Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Berhenti Kerja, Dalami Lukisan Pirografi

Penulis : Agus Salam - Editor : Heryanto

12 - Sep - 2018, 02:23

Placeholder
Agustinus Eko Nurwidiyanto dengan hasil karyanya lukisan pirografi tiga dimensi (Agus Salam/Jatim TIMES)

Karya lukis warga Kota Probolinggo yang satu ini, tidak seperti lukisan kebanyakan.

Selain timbul atau tiga dimkensi, lukisan yang dibuat Agustinus Eko Nurwidiyanto (51) terkesan alami atau natural, karena hanya bercorak hitam dan coklat, warna dasar alam.

Meski baru tiga bulan menekuni lukisan tiga dimensi yang diberi nama lukisan Pirografi tersebut, ada beberapa yang sudah laku.

Di antaranya, lukisan sapi brujul yang dipesan warga Kalimantan. Selain itu lukisan karyanya juga sudah laku dan dikirim ke sejumlah kota, Diantaranya, Jakarta, Surabaya dan sekitarnya serta dari Kota Probolinggo sendiri.

Lukisan yang sudah dibuatnya dipajang digerai yang disewanya di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Sukabuni, Kecamatan Mayangan, Kota setempat. Bahkan gerai yang tak jauh dari rumah tinggalnya itu, juga dipakai workshop atau tempat melahirkan dan membuat karya lukisnya.

“Ya, saya sewa. Dulu dipakai cafe pujasera. Karena sepi, kita tempato showroom dan workshop,” aku Eko, Senin (11/9) sore.

Pria beranak tiga itu mengaku memilik bakat melukis sejak masih sekolah. Namun, bkatnya terpendam saat sibuk bekerja di perusahaan swasta.

Eko mengaku pernah manjadi menejer di perusahaan ekowisata BKBR (Bee Jay Bakau Resort) PT Sasa Inti, BFI (Bromo Falcata Indonesia) serta karyawan di PT KTI (Kutai Timber Indonesia).

“Semuanya kami tinggalkan. Akhirnya bakat yang sudah terpendam, kami gali lagi,” katanya.

Pria yang hanya tamatan SMA tahuu 1988 tersebut kemudian membuka kafe.

Lantaran sepi, ia kemudian mencoba merintis usaha kerajinan mainan tradisional anak-anak. Jadi tidak salah, kalau digerainya masih ada spanduk bertuliskan “Dolanan Indonesia”, kreatifitas Asli orang Probolinggo. Tiga bulan yang lalu, ia banting setir ke seni corat-coret dimedia kanvas, seperti jiwanya.

“Kami ingin beda dengan yang lain. Akhirnya kami memilih lukisan tiga dimensi berbahan baku sisa kayu seperti sekarang ini,” ujarnya.

Menurutnya, lukisan yang kini ditekuni diberi nama Lukisan Pirografi Tiga Dimensi.

Alasannya, karena alat yang dipakai untuk memberi corak atau kesan hitam pada lukisannya, bernama Pirografi.

Sebuah alat seperti solder, namun di bagian ujungnya terlilit kawat berbahan nikelin tahan panas.

Jika ditancapkan ke arus listrik, bagian ujung alat tersebut membara dan jika diditempel ke media bahan baku kayu, menghitam seperti kena bakar.

Cara seperti itulah, sehingga lukisan hasil karya putra Kota Probolinggo tersebut, menjadi tampak indah dan natural. Seperti pada lukisan sapi brujul yang dibandrol Rp1,5 juta.

Lekukan tubuh sapi tampak, setelah motif sapi yang terbuat dari kayu bekas tersebut dipirografi.

“Lekukan tubuh sapi atau lekukan pakaian lukisan orang, kami hitamkan dengan alat ini. Ini namanya Pirografi,” tandasnya.

Tak hanya itu, alat tersebut juga digunakan menggores tanaman agar terkesan seperti dahan dan daun.

Menurutnya, dengan pirografi yang dibuatnya sendiri lukisan yang awalnya datar, menjadi berbentuk seperti aslinya, hanya saja warnanya hitam (Gosong).

Lantaran bagian-bagian lukisan dibakar dengan alat pirografi, sehingga ornamen yang ada di lukisan tanpak lebih indah dan dari kejauhan, tampak seperti aslinya.

“Enmggak mau saya warna-warni. Lebih bagus warna alam seperti coklat dan hitam,” jawabnya saat ditanya, mengapa tidak ada warna lain.

 

 

Mengenai harga, Eko menyesuaikan ukuran dan kerumitan pembuatan sebuah lukisan. Untuk ukuran 1,2 meter x 90 cm dibandrol Rp 1,5 juta.

Sementara paling murah ukuran 30 cm x 20 cm yang diberi tarip Rp300-san ribu.

Saat ini, karya Eko sudah dibeli warga Kalimantan, Jakarta, Suurabaya dan kota kabupaten sekitar. Lukisan sapi brujul sudah laku dua buah dibeli pemkot Probolinggo.

“Oleh Pemkot diberikan ke kota lain sebagai cendramata atau oleh-oleh saat kota lain berkunjung ke sini,” ujarnya.

Ditanya soal bahan, pria berbusana rapi dan necis ini mengatakan, tidak sulit bahkan melimpah. Karena saking melipahnya, ia berkeinginan ada kelompok seni apasaja yang berbahan baku kayu bekas bergabung.

Seluruh bahan sisa kayu seperti potongan sirap, triplek, bahan tripleks sebelum jadi dan serbuk gergaji kayu diberi cuma-cuma oleh PT KTI.

“Gratisi. Berapapun yang diminta, diantar. Makanya kami ingin mengumpulkan pengrajin apa saja yang bahan bakunya kayu. Akan saya beri gratis, karena tidak boleh dijual oleh KTI. Kami diminta hanya menghitung, dana yang didapat dari membuat kerajinan atau seni lukis,” lanjutnya.

Dirinya tidak boleh menjual limbah kayu yang diberi KTI secara langsung. Tetapi harus berbentuk kerajinan atau lukisan atau berbentuk apa saja. Dan uang yang didapat untuk dirinya dan kelompoknya, PT KTI tidak meminta bagian.

Karenanya, Eko berharap warga probolinggo untuk memanfaat peluang tersebut, terutama bagi pengangguran yang memiliki jiwa membuat sesuatu yang bisa dijual.

“Monggo buat kelompok. Kemudian gabung dengan kami. Saya beri bahannya gratis,” pungkasnya ke sejumlah wartawan.


Topik

Agama probolinggo berita-probolinggo



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Agus Salam

Editor

Heryanto