Aksi Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya di gerbang Veteran UB. (Foto: Amin/MalangTIMES)
Aksi Aliansi Mahasiswa Resah (Amarah) Brawijaya di gerbang Veteran UB. (Foto: Amin/MalangTIMES)

Sekitar 70 mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) melakukan aksi di tengah pandemi, Kamis (18/6/2020). 

Mereka menuntut penurunan uang kuliah tunggal (UKT) dan transparansi dari pihak kampus. 

Baca Juga : Terkait Kembalinya Aktivitas Santri, Bagaimana Kebijakan Pondok Pesantren Modern Tazkia?

Aksi dimulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) menuju ke gerbang veteran, hingga Gedung Rektorat.

Humas aksi Ragil Ramadhan menegaskan, mahasiswa menuntut keadilan. 

Dikatakannya, sampai detik ini belum ada kebijakan dari kampus yang dirasa meringankan beban mereka di tengah pandemi.

"Pada hari ini kami hanya menuntut 1 kata, keadilan, yang kiranya tidak pernah diberikan oleh kampus selama ini, terutama pada saat saat krisis seperti ini," ujar perwakilan dari Amarah Brawijaya tersebut.

Sebelumnya, pihak kampus sendiri sudah memberikan bantuan kepada mahasiswa. 

Akan tetapi, bagi mereka bantuan tersebut hanyalah gimmick.

"Soalnya itu hanya memberikan kepada yang di Malang dan tidak seberapa," imbuhnya.

Sementara, adanya Pertor (Peraturan Rektor) 17/2019 terkait penundaan, penurunan, dan pembebasan UKT mereka rasa masih kurang menjawab lantaran masih bermasalah di masing-masing fakultas.

"Pengalaman saya di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), saat (UKT) tidak bisa diturunkan, dengan terpaksa kami harus melakukan penundaan, yang di mana itu sama aja. Jadi hanya menunggu beban, menunggu mati, kampus menunggu kami untuk mati," beber mahasiswa FIA angkatan 2017 tersebut.

Untuk itu, mahasiswa menuntut adanya ketegasan dari Rektorat agar UKT semester depan dimurahkan. 

Sebab, pertanyaan semacam "Uang kampus selama ini ke mana?" terus terngiang di benak mahasiswa.

Diungkapkan Ragil, berdasarkan laporan keuangan UB, beban yang paling berat adalah biaya operasional. 

Baca Juga : Pembelajaran di Perguruan Tinggi Tetap Daring, Cegah Terjadinya Kampus jadi Klaster Baru

Sementara, di masa pandemi ini sudah pasti beban operasional berkurang drastis. 

Bahkan berdasarkan laporan keuangan, sisa anggaran kampus sendiri kata Ragil sangat banyak dan masih menyentuh angka yang tinggi.

"Logika sederhana, kita bisa lihat selama ini kampus tidak ada pengeluaran-pengeluaran yang kiranya menunjang operasional. Tapi sampai sekarang belum ada kebijakan yang cukup tegas untuk mengatur bagaimana kita membiayai kuliah untuk semester depan," paparnya.

"Kita turun hari ini menunjukkan kalau kami masih belum terima terhadap surat edaran yang kemarin dikeluarkan," imbuhnya.

Ketegasan terkait penurunan UKT ini mereka rasa sangat diperlukan di masa krisis seperti ini. 

Sebab, dari sisi ekonomi, banyak orang tua mahasiswa yang terdampak secara signifikan. 

Berdasarkan survei mereka, sekitar 100 orang tua mahasiswa mengalami PHK. 

Ada pula beberapa orang tua yang gajinya dipotong hingga 50 persen. 

Dan dalam kondisi seperti ini, mereka juga tak tahu ke depannya masih bisa bertahan hidup atau tidak.

"Jujur kami di sini melakukan ini bukan karena kami sok miskin atau bagaimana, tapi kami menyadari kami ini masih beban orang tua. Aksi ini adalah untuk orang tua kami. Bukan untuk diri kami sendiri yang egois minta UKT dimurahkan," pungkasnya.