Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Enam Tokoh Nasional Tersohor dari Blitar, Dua di Antaranya Mantan Presiden RI

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Yunan Helmy

21 - Sep - 2018, 21:08

Placeholder
Presiden Pertama RI Ir Soekarno (Bung Karno).(Foto : Istimewa)

Blitar kutho cilik kang kawentar. Begitulah penggalan lagu daerah yang menggambarkan Blitar sebagai kota kecil yang termasyhur.

Kondisi geografis yang strategis, yaitu berada dibawah kaki Gunung Kelud dan dilewati Sungai Brantas yang membentang mulai dari ujung timur hingga ujung barat, membuat tanah Blitar sangat subur.

Sejak masa kerajaan, Blitar dipercaya sebagai wilayah yang telah disucikan bagi kaum brahmana. Pemilihan wilayah Blitar yang dijadikan sebagai tempat dimakamkannya para raja-raja besar tentu bukanlah suatu kebetulan. Pada zaman dahulu, pemilihan tanah untuk pendirian bangunan suci pastilah dipilih di tanah yang suci.

Indonesia sebagai negara modern tentu tidak bisa dilepaskan keberadaannya dari Blitar. Sebab, asal muasal Indonesia boleh dibilang berasal dari Blitar. Salah satunya pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya yang menyatukan Nusantara juga didarmakan di Blitar.

Selain itu, banyak sekali tokoh nasional yang berasal dari Blitar. BLITARTIMES merangkum enam tokoh nasional paling terkenal asal Blitar. Enam tokoh ini tentunya punya banyak prestasi dan sumbangan pembangunan untuk bangsa.

1.Soeprijadi

Fransiskus Xaverius Soeprijadi atau dikenal dengan nama Sodancho Soeprijadi (lahir di Trenggalek, Jawa Timur, 13 April 1923 adalah pahlawan nasional Indonesia dan pemimpin pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) terhadap pasukan pendudukan Jepang di Blitar pada Februari 1945.

Soeprijadi merupakan anak Raden Darmadi, bupati Blitar di era kemerdekaan. Di masa penjajahan Jepang, dia cukup dikenal khalayak sebagai seorang patriot yang mengenyam pendidikan kemiliteran PETA, pasukan bentukan Jepang yang tujuannya sebagai kekuatan cadangan kalau-kalau sekutu masuk ke Indonesia pada Perang Dunia II front Pasifik.

Cerita  perjuangan Shodanco Soeprijadi dan tentara PETA Blitar memberontak penjajah Jepang amat terkenal. Mozaik perjuangan pasukan PETA terus dikenang oleh Bangsa Indonesia hingga saat ini.

Pemberontakan PETA tersebut pada akhirnya menemui kegagalan. Namun spirit perjuangan tentara PETA Blitar di bawah komando Soeprijadi jadi pelecut perjuangan merebut kemerdekaan di berbagai wilayah. Hingga akhirnya Presiden Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Pasca pemberontakan, Soeprijadi pun menghilang dan tidak diketahui rimbanya. Ia ditunjuk sebagai menteri keamanan rakyat ke-1 dalam Kabinet Presidensial, tetapi digantikan oleh Imam Muhammad Suliyoadikusumo pada 20 Oktober 1945  karena Soeprijadi tidak pernah muncul.

Bagaimana dan di mana Soepriyadi wafat masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Jejak historis Shodanco Soeprijadi bisa ditemui di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar. Di desa paling ujung selatan Jawa itulah, Soeprijadi menemukan inspirasi perjuangan. Dan kemudian melakukan pemberontakan yang bersejarah pada 14 Februari 1945.

2. Soekarno

Siapa yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini. Ir Soekarno atau biasa disapa Bung Karno adalah presiden pertama Indonesia yang menjabat pada periode 1945 -1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Bung Karno bisa dibilang sebagai bapak pendiri bangsa. Selain memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno juga ikut merumuskan dasar negara yaitu Pancasila.

Soekarno dilahirkan di Blitar pada 6 Juni 1901 dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, berasal dari Buleleng, Bali. Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa, oleh orang tuanya, namanya diganti menjadi Soekarno.

Banyak pihak yang memperdebatkan sebenarnya di mana Soekarno dilahirkan. Dikutip dari rmol.co, sejarawan cum budayawan Ridwan Saidi mengatakan, dari fakta-fakta sosiologis yang dipelajarinya selama ini, tidak diragukan lagi Bung Karno lahir di Blitar, di rumah yang sekarang dikenal sebagai Istana Gebang Blitar.

Tetapi ada faktor-faktor di tengah keluarga yang akhirnya membuat Bung Karno memilih angkat kaki meninggalkan Blitar dan berusaha menghapuskan kota itu dari dalam kenangannya. "Soekarno muda jarang bertemu dengan ayahnya, Raden Sukemi, yang saat itu sangat sibuk sebagai agen zionis di Hindia Belanda," kata Ridwan Saidi lagi.

Ridwan Saidi mengutip studi yang dilakukan sejarawan Inggris MC Ricklefs, dalam buku Sejarah Indonesia Modern. Di dalam buku itu disebutkan bahwa Raden Sukemi adalah satu dari 13 agen zionis di Hindia Belanda.

3.Soekarni Kartowirjo

Mungkin nama Soekarni tidak seharum Soekarno. Sukarni Kartodiwirjo merupakan salah seorang tokoh pejuang dari Jawa Timur yang mendapat penghargaan gelar pahlawan nasional dari Presiden Joko Widodo. Pria kelahiran asli Blitar ini punya peran penting di balik sejarah proses pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI.

Saat prosesnya, Soekarni adalah sosok yang mewakili kelompok muda agar pasangan Soekarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan negara pada 17 Agustus 1945. Dia tidak menginginkan pasangan itu terlalu berpikir lama menyatakan kemerdekaan negara. Sejarah ini yang membuat kelompok pemuda harus melakukan ‘penculikan’ terhadap kedua pemimpin itu ke Rengasdengklok, Jawa Barat.

Sosoknya sejak kecil digambarkan sebagai orang yang membenci Belanda. Soekarni lahir hari Kamis Wage 14 Juli 1916 di Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Dia punya catatan gemar berkelahi dengan anak-anak Belanda. Hal ini dilakukannya hampir setiap hari. Pola pikir membenci Belanda ini karena tertanam oleh gurunya yang juga tokoh pergerakan Indonesia saat itu, Mohammad Anwar.

Dengan pola pikir yang tertanam seperti itu, tidak mengherankan kalau Soekarni kelak menjadi remaja kritis dan punya nasionalisme yan tinggi. Saat usia 14 tahun, dia sudah bergabung dengan organisasi perhimpunan Indonesia Muda. Sejak itulah, sikap pejuang, kritis, dan tanpa kompromi semakin muncul. Sampai ketika Soekarni didaulat menjadi ketua Pengurus Besar Indonesia Muda. Saat itu Soekarni baru berusia 20 tahun.

Dalam riwayat hidupnya, Soekarni juga pernah ditunjuk sebagai duta besar Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok pada 1961.Dia juga pernah ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1967. Tokoh yang pernah mendapat penghargaan Bintang Mahaputra ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971.

4. Boediono

Jauh setelah era revolusi, muncul lagi tokoh menonjol dari Blitar, yakni Boediono, yang digandeng oleh Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY sebagai wakil presiden. Boediono lahir di kampung Kepanjen Lor, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, pada 25 Februari 1943. Beragama Islam, salam bahsa Jawa, Boedi dapat diartikan sebagai berbaik hati (berbudi luhur). Sedangkan Ono dapat diartikan adalah ada. Jadi kalau digabung Boediono berarti ada kebaikan.

Boediono adalah wakil presiden Indonesia yang menjabat sejak 20 Oktober 2009. Ia terpilih dalam Pilpres 2009 bersama pasangannya, presiden yang sedang menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai gubernur Bank Indonesia, menteri koordinator bidang perekonomian, menteri keuangan, menteri negara perencanaan dan pembangunan nasional/kepala Bappenas, dan direktur Bank Indonesia (sekarang setara deputi gubernur).

Bukan secara kebetulan kalau keduanya dilahirkan dari kota yang sama seperti Bung Karno, yaitu Blitar. Demikian pula dalam soal memandang politik ekoniomi, memiliki kemiripan persepsi, sama-sama konsentrasi terhadap pengembangan perekonomian rakyat.

 

5. Susilo Bambang Yudhoyono

Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden keenam RI. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik Akabri (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949.

Meskipun SBY lazim diketahui berasal dari Pacitan, kota kecil dekat pantai selatan di Jawa Timur, dia masih memiliki keterkaitan spiritual dengan Kota Blitar. Ibundanya, Hj Siti Habibah Soekotjo, telah lama tinggal di Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Tercatat beberapa kali SBY sering sowan dan berkunjung ke kediaman ibundanya. Pada tahun 2004, sehari menjelang pilihan presiden, dengan didampingi istrinya, Hj Kristina Herawati, SBY menyempatkan diri untuk sowan dan meminta doa restu kepada ibunya di Blitar. Sebelumnya SBY tampak akrab menyalami para kerabat dan tetangga sebelum masuk rumah.

Selama pertemuan pribadi dengan ibundanya dan beberapa kerabat dekat SBY itu, pintu rumah ditutup dengan penjagaan ketat para pengawal pribadi. Setelah melakukan ritual sungkeman di dalam salah satu kamar yang terkunci dari dalam, SBY dan istrinya berpamitan kepada ibundanya untuk pulang kembali ke Jakarta.

6.Djarot Saiful Hidayat

Siapa yang tidak kenal dengan Djarot Saiful Hidayat. Mantan wali kota Blitar dengan segudang prestasi ini dilahirkan pada tanggal 30 Oktober 1955 di Gorontalo, Indonesia.

Djarot adalah salah satu anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Selain itu, dia pernah dilantik untuk menjabat sebagai ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Timur dari tahun 1999 sampai 2000. Sebelum berkecimpung sebagai aktivis politik, Djarot memiliki mata pencaharian utama sebagai dosen dan guru besar di Universitas 17 Agustus 1945, Surabaya. Tidak hanya sebagai dosen, dia juga merangkap tugas sebagai pembantu rektor I di universitas tersebut pada tahun 1997 hingga 1999.

Meskipun ia dilahirkan di Gorontalo, Djarot pernah menjabat sebagai wali kota Blitar dalam 2 periode, dengan masa jabatan dari tahun 2000 hingga 2010. Sebagai seorang pimpinan di kota Blitar, dia sangat membatasi adanya kehidupan metropolitan yang serba mewah di kotanya, seperti berdirinya Mall bertingkat-tingkat dan gedung-gedung pencakar langit. Dia lebih suka pedagang kaki lima yang mendominasi roda perekonomian di kotanya.

Dengan konsep matang yang telah durencanakan, dia berhasil menata 1.000-an pedagang kaki lima yang dulunya kumuh di kompleks alun-alun menjadi tertata rapi. Rencana yang ia terapkan ternyata berhasil mendongkrak perekonomian di Blitar, tanpa adanya mal dan supermarket layaknya di kota-kota besar.

Djarot kemudian terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Kekosongan jabatan wakil gubernur DKI Jakarta pasca terpilihnya Presiden Jokowi membuat Djarot melepaskan keanggotaan dari DPR. Djarot diangkat sebagai wakil gubernur DKI Jakarta, mendampingi Ahok sampai akhir masa jabatan tahun 2017.

Tidak berhenti di situ, Djarot yang kader PDIP kembali diusung partai berlambang banteng tersebut untuk maju di Pilgub DKI 2017. PDIP menyandingkan lagi Ahok-Djarot sebagai calon petahana gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. (*)​


Topik

Peristiwa berita-blitar Enam-Tokoh-Nasional-Tersohor-dari-Blitar Soeprijadi Soekarno Soekarni-Kartowirjo Boediono Susilo-Bambang-Yudhoyono Djarot-Saiful-Hidayat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa