Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan bom bunuh diri Medan bisa jadi pintu masuk bongkar jaringan teroris dan berharap masyarakat mendukung langkah aparat (Ist)
Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan bom bunuh diri Medan bisa jadi pintu masuk bongkar jaringan teroris dan berharap masyarakat mendukung langkah aparat (Ist)

Menteri Koordinasi bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD, angkat bicara terkait peristiwa bom bunuh diri di Polrestabes Medan. 

Bom yang membuat pelakunya tewas seketika di tempat dengan kondisi mengenaskan serta melukai 4 orang lain dan menyebabkan kerusakan ringan kendaraan yang diparkir di lokasi ledakan.

Secara lugas Mahfud menyampaikan, dengan adanya tindakan teror itu, masyarakat bisa memberikan kesempatan pada aparat untuk melakukan penanganan dan tindakan hukum untuk membongkar jaringan pelaku.

"Kepada masyarakat jangan selalu nyinyir, kalau pemerintah bertindak lalu dikatakan melanggar HAM, kalau tidak bertindak dibilang kecolongan. Kita sama-sama dewasa menjaga negara ini. Jangan sampai aparat saat penanganan dan penangkapan disudutkan," kata Mahfud, Rabu (13/11/2019) kepada media.

Pernyataan Mahfud ini juga sebagai bagian dalam memberikan ruang kepada aparat yang kerap dalam proses penanganan dan penangkapan teroris selalu disudutkan dengan persoalan HAM oleh sebagian kelompok atau masyarakat.

Pasalnya, kasus seperti bom bunuh diri di Medan, sudah masuk dalam kategori tindakan radikal kedua yaitu pengeboman atau penyerangan.

"Ini harus ditindak karena sudah masuk yang kedua, jihadis namanya," ujar Mahfud yang membagi tindakan radikal dalam tiga klasifikasi.

Yakni, pertama menganggap orang lain musuh, kedua pengeboman atau penyerangan, lalu yang ketiga adu wacana tentang ideologi.

Dirinya juga menyampaikan, bahwa peristiwa bom bunuh diri Medan bisa juga jadi pintu masuk untuk membongkar jaringan teroris. Seperti peristiwa penusukan Wiranto, eks Menkopolhukam yang membuka pintu bagi aparat untuk membersihkan kelompok terorisme di Jawa Barat.

"(Kelompok teroris yang menyerang) pak Wiranto itu kan sudah lama tapi gimana cara ngambil, ini kan pelanggaran HAM, kalau sembarang diambil, begitu ada peristiwa, ambil dengan seluruhnya sampai 51 orang," terangnya yang juga menegaskan bahwa secara kuantitas teror di Indonesia semakin berkurang dibandingkan tahun 2017 dan 2018 lalu.

"Kita sudah mati-matian melakukan pencegahan teror sehingga kuantitasnya turun dibanding tahun-tahun lalu. Ini jangan sampai kalau aparat bertindak membongkar dan menangkap jaringan teroris, dinyinyirin. Dianggap melanggar HAM," imbuhnya.

Terpisah, Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan, pihaknya ikut berduka dengan peristiwa bom bunuh diri di Medan. Sehingga dirinya mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama melakukan antisipasi menyeluruh agar kejadian teror tak lagi terjadi.

"Berulang-ulang terjadi. Karena itu antisipasi menyeluruh seluruh pihak harus dilakukan bersama-sama. Pihak keamanan pun lebih waspada dengan adanya serangan bom bunuh diri ini," ucap Puan.
Pasalnya, para pelaku teror kini melakukan serangannya secara individu. Tak lagi bersama-sama seperti tahun-tahun lalu. "Dan kepolisian serta objek vital kantor menjadi targetnya. Karena ini agar pengamanan lebih ditingkatkan," ujarnya.