Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Mengapa Dulu Perempuan Indonesia Bertelanjang Dada?

Penulis : Pipit Anggraeni - Editor : A Yahya

17 - Jun - 2018, 19:00

Placeholder
Potret perempuan Indonesia yang bertelanjang dada (salah satu koleksi yang dipajang di Hotel Tugu Kota Malang)

Saat membuka dokumen sejarah tentu ada hal menarik yang membuat kita bertanya-tanya. Salah satunya adalah alasan perempuan Indonesia bertelanjang dada dan tak mengenakan penutup sama sekali.

Kita yang melihatnya sekarang tentu sangat kaget. Karena dari foto dan video di era abad ke 19 itu terlihat bahwa perempuan Indonesia yang juga terkenal eksotis merasa sangat biasa beraktivitas tanpa mengenakan penutup pada bagian dada.

Namun hal itu bukanlah sesuatu yang harus dianggap tabu. Karena itu menjadi perjalanan manis akan perkembangan budaya dan sejarah Indonesia di masa lalu.

Selain dilatarbelakangi kebiasaan dan budaya yang melekat pada setiap kalangan, pemakaian busana juga tak lepas dari perkenalan masyarakat dengan industri tekstil dan kain. Iklim tropis, tentu memberi sentuhan tersendiri bagi masyarakat Indonesia dalam berbusana.

Di berbagai daerah, awal mula penggunaan kain sebagai busana menurut sejarawan Abdul Latief Bustami beragam. Bahan yang digunakan juga berbeda antara satu daerah dengan daerah yang lain.

Namun di awal pengenalannya, masyarakat Indonesia menurutnya memang lebih menutup bagian bawah tubuhnya, dan yang paling diutamakan adalah bagian kemaluan saja. 

Dia pun menegaskan jika sebelum pengaruh asing masuk, masyarakat Indonesia di masa lalu sudah mengenal busana. Hal itu dapat dilihat melalui relief candi di abad ke 11 Masehi.

"Bisa dilihat dari relief candi, terlihat jelas bahwa mereka mengenakan pakaian atau penutup kain di bagian bawah sampai lutut bagi laki-laki dan perempuan sampai mata kaki," jelasnya pada MalangTIMES.

Pada perkembangan berikutnya, teknologi tenun mulai dikenalkan sekitar abad ke 13 Masehi. Sejak saat itu, masyarakat mulai mengenal cara untuk membuat kain dan menutup lebih banyak bagian tubuhnya.

Dalam sumber sejarah berangka tahun 1800 an, tak sedikit pula perempuan Indonesia yang digambarkan mengenakan kemben atau penutup bagian atas hingga dada. Namun di abad ke 20 M juga masih ditemukan dokumen yang menunjukkan perempuan Indonesia masih bertelanjang dada.

"Itu bukan sebuah masalah, karena berkaitan dengan keyakinan dan budaya masing-masing. Meskipun di abad 20 M Islam sudah masuk, tapi budaya asli masih tetap tumbuh subur," jelasnya lagi.

Ketika perempuan Eropa mulai memasuki Nusantara di abad ke 19 M, memang tak banyak perubahan pada segi berbusana perempuan Indonesia. Kebanyakan mereka mengenakan sewek dan berkemben. 

Kemudian pada dokumen di abad ke 20 M, banyak diperlihatkan potret perempuan Indonesia khususnya Jawa yang berbusana lebih tertutup. Seperti mengenakan sewek panjang dan atasan seperti kebaya.

Salah satunya seperti yang digambarkan oleh J.Z Van Dyck di tahun 1922. Potretnya tersebut menunjukkan seorang perempuan Priangan yang mengenakan sewek panjanh serta kebaya sederhana dan selendang yang disilangkan dari bahunya untuk membawa sebuah alat yang sepertinya untuk menaruh sayuran.

Selain itu, terdapat pula foto para nyai (perempuan yang diperisteri oleh bangsa Eropa) dengan keluarga kecilnya. 

Salah satunya foto keluarga Minah, pperempuan asal Jawa Tengah yang diperisteri oleh seorang anggota militer asal Eropa bernama Thomas. Foto Minah dan Thomos beserta ke dua anak tertuanya diambil pada 1897.

Dalam potret tersebut, Minah tampak mengenakan kebaya dan sewek serta selendang untuk menggendong puterinya yang didandani dengan gaun Eropa. Sedangkan suaminya Thomas tampil gagah dengan mengenakan seragam militernya. 


Topik

Agama perempuan-indonesia bertelanjang-dada



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Blitar Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Pipit Anggraeni

Editor

A Yahya