Ilustrasi aktivitas santri. (Foto: NU online).
Ilustrasi aktivitas santri. (Foto: NU online).

Di tengah masa pandemi Covid-19, aktivitas belajar mengajar di pondok pesantren (Ponpes) harus ikut dihentikan.

Jika ingin beroperasi kembali, maka harus mematuhi persyaratan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Baca Juga : Pesantren Tebuireng Jombang Siapkan Skema Kembalinya Santri ke Pondok

Sebab aktivitas di pondok pesantren yang banyak dihuni oleh warga dari berbagai daerah itu diharapkan tak memunculkan kluster penyebaran kasus Covid-19. 

Nampaknya, hal ini menjadi perhatian khusus bagi Pondok Pesantren Al-Hikam, Kota Malang. 

Meski masih belum menetapkan jadwal secara resmi kapan santri diperbolehkan kembali, tetapi sederet persiapan menyambut kedatangan siswa sudah dilakukan.

"Untuk pesantren kita, karena kebetulan santrinya mahasiswa jadi kita operasional penuh itu menunggu kampus. Kita agak longgar, tidak di dalam bulan ini. Kita memang belum tentukan tanggal, baru akhir bulan ini kita tentukan sambil juga menunggu perkembangan keadaan ini (Covid-19)," ujar Pengasuh Ponpes Al Hikam Kota Malang, Muhammad Nafi saat dihubungi MalangTIMES belum lama ini. 

Meski begitu, menurutnya, sederet persiapan menyambut kedatangan santri yang kurang lebih sebanyak 400an ke ponpes tersebut telah dilakukan. 

Yaitu, dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 baik dari kesiapan santri saat belum kembali hingga sesampainya nanti di area Ponpes Al Hikam. 

"Persiapan santri sebelum kembali ke pesantren itu mereka harus sudah melakukan pemeriksaan diri dan sudah melakukan karantina mandiri sesuai dengan protokol kesehatan, itu masih di rumah ya. Mereka tidak boleh menggunakan kendaraan umum, kecuali yang dari luar pulau, jadi mereka ke pesantren harus dalam kondisi sehat," jelasnya. 

Sesampainya di Ponpes, pria yang akrab disapa Gus Nafi' ini menyampaikan jika para santri wajib menjalani karantina mandiri di ruangan yang telah disiapkan, pun bagi yang kondisi tubuhnya sehat. 

Pihaknya dalam hal ini telah menyiapkan bangunan baru yang rencananya untuk kelas sebagai tempat karantina bagi santri yang baru kembali. 

"Insya Allah cukup, karena ada 16 kelas yang belum kita pakai, itu kita ambil sebagian saja. Meskipun dalam kondisi sehat tetap harus di karantina, karena dalam perjalanan itu harus dijaga. Di sana juga fasilitas lengkap, alat olahraga pun kita siapkan secukupnya. Baru nanti bisa masuk ke area pesantren atau kamar masing-masing," imbuhnya. 

Bahkan, ia menyebut dalam setiap kamar sudah diatur sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan persyaratan physical distancing. Artinya, setiap santri saat tidur berjarak 1 meter dan tidak berhadapan. 

Kemudian, semua tempat tidur telah dilengkapi dengan 1 lemari dan 1 dipan. 

Para santri juga diminta untuk menyediakan kontainer khusus untuk menyimpan barang-barang pribadi lainnya. 

Hal ini sebagai bentuk untuk membangun cara hidup baru bagi santri di area pondok pesantren. 

"Kamar sudah diatur sedemikian rupa, memadai untuk physical distancing. Setelah merela berada di pesantren, mereka harus menerapkan protokol kesehatan, mulai dari dia harus mempunyai alat-alat individual. Apakah itu alat mandi, piring, sendok, garpu dan lain sebagainya harus diurus dan dijaga kebersihannya sendiri. Ini tidak bisa seperti dulu makan pakai lengser bareng-bareng 5 orang. Kita ingin momen ini membangun cara hidup baru di pesantren," katanya. 

Untuk menunjang kegiatan belajar mengajar secata tatap muka, pihak Ponpes juga telah menyiapkan protokol kesehatan. 

Mulai dari, alat pengecekan suhu tubuh yaitu tehrmo gun, hingga menyediakan tempat cuci tangan. 

Baca Juga : Terkait Kembalinya Aktivitas Santri, Bagaimana Kebijakan Pondok Pesantren Modern Tazkia?

Saat ini, menurut dia sudah terdapat 6 tempat cuci tangan dan 3 bilik disinfektan yang dibuat oleh para santri. 

"Tentu ini persiapan daya dukung pesantren kita. Target saya di dalam pesantren ini setidaknya karena santri ini ada sekitar 400 an itu kami harus ada tempat cuci tangan yang permanen di 20 titik yang di dalam pondok," ungkapnya. 

Tak hanya itu, karena santri di Ponpes Al Hikam diisi oleh mahasiswa maka mobilitas mereka akan dipantau ketat. 

Setiap santri harus memiliki buku diary khusus untuk diisi semua kegiatan mereka sehari-hari. 

Hal itu sebagai langkah antisipasi apabila terjadi hal-hal yang tidak direncanakan ketika para santri berada di suatu tempat. 

"Memastikan mereka bertemu dengan siapa di hari itu. Jadi mereka harus secara gentle menuliskan semua aktivitasnya. Kami juga akan memantau itu. Memang semoga tidak ada apa-apa, tetapi ini antisipasi kita dengan diary ini agar kalau terjadi sesuatu (terpapar Covid-19) tracing-nya mudah," terangnya. 

Di samping itu, proses kembalinya para santri nantinya juga dijadwalkan secara bertahap dengan menetapkan sistem zonasi. 

Sehingga, tidak serta merta 400an santri akan datang secara bersamaan di satu waktu. 

"Ini anak-anak sudah memusyawarahkan nanti kembalinya itu bertahap, pakai zonasi.
Jadi supaya tidak terlalu banyak, karena karantina itu juga gantian. Umpamanya yang daerah Blitar itu hari ini, nanti jeda satu hari daerah lor etan Situbondo, Probolinggo. Jadi mereka kita panggil berdasarkan zonasi sambil juga kita verifikasi, dia datang dari zona merah atau tidak," ungkapnya. 

Yang pasti, menyambut para santri di era New Normal tersebut nantinya pihak Ponpes Al Hikam telah menyiapkan fasilitasi yang memadai dan sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19. 

"Kita mendorong, memfasilitasi dan mengingatkan terus menerus. Ketika mereka datang kita ingin semuanya tentram, santrinya tentram. Karena kita yakini dalam kondisi baik-baik saja. Ya mereka ketika datang kita pastikan bahwa dia sehat, tidak carier," tandasnya. 

Sementara itu, untuk Ponpes lain seperti Sabilurrosyad Gasek yang ada di kawasan Kecamatan Sukun Kota Malang tak begitu menanggapi saat dikonfirmasi perihal kesiapan mereka. 

Pengasuh Ponpes Sabilurrosyad Gasek, KH Marzuki Mustamar hanya menjelaskan ponpesnya siap kapan saja untuk beroperasional kembali manakala permintaan dari wali murid sendiri. 

"Terserah orang tua. Kalau ada orang tua nganterin anaknya supaya diajar, nganterin ke sini ya kita ajar. Kalau nggak nganterin ke sini, masak dipaksakan. Pokoknya ada anaknya minta diajar tak ajar gitu aja udah," ucapnya singkat.