Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

Media sosial (medsos) kini jadi kebutuhan bagi mayoritas manusia. Bagi penggunanya, jika sehari tak eksis di medsos,  bagaikan belum lengkap. 

Semua itu karena kemudahan yang ditawarkan dunia maya memang menggiurkan. Urusan perut dan keinginan pribadi selesai cukup hanya tombol menu di dalamnya. 

Baca Juga : Stylish, Hijabers Cantik Dewi Fitri Handayani Punya 5 Paduan Busana Pakai Bawahan Kulot

Namun tak jarang si pengguna memanfaatkan medsos untuk mengeluarkan amarahnya, mencurahkan kegalauan hati, bahkan mengumbar aib diri sendiri dan orang lain. 

Update status yang membuat kecanduan, menurut psikolog asal Tulungagung Ifada Nur Rohmaniah, itu artinya orang yang terserang fear of missing out (FOMO). Di tingkat yang parah, pengidap FOMO  akan abai atau menganggap kehidupannya menjadi nomor dua.

Sebenarnya, FOMO bukanlah hal baru. Apalagi era teknologi dan meningkatnya penggunaan media sosial.

Menurut Ifada, FOMO sendiri biasanya dipakai untuk gambaran situasi sosial. Antara lain kecemasan atau kerisauan karena merasa tertinggal dari yang lain. Atau juga, cemas ketinggalan yang seru-seru bila belum buka Instagram, Twitter, Facebook, dan sebagainya.

Konsultan psikolog ini juga mengatakan bahwa kecemasan itu salah satu indikasinya adalah ingin terus mengintip aktivitas akun orang lain. “Kecemasan sosial ini ditandai ingin terus terhubung dengan segala yang dilakukan orang-orang lain. Ada kondisi merasa iri mendalam sampai memengaruhi harga diri yang diperburuk oleh postingannya sendiri,” terangnya, Sabtu (26/09/2020). 

Lalu bagaimana solusi agar seseorang tidak mengalami FOMO? Ifada menjelaskan, penggunaan medsos dikurangi dan tidak kepo (ingin tahu) atas kelebihan atau kekurangan orang lain.

“Harus latihan atau setidaknya istirahat dari medsos. Kemudian mengubah fokus. Daripada berfokus pada kekurangan diri, cobalah memperhatikan apa yang dimiliki. Misalnya lebih fokus pada kelebihan kita dalam konsep diri positif serta menambah rasa syukur kita kepada Tuhan dengan apa yang kita miliki,” papar Ifada.

Melansir dari berbagai sumber, ketagihan update status di media sosial ini juga mempunyai dampak negatif lainnya. Apa saja?
 

1. Masalah Seharusnya Diselesaikan, Bukan Dipublikasikan

Semua orang pasti akan memiliki masalah, baik ringan maupun berat. Keduanya sama-sama butuh untuk segera cdiarikan solusi. Caranya bukan dengan menge-share di akun pribadi seperti WhatsApp, IG, Facebook dan Twitter serta media sosial lain. Namun, mencari sumber penyebabnya lalu menemukan solusi terbaik untuk mengatasinya.

2. Masalah Pribadi Hanya Diri Sendiri yang Tahu, Mengapa Orang Lain Harus Tahu?

Baca Juga : Ingin Pakai Midi Skirt Meski Berhijab? Contek 5 Gaya Selebgram yang Tetap Anggun Ini

Apa tujuan membagikan masalah pribadimu melalui medsos? Apakah agar semua orang tahu kau tengah putus cinta atau punya masalah dengan orang lain, lalu ingin mendapat simpati?

Jangan harap, karena tidak semua orang ingin tahu perihal apa yang sedang kamu alami. Jika ada sahabatmu bakal memberikan perhatiannya, itu hanya bersifat toleran, tapi belum tentu orang lain menaruh rasa yang sama.

3. Semua Orang Punya Masalah, Jangan Merasa Paling Menderita Menjalani Kehidupan

Memilih mencari solusi sendiri ketimbang berkelakar di medsos adalah cara yang tepat. Bukan bertindak cengeng dengan membeberkan kesedihanmu, aib, dan berbagai hal agar semua orang tahu.

4. Orang Lain Justru Akan Bosan dengan Siikapmu, Bukan Simpati

Kalau kalimat sindiran itu ditujukan kepada lawan bermasalah, baik itu pacar, keluarga atau orang lain, orang yang tahu statusmu justru menganggap dirimu bersikap kekanak-kanakan dan menilaimu sebagai orang yang membosankan.

5. Masalah Malah Semakin Rumit dengan Statusmu

Masalah yang tadinya ringan akan menjadi runyam, bahkan ada kemungkinan temanmu di dunia maya justru menjadikan persoalan itu sebagai bahan obrolan, cacian, atau bukti untuk dilaporkan ke pihak berwajib karena melanggar privasi dan UU ITE.