Getih Getah Gula Kelapa tahun 2020 digelar secara sederhana di Candi Simping. (Foto: Dokumen JatimTIMES)
Getih Getah Gula Kelapa tahun 2020 digelar secara sederhana di Candi Simping. (Foto: Dokumen JatimTIMES)

Kegiatan seni budaya 'Getih Getah Gula Kelapa' di Candi Simping, Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar yang rutin dilaksanakan tiap 17 November digelar secara sederhana, Selasa (17/11/2020) malam. Kegiatan ini digelar secara terbatas, tertutup dan tidak menghadirkan banyak orang dalam upaya mengurangi risiko penularan Covid-19. 

Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Sulud Sukma bersama pemuda-pemudi Karang Taruna Nusantara 1 Desa Sumberjati kali ini akan mengangkat tema 'Trantanan' sebagai tema besar dalam peringatan 727 tahun berdirinya Kerajaan Majapahit.

Baca Juga : Melalui Sekolah, Lumajang Akan Hidupkan Dolanan dan Olahraga Tradisional

 

Rahmanto Adi, Ketua Komunitas Sulud Sukma mengatakan, di masa pandemi Covid-19 ini dimana sebagian besar kegiatan harus dibatasi. Maka pihaknya menggelar kegiatan ini secara tertutup dan hanya bersifat simbolis sebagai penanda bahwa kegiatan tahunan Getih Getah Gula Kelapa akan tetap diadakan di masa-masa normal mendatang.

"Tahun 2019 lalu, Kirab Pataka dan Panji Majapahit menjadi penanda awal digelarnya Getih Getah Gula Klapa. Kirab diawali dari Kantor Desa Sumberjati menuju Pelataran Candi Simping, yang nantinya akan disambut dengan beberapa pagelaran kesenian," jelas pria yang akrab disapa Antok.

Karena tidak mengundang banyak massa, lanjutnya, di tahun 2020 ini Getih Getah Gula Klapa fokus pada acara inti yakni doa budaya. 

“Mungkin agak berbeda dengan tahun sebelumnya, Getih Getah Gula Klapa tahun 2020 ini difokuskan pada acara intinya yakni doa budaya yang melibatkan beberapa masyarakat dan pemuda pemudi di Blitar jumlah juga kita batasi 27 orang saja. Untuk rangkaian kegiatan seperti kirab ditiadakan karena pandemi covid-19 ini. Jadi tahun ini kita isi dengan kegiatan doa budaya ini bersifat simbolis sebagai penanda bahwa kegiatan tahunan Getih Getah Gula Kelapa akan tetap diadakan di masa-masa normal mendatang,” jelas Rahmanto Adi.

Kegiatan doa bersama di dalam area Candi Simping diawali pembacaan puisi, kemudian ada tarian, lalu disambung dengan narasi Nararya Sanggramawijaya, serta lantunan macapat yang bersambung pada puncak acara yakni doa budaya, sedangkan untuk penutup kegiatan ada murak sajen.

"Sesuai dengan kondisi saat ini kita angkat tema ‘Trantanan’ pada Getih Getah Gula Klapa 2020 ini. Makna filosofinya yakni tahapan seorang anak mulai berjalan, dimana orang Jawa mengenal istilah 'trantanan' yang artinya masih harus dipegangi oleh orang tuanya," terang Antok.

Baca Juga : Pagelaran Seni Budaya Selomangleng Panji Interactions Digelar Secara Virtual

 

Dia menguraikan, tema ‘Trantanan’ menggambarkan bahwa tahun ini Getih Getah Gula Klapa baru berusia 4 tahun atau masih balita, masih jauh perjalanan untuk menggapai cita terwujudnya Pusat Kajian Budaya Majapahit dan Peradaban Nusantara di komplek Candi Simping, tempat Sang Proklamator Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya didharmakan.

"Tujuan kegiatan Getih Getah Gula Klapa yakni memperkenalkan kembali bahwa Candi Simping di Desa Sumberjati adalah sebuah situs budaya yang menyimpan sejarah besar kejayaan Nusantara," tambahnya.

Perlu diketahui, Getih Getah Gula Klapa merupakan kegiatan tahunan yang diinisiasi oleh Komunitas Sulud Sukma bersama Karang Taruna Nusantara 1 Desa Sumberjati. Dasar kegiatan ini merupakan peringatan sepasaran 727 tahun berdirinya Kerajaan Majapahit yang ditandai dengan penobatan Sri Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pada tahun 1293 silam.