Henry-Yasin dinilai pengamat tampil sebagai bintang di debat publik pertama pilwali Blitar.
Henry-Yasin dinilai pengamat tampil sebagai bintang di debat publik pertama pilwali Blitar.

Pengamat politik dari Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar Hery Basuki menilai pasangan calon nomor urut 01 Henry Pradipta Anwar-Yasin Hermanto tampil menjadi jawara dalam debat publik pertama pemilihan wali kota dan wakil wali kota (pilwali) Blitar 2020 yang mengangkat tema kesejahteraan rakyat. 

Henry-Yasin tampil menyerang dengan memaparkan data-data dan argumen serta  riil. Terbalik dengan lawannya, yakni pasangan Santoso-Tjujuk Sunario, yang tidak agresif, normatif,  dan cenderung tampil defensif. 

Baca Juga : Ketum PKB Hadir Langsung ke Malang, Ungkap Kunci Pemenangan Paslon LaDub

Secara keseluruhan, dari debat publik pertama, Hery melihat paslon nomor urut 01 lebih pada realitas program yang dibutuhkan masyarakat Kota Blitar. Beberapa program seperti sekolah gratis, sepeda gratis, bantuan rombong, pelatihan untuk pelaku UMKM, serta  pembiayaan BPJS melalui APBD dan perubahan manajemen rumah sakit agar pro-rakyat, khususnya rakyat miskin, dinilai merupakan program tepat sasaran.

Hal ini berkebalikan dengan pernyataan paslon nomor 02 yang menyatakan bahwa banyak program APBD pro-rakyat yang tidak tepat sasaran dan harus dievaluasi. 

“Dua pendapat yang muncul sebagai tesa dan antitesa ini hal menarik dalam debat. Nah, di sini muncul keberanian dari paslon nomor 01, yang menyatakan pentingnya program pro-rakyat yang benar-benar menyentuh masyarakat di tengah pandemi covid-19. Henry tampil luar biasa. Sebagai milenial, dia mampu meyakinkan generasi tua bahwa dia layak ditampilkan. Skor 1-0 untuk Henry,” ungkap Hery Basuki kepada BLITARTIMES, Jumat (23/10/2020). 

Sebagai akademisi dan mantan politisi, Hery Basuki mengaku terkejut dengan performa  Henry Pradipta Anwar di debat publik edisi pertama. Sebagai politisi muda dan mantan ketua Komisi I DPRD Kota  Blitar, Henry dinilai memiliki rasa percaya diri tinggi berbekal data-data, wawasan mumpuni, dan program kerja yang matang.

“Kepercayaan diri tinggi itu terlihat dari saat debat dia mendatangi paslon nomor dua dan menyalami. Dia secara tegas datang mewakili golongan milenial. Dia Henry, tampak sebagai orang muda yang punya integritas, punya etika. Jadi, dalam berpolitik, dia sangat beretika. Ini yang harus dipertahankan ke depan. Dan paslon nomor urut 01 berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan publik yang bukan semata-mata pertanyaan panelis, tapi problem realitas yang ada di masyarakat,” jlentrehnya.

Lebih dalam Hery menilai, bukan sebuah kemunduran dan sah-sah saja apabila bila terpilih nanti Henry-Yasin mengangkat dan melanjutkan kembali program APBD pro-rakyat yang dicetuskan mantan Wali Kota Blitar Samanhudi Anwar yang notabene adalah ayah Henry Pradipta Anwar. Henry juga dinilai memiliki kedewasaan berpolitik yang ditandai dengan closing statement dalam debat, ketika  dia menyatakan ‘Jangan sampai politik ini menjauhkan tali silaturahmi’.

Baca Juga : Konflik Internal PBB Tulungagung di Tangan Polisi Mulai Ditindaklanjuti, Ini yang Terjadi..

“Wajar kan apabila Henry melanjutkan program dari orang tuanya. Tapi memang patut kita akui apa yang diprogramkan Pak Samanhudi itu memang harus dilanjutkan ya dilanjutkan. Kalau yang bagus, lanjutkan. Why not. Jangan sampai program bagus di suatu daerah  mandek karena program visi-misi dari calon kepala daerah sehingga tidak ada kesinambungan,” tukasnya.

Terkait dengan performa  paslon nomor 02 yang cenderung normatif dan defensif, Hery melihat ada tekanan psikis pada paslon ini saat gelaran debat publik pertama. Kelemahan lain dari paslon nomor 02 adalah Tjujuk Sunario yang tidak menguasai materi tentang Kota Blitar. Tjujuk adalah mantan anggota DPRD Jatim yang berdomisili di Surabaya. 

“Pak Santoso itu dulu kan wakilnya Pak Samanhudi yang notabene Bapaknya Henry. Mungkin ada tekanan psikis. Dan kelihatan sekali kalau Pak Santoso itu orang yang tidak pernah ada di struktur partai dan orang birokrat murni. Tjujuk tidak tampil meyakinkan. Dia tidak menguasai persoalan-persoalan kesejahteraan rakyat di Kota Blitar karena dia bukan orang Blitar,” pungkasnya.