pernah tertipu pembeli ikannya saat pertama kali tahun 2002 lampau.

"Kelihatannya timbangan di angka 0 tapi tidak lurus. Setelah ditambah 2 kilogram baru lurus," kata PG.

Dirinya baru sadar setelah ikan yang dipanen naik ke atas truk. Atas kejadian ini, PG tidak mau kecolongan lagi.

"Jika panen, sekarang saya andalkan ibu saya. Istri saya tidak ngatasi," imbuhnya.

Diceritakan PG, biasanya pembeli pandai menciptakan situasi. Saat timbangan pertama hingga beberapa timbangan terlihat normal, namun akan beraksi pada timbangan kesekian kalinya.

Baca Juga : Beli Rumah 1 Lantai ataupun 2 Lantai di Taman Tirta Malang, Nikmati Promo Gedenya

"Biasanya bermain di kaki. Sedikit saja kaki mengganjal maka kita akan kalah sekitar 5 kilogram pertimbangan. Ada orang yang ditugaskan untuk ngobrol terus dan saat lengah baru beraksi," ungkap PG.

Belum tentu cara-cara kotor itu dilakukan juragan, bisa saja dilakukan kuli timbang di lapangan. "Harus waspada dan hati-hati karena modus ini bisa dilakukan siapapun termasuk yang menjaring ikan," terangnya.

Pernah suatu ketika, dalam catatan timbangan yang seharusnya ke-11, namun dikatakan tim lapangan adalah ke-10.

"Daripada ramai, saya minta untuk makan dulu. Nah, sambil makan ini sementara ikan saya minta dimasukkan kolam lagi. Dia mengalah, tapi sebenarnya merasa bersalah," tambahnya.

Bagi PG, jika pembeli minta tambah berat timbangan adalah wajar. Namun, jika terlalu banyak maka dipastikan pembudidaya akan terlalu banyak mengalami kerugian.

"Jika pertimbangan minta satu ekor saya pikir wajar. Namun, jika timbangan sudah anget masih minta satu ekor lagi ini kan mau menang sendiri," imbuhnya.

Jika harga basah dan kering hanya selisih Rp 3 ribu, PG lebih memilih timbangan kering karena dianggap lebih fair.