Kemerdekaan Indonesia nyatanya tak pernah bisa dilepaskan dari peran serta para alim ulama. Pengakuan negara terhadap perjuangan para santri dan ulama dalam merebut kemerdekaan ditegaskan dengan lahirnya Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober.
Begitu besar sumbangsih perjuangan ulama dalam memerdekakan bangsa ini. Namun demikian masih banyak orang yang tidak tahu sehingga dari waktu kewaktu cerita tentang mereka (ulama pejuang) semakin memudar.
Salah satu alim ulama yang perannya tak pernah tercatat dalam lembaran buku sejarah ialah KH Manshur. Beliau adalah kiai Pucung bin Kiai Abu Manshur (KiaiThoya) yang merupakan putra ketujuh dari sembilan bersaudara. Tidak ada catatan khusus kapan KH Manshur dilahirkan, Namun menurut sumber yang dilansir BLITARTIMES dari halaqoh.net menyebutkan bahwa beliau lahir sekitar tahun 1881-an, dan wafat di tahun 1964-an.
Kiprah KH Manshur dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tidak bisa dilupakan begitu saja. Karena beliau lah yang menggembleng para pejuang di wilayah Blitar dan sekitarnya. Selain itu KH Mansyur yang juga dikenal sebagai pengisi suwok (sang pendoa) bambu runcing yang akan digunakan para pejuang kala itu untuk mengusir penjajah.
Bambu runcing yang digunakan sebagai senjata utama arek-arek Surabaya pada pertempuran 10 November jarang diketahui kalau aslinya didatangkan dari Blitar. Bambu runcing ini sebelumnya di asmak atau disepuh di Desa Kalipucung Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar, oleh seorang tokoh agama bernama KH. Manshur.
"Bambu runcing itu pertama kali dibawa dari Paraan, Temanggung, Jawa Tengah dari Kyai Subchi. Setelah pulang dari Paraan, tiba-tiba dirumah sini ada pertanda sebuah benda putih yang turun diatas rumah atau orang Jawa sering menyebutnya Pulung, baru setelah itu banyak santri dan anggota tentara keamanan rakyat (TKR) yang membawa bambu runcingnya kesini sebelum perang ke Surabaya," ucap Kyai Hashim putra bungsu KH Manshur.
Pria 78 tahun ini, menuturkan jika bambu runcing sebelum dibawa ke Surabaya direndam disebuah kolam. Kemudian pemilik bambu runcing digembleng dengan puasa putih dan puasa pati geni, kemudian dimandikan disebuah kolam yang terletak di belakang rumah KH Manshur.
"Setelah itu baru mereka berangkat ke Surabaya membawa bambu runcing untuk melawan penjajah," ujar Kyai Hashim.
Demikian sentral peran dan tugas yang diemban KH Manshur saat itu, tak ayal Kiai Manshur menjadi salah satu target utama yang diburu Belanda untuk dilenyapkan. Sebab selain menjadi pengisi suwok senjata pejuang saat berberang, beliau juga mengajari pasukan dengan sejumlah teknik perang, dan keberanian serta semangat pantang menyerah para pejuang yang terlibat pertempuran di sejumlah kawasan.
Dari perkataan ayahnya dulu, Kiai Hashim mengatakan bahwa pada saat perang dahulu penjajah paling enggan untuk melawan gerombolan pasukan bambu runcing. Alasannya sepele, banyak yang tidak ingin mati dengan keadaan yang tersiksa. Seperti yang diketahui, akan lebih baik bagi penjajah itu ditembak dengan peluru meskipun terkena organ vital. Ya, jika terluka pun bisa dengan mudah diobati sedangkan jika fatal pun bisa langsung meninggal. Sedangkan jika menggunakan bambu runcing pastinya akan menimbulkan kematian yang sengsara. Mulai dari infeksi hingga luka yang mungkin tak kunjung sembuh.
“Pemuda saat ini banyak yang menganggap remeh bambu runcing kok bisa lawan senapan. Faktanya memang begini penjajah takut melawan kita. Sebab kita punya semangat yang tinggi dalam membela tanah air dengan nyawa,” katanya. (*)
