Puncak Bersih Desa, Wali Kota Santoso Tasyakuran Bersama Warga Kelurahan Blitar | Blitar TIMES

Puncak Bersih Desa, Wali Kota Santoso Tasyakuran Bersama Warga Kelurahan Blitar

Jul 10, 2020 14:26
Wali Kota Santoso memberikan sambutan dan memimpin doa di acara tasyakuran bersih desa di Kelurahan Blitar. (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Wali Kota Santoso memberikan sambutan dan memimpin doa di acara tasyakuran bersih desa di Kelurahan Blitar. (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Tradisi bersih desa tetap digelar warga Kelurahan Blitar di Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, meski negara dalam situasi pandemi. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bersih desa tahun ini digelar secara sederhana dengan puncaknya ditutup dengan tasyakuran dan tayuban pada Jumat (10/7/2020).

Tasyakuran yang dilaksanakan di kantor kelurahan dilaksanakan secara protokol kesehatan. Jumlah yang hadir dibatasi untuk mencegah penularan virus corona (covid-19).

Baca Juga : Ringankan Beban Ekonomi Warga, Pemdes Tiron Gandeng Dinas PU untuk PKT

Hadir dalam kesempatan ini, Wali Kota Blitar Santoso, camat Sukorejo, lurah Blitar, dan tokoh masyarakat Kelurahan Blitar. 

Tokoh masyarakat Kelurahan Blitar yang juga anggota DPRD Kota Blitar, Nur Ali, mengatakan bahwa kegiatan bersih desa ini sudah dilakukan sejak dahulu dan menjadi tradisi turun-temurun. Untuk tahun ini, karena situasi pandemi, warga Kelurahan Blitar melaksanakan bersih desa secara protokol kesehatan sesuai dengan anjuran pemerintah.

“Tradisi ini (bersih desa) mengakar kuat di Kelurahan Blitar. Kaum pinisepuh selalu menanyakan kapan tradisi ini digelar. Dan alhamdulilah dengan waktu dan persiapan yang singkat ini, kita bisa berkumpul dengan pinisepuh dan kita sepakati bersih desa tahun ini diadakan untuk yang sakral-sakral saja,” ungkap Nur Ali kepada BLITARTIMES.

Kegiatan sakral yang digelar dalam rangkaian Bersih Desa Kelurahan Blitar tahun ini di antaranya kenduri di empat pepunden. Salah satunya di makam Adipati Aryo Blitar, tirakatan malam Jumat, dan ditutup dengan tasyakuran dan tayuban.

“Kita laksanakan rangkaian kegiatan ini dengan protokol kesehatan. Untuk tirakatan hanya dihadiri beberapa orang. Lalu untuk pagi ini harusnya kita gelar kirab, tapi ditiadakan dan langsung ke selamatan. Begitu pula dengan tayub, yang tidak boleh ditiadakan, kita gelar secara sederhana siang ini. Biasanya tayuban ini sehari semalam,” ungkapnya.

Lebih dalam, Nur Ali menyampaikan, bersih desa punya makna mendalam bagi masyarakat Kelurahan Blitar. Tradisi ini sebagai wujud syukur dan membersihkan diri agar dijauhkan dari musibah. Bersih desa merupakan warisan dari leluhur yang terus-menerus digali dan dilestarikan. 

“Bersih desa maknanya adalah membersihkan diri kita. Ini tradisi turun-temurun dari leluhur. Bahkan leluhur kita dahulu da kemarau panjang selalu mengadakan bersih desa,” ucapnya.

Baca Juga : Warga Keluhkan Kenaikan Tarif Air, Komisi B DPRD Kota Malang Panggil PDAM

Sementara itu, Wali Kota Blitar Santoso dalam kesempatan ini memuji kekompakan warga Kelurahan Blitar yang menggelar bersih desa secara sederhana. Dirinya melihat warga setempat memiliki komitmen tinggi dalam menjaga tradisi warisan leluhur. Salah satunya tayuban yang merupakan unsur penting dalam budaya bersih desa.

“Tayuban ini wajib. Karena saat ini dalam pandemi covid-19, maka tayuban ini harus tetap dijalankan secara sederhana. Kita bisa lihat, gending-gending dan nuansa kejawennya tetap ada karena ini sudah tradisi,” kata orang nomor satu di Kota Blitar Bumi Bung Karno tersebut. 

Dikatakan wali kota, digelarnya bersih desa secara sederhana tidak mengurangi nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam acara budaya ini. “Nilai spiritual tetap seperti tahun-tahun sebelumnya. Mudah-mudahan tahun depan kondisi sudah pulih kembali. Sehingga pelaksanaan bersih desa bisa meriah. Dan perlu diketahui, Kelurahan Blitar merupakan yang paling awal menggelar bersih desa di Kota Blitar. Berikutnya akan disusul daerah-daerah yang lain,” pungkasnya.

 

Topik
bersih desa Wali Kota Blitar Santoso Berita Blitar Hari Ini

Berita Lainnya