Pelinting sigaret kretek menunjukkan produk Rokok Manggala yang diproduksi satu-satunya pabrik rokok di Selopuro. (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Pelinting sigaret kretek menunjukkan produk Rokok Manggala yang diproduksi satu-satunya pabrik rokok di Selopuro. (Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Meski memasuki industry 4.0, produsen sigaret kretek tangan (SKT) masih diperhatikan pemerintah. Apalagi industri ini masih menyumbang devisa besar bagi negara. Prospek perusahaan rokok di Indonesia masih tetap cerah kendati banyak perusahaan kecil yang gulung tikar karena kalah di persaingan pasar.

Industri rokok Indonesia menyimpan sejarah yang sangat panjang. Kini, industri rokok di bumi Nusantara dikuasai oleh perusahaan-perusahaan raksasa. 

Namun, masih saja ada perusahaan rokok SKT yang tetap berdiri meski jumlahnya tidak banyak. Di Kabupaten Blitar, data di Kantor Bea Cukai menyebutkan ada 29 pabrik rokok yang masih berdiri. Tetapi, yang aktif kini hanya tinggal 5 pabrik. Salah satunya Perusahaan Rokok Kusuma Laksa Perkasa di Dusun Gading RT 01 RW 06, Desa Selopuro, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar.

Sekedar diketahui, Industri rokok di Indonesia mengenal setidaknya empat jenis rokok utama. Keempat jenis rokok itu adalah sigaret kretek tangan (SKT), sigaret kretek mesin reguler (SKM-R), sigaret kretek mesin mild (SKM-M), dan sigaret putih mesin (SPM). 

Perbedaan klasifikasi ini berdasarkan bahan baku pembuat rokok dan tata cara produksinya. Untuk jenis rokok SKT, produksi dalam proses pelintingan rokok masih menggunakan metode manual. Pabrik rokok Kusuma Laksa Perkasa memproduksi SKT dengan menelurkan produk Manggala.

Daerah Selopuro sendiri dulunya adalah pusatnya tembakau di Kabupaten Blitar dengan produk tembakau Selopuro yang pernah mendunia pada dasawarsa 1960-1990-an. Di Selopuro dulu banyak terdapat pabrik rokok. Namun kini tiarap dan tinggal menyisakan satu pabrik saja, yakni PR Kusuma Laksa Perkasa. 

Kali ini BLITARTIMES mencoba untuk berkunjung ke pabrik yang berada sekitar 300 meter arah selatan Pasar Selopuro. Dapat dikatakan pula, pabrik yang satu-satunya masih berdiri ini merupakan sisa-sisa dari kejayaan industri tembakau di Selopuro yang kini coba dibangkitkan lagi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar melalui program yang bersumber dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT).

Pabrik rokok di Selopuro ini berada di sebuah rumah yang tidak besar. Begitu masuk, tampak tiga orang pekerja pelinting rokok sedang mengerjakan pekerjaan mereka. Pelinting sigaret kretek saat ini adalah profesi langka. Padahal dulunya profesi ini pernah mengangkat ekonomi mayoritas warga di Selopuro pada era kejayaan pabrik rokok.

“Sugeng rawuh (selamat datang) Mas. Rokok kami sigaret kretek tanpa bahan kimia. Komposisinya tembakau, cengkih dan rempah-rempah dari Sumbawa. Kami berupaya mempertahankan rasa. Ini sesuatu yang membuat rokok kami tetap digemari oleh orang,” ujar Jimat, mandor pabrik rokok, menyambut kedatangangan tim BLITARTIMES di pabrik rokok satu-satunya di Selopuro itu.

Mempertahankan rasa, Jimat mengklaim rokok kretek Manggala ini mampu menembus pasar hingga luar daerah. Di antaranya Solo, Jogjakarta hingga Bandung. Uniknya, meski berada di Selopuro, pabrik ini tidak memakai varietas tembakau lokal (Selopuro). Tembakau Temanggung dan Madura menjadi varietas yang digunakan pabrik ini untuk mencipatakan rasa khas untuk produk kretek mereka.

“Yang utama itu rasa. Kami harus mempertahankan rasa rokok ini sejak dari pertama ada. Jangan sampai rasa ini berubah. Kami ciptakan rasa kretek ini kretek klasik, kretek Jawa. Kami pakai varietas tembakau Temanggung dan Madura. Jadi, tak heran orang Jawa Tengah banyak yang suka dengan rokok kami,” paparnya.

Tidak seperti pabrik-pabrik besar, pabrik rokok di Selopuro ini karyawannya hanya empat orang. Menurut Jimat, para pelinting seluruhnya adalah kaum perempuan. Karyawan banyak yang keluar karena faktor sosial, bukan karena masalah pasang surut pabrik.

“Ada yang mbobot dan melahirkan, lalu keluar. Ada yang keluar karena menikah. Dan untuk cari pengganti atau karyawan baru, itu tidak gampang. Melinting rokok itu tidak mudah. Butuh orang-orang profesional. Rokok kretek itu harus stabil, tidak boleh terlalu keras. Jadi, kalau sudah terbiasa, setiap ngambil pasti pas. Kalau masih belajar, komposisinya bisa kebanyakan, bisa terlalu sedikit. Untuk melinting rokok, butuh waktu belajar paling singkat satu bulan,” ungkap dia.

Dijelaskan, pelinting sigaret kretek di pabrik rokok ini dibayar secara borongan. Untuk 1.000 batang rokok, pekerja diberi upah Rp 25 ribu. Dalam sehari, rata-rata pekerja per orang bisa menghasilkan 2.000 lebih lintingan batang rokok. “Ya rata-rata per orang bisa menghasilkan Rp 50 ribu per hari. Kadang ada yang lebih juga,” katanya.

Pemerintah daerah memberikan cukup perhatian kepada pabrik rokok satu-satunya di Selopuro ini. Beberapa dinas terkait serta Bea Cukai aktif melakukan pemantauan. Terakhir Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Blitar melakukan monitoring dan evaluasi terkait perijinan dan kontrol amdal.

“Pembinaan ada, biasanya terkait dengan cukai. Petugas sering ke sini melihat-lihat. Kami terima kasih sekali diperhatikan oleh pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Sri Lestari, salah satu pelinting sigaret kretek di pabrik rokok ini, menuturkan, bekerja sebagai pelinting rokok masih cukup menjanjikan. Pekerjaan ini  cukup untuk biaya hidup sehari-hari dan membantu perekonomian keluarga.

“Alhamdulilah masih menjanjikan Mas. Harapan kami ke depan, pemerintah bisa lebih mempertahankan keberadaan industri rokok kecil. Karena bagaimanapun, industri semacam ini dapat menyerap banyak tenaga kerja,” pungkasnya. (kmf)