Sosialisasi ketentuan di bidang cukai digelar Bea Cukai Blitar di Hotel Puri Perdana Kota Blitar
Sosialisasi ketentuan di bidang cukai digelar Bea Cukai Blitar di Hotel Puri Perdana Kota Blitar

Dalam rangka menekan peredaran rokok ilegal di kalangan penjual eceran dan masyarakat luas, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Pratama Blitar bersama Pemerintah daerah di wilayah kerjanya mengadakan sosialisasi ketentuan di bidang cukai, di Hotel Puri Perdana, Kota Blitar, Rabu (11/3/2020).

Peserta sosialisasi ini adalah para pengusaha rokok dan pemangku kepentingan dari organisasi perangkat daerah (OPD) pengguna Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2020. Hadir dalam agenda ini Plt Wali Kota Blitar Santoso, Pemkab Blitar, TNI, Kepolisian, Kejaksaan,dan Satpol PP.

Kepala Kantor Bea Cukai Blitar, Akhiyat Mujayin di kesempatan ini menyampaikan sosialisasi ini diharapkan dapat menekan laju peredaran rokok ilegal di wilayah Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek.

“Peredaran rokok ilegal di wilayah kerja kami harus diberantas dan dihentikan. Agar apa?, penerimaan negara dari sektor cukai bisa meningkat,” ujar Akhiyat.

Di kesempatan ini Kantor Bea Cukai Blitar menyampaikan informasi mengenai peredaran rokok ilegal, khususnya untuk mengenali ciri-ciri pita cukai tahun 2020 yang baru saja dirilis awal tahun, serta bahayanya untuk dikonsumsi oleh masyarakat. 

Masyarakat yang hadir juga diberikan edukasi cara mengidentifikasi keaslian pita cukai dengan menggunakan berbagai alat pendukung, seperti kaca pembesar dan sinar ultraviolet.

"Cukai itu penting sekali untuk penerimaan negara. Oleh sebab itu sosialisasi semacam ini terus kita masifkan, agar pengusaha rokok mentaati ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap memperhatikan kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Edukasi yang diberikan kepada peserta sosialisasi diantaranya, secara kasat mata, pita cukai asli dapat dilihat dari warna dasarnya yang kehijauan, serat kasat mata berwarna merah, jika diterawang terdapat tanda air "75 RI", hologram warna dasarnya yaitu soft cyan, terdapat anyaman penjalin, speckle partern bercitra putih dan solid, terdapat efek dinamik pada hologram, desain tahun 2020 bertema 75 Tahun Kemerdekaan RI, dan perubahan teks BCRI menjadi 2020 jika menggunakan kaca pembesar. Dan untuk identifikasi lanjutan dapat menggunakan sinar UV dengan ciri-ciri kertas cukai tidak memendar, serat tak kasat mata tegak lurus berwarna biru, terdapat serat keriting warna kuning, dan ada gambar bintang berwarna kuning di hologram.

Disampaikan pula, rokok yang diedarkan, dijual atau ditawarkan tidak dilekati pita cukai (dikenal dengan istilah rokok polos atau rokok putihan), dikenai ancaman pidana penjara minimal satu tahun, maksimal lima tahun. Pidana denda minimal dua kali nilai cukai, dan maksimal sepuluh kali nilai cukai.

Selain itu dikenal pula pita cukai palsu, pita cukai bekas dan pita cukai bukan peruntukan. Seluruhnya tidak dibenarkan dan akan dijerat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami dari Bea Cukai Blitar, mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan Gerakan Gempur Rokok Ilegal. Sehingga peredaran rokok ilegal ini bisa ditekan yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi negara. Imbasnya pula, iklim industry kian bagus dan rakyat sejahtera,” tutupnya.(Adv/Kmf)