Sejarah Banjir Bandang di Sumatera dan Update Terbaru Bencana 2025

29 - Nov - 2025, 05:26

Banjir di Sumatera pada November 2025. (Foto: X)

JATIMTIMES - Banjir bandang di Sumatera bukanlah fenomena baru. Sejak masa kolonial pada abad ke-19, wilayah ini sudah berkali-kali dilanda banjir besar yang merusak permukiman, memutus akses transportasi, hingga menelan korban jiwa. Kondisi geografis yang dipenuhi pegunungan, aliran sungai yang curam, serta curah hujan tinggi membuat Sumatera sangat rentan terhadap banjir bandang dan tren ini terus berulang hingga hari ini.

Di sisi lain, kerusakan lingkungan dan pembangunan yang tak sesuai tata ruang membuat dampak banjir di Sumatera semakin besar dari waktu ke waktu. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut sejarah lengkap banjir bandang di Sumatera dari era kolonial hingga bencana besar yang kembali terjadi pada tahun 2025.

Baca Juga : Jejak Zulkifli Hasan Saat Jadi Menteri Kehutanan Era SBY, Pernah Ditegur Harrison Ford

Catatan Banjir Bandang di Era Kolonial

1. Banjir Besar Tanah Datar (Fort van Der Capellen), 1875

Surat kabar Bataviaasch Handelsblad pada 29 April 1875 mencatat banjir besar yang melanda Tanah Datar. Beberapa korban jiwa dilaporkan terseret arus, sementara gudang-gudang kolonial ikut terendam. Lebih dari 50 pikul kopi hanyut, menyebabkan kerugian ekonomi besar pada masa itu.

2. Banjir Bandang Lembah Anai, 1892

Pada Desember 1892, galodo besar menghantam Lembah Anai. Hujan ekstrem dan aktivitas Gunung Marapi disebut berperan dalam kejadian ini. Jalur kereta api dan jembatan kolonial rusak parah, dan komunikasi terputus berbulan-bulan. Biaya perbaikan waktu itu mencapai lebih dari setengah juta gulden.

3. Banjir Bandang Lembah Anai, 1904

Belum selesai pemulihan dari bencana 1892, Lembah Anai kembali luluh lantak pada Januari 1904. Hujan deras memicu banjir besar yang merobohkan jembatan, menghancurkan jalur kereta api, dan memutus komunikasi telegraf. Kerugiannya diperkirakan mencapai 500 ribu gulden.

4. Rangkaian Banjir Bandang Padang Panjang – Lembah Anai (1904–1906)

Selama tiga tahun, wilayah ini dilanda banjir bandang sedikitnya enam kali. Infrastruktur kolonial yang sedang dibangun banyak rusak, dan biaya pemulihan semakin membengkak.

Bencana Pasca Kemerdekaan

1. Banjir Bandang 1978–1979

Solok Selatan dan kawasan sekitar Gunung Marapi dilanda banjir bandang besar. Air bah membawa material kayu dan lumpur, menghancurkan permukiman di lereng.

2. Banjir Bandang Bahorok (Sumatera Utara), 2003

Salah satu banjir paling mematikan di era modern. Lebih dari 100 orang tewas akibat aliran besar dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Pembalakan liar disebut sebagai penyebab utama hilangnya fungsi hutan.

3. Banjir Bandang Aceh Selatan, 2006

Ribuan rumah rusak di tiga kecamatan. Meski tidak ada korban jiwa, sekitar 5.000 warga harus mengungsi.

Banjir Bandang Sumatera 2017–2022

• Sumatera Utara (2017)

Batang Ayumi meluap setelah hujan deras, menewaskan lima warga dan merusak puluhan rumah.

• Sumut – Sumbar (2018)

Banjir besar melanda Mandailing Natal, Sibolga, Tanah Datar, hingga Pasaman Barat. Banjir membawa batu besar dan kayu gelondongan sehingga kerusakannya sangat masif.

• Bengkulu (2019)

Sembilan kabupaten/kota terdampak banjir dan longsor. Puluhan orang meninggal, ribuan mengungsi, dan kerugian diperkirakan mencapai Rp144 miliar.

• Lima Puluh Kota, Sumbar (2020)

Banjir yang terjadi pada dini hari menggenangi Nagari Simpang Sugiran. Beruntung tidak ada korban jiwa berkat evakuasi cepat warga.

Banjir Bandang Sumatera 2025

Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir November 2025 menjadi salah satu yang paling mematikan dalam sejarah Indonesia modern. Hujan ekstrem, kondisi tanah jenuh, serta longsor di banyak titik menyebabkan kerusakan besar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Update Terbaru Korban (per Sabtu, 29 November 2025):

Total korban meninggal: 174 orang

Korban hilang: 79 orang

Korban luka-luka: 12 orang

Rincian per Provinsi:

Sumatera Utara:

- 116 meninggal

- 42 hilang

Aceh:

- 35 meninggal

- Puluhan masih hilang

Sumatera Barat:

- 23 meninggal

- Belasan korban hilang dan luka-luka

Data diperkirakan masih bertambah karena banyak lokasi masih terisolasi akibat jalan putus, jembatan roboh, dan komunikasi terhenti.

Wilayah Paling Parah Terdampak

Banjir dan longsor melanda puluhan kabupaten/kota di tiga provinsi. Daerah dengan dampak terparah antara lain:

Sumatera Utara:

Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Sibolga, Mandailing Natal.

Sumatera Barat:

Padang, Agam, Padang Pariaman, Pasaman Barat.

Aceh:

Aceh Tenggara, Aceh Selatan, beberapa wilayah pesisir dan perbukitan.

Ribuan rumah rusak, fasilitas umum hancur, serta listrik dan air bersih terputus di banyak titik.

Peringatan Cuaca dari BMKG

BMKG Minangkabau sebelumnya mengeluarkan peringatan potensi bencana untuk 21–27 November 2025. Namun kondisi atmosfer berkembang cepat. BMKG kemudian memperpanjang peringatan tersebut karena adanya:

• Pengaruh Bibit Siklon Tropis 95B

Baca Juga : Bapanas, Bulog, Bersama Anggota Komisi IV DPR RI H Sumail Abdullah Salurkan Bantuan Pangan 2025 di Situbondo

• Massa udara basah yang terakumulasi di wilayah barat Sumatera

• Potensi hujan ekstrem pada 26–29 November 2025

Penyebab Utama Banjir Bandang di Sumatera

1. Faktor Alam: Cuaca Ekstrem & Topografi Pegunungan

Sumatera berada di jalur cuaca tropis yang menampung banyak awan hujan.

Lereng curam membuat air dari hulu mengalir cepat ke hilir.

Hujan ekstrem, termasuk fenomena La Niña dan sistem tekanan rendah, memicu aliran deras yang membawa material berat.

2. Faktor Manusia: Kerusakan Hutan & Tata Ruang Buruk

Deforestasi untuk perkebunan, tambang, dan aktivitas ilegal membuat hutan kehilangan fungsi menahan air.

Penyempitan dan pendangkalan sungai akibat sedimentasi memperparah luapan.

Pembangunan di bantaran sungai membuat risiko semakin besar.

Kombinasi deforestasi dan curah hujan ekstrem inilah yang membuat banjir bandang sulit dikendalikan.

Sejarah banjir bandang di Sumatera menunjukkan bahwa bencana ini bukan terjadi tiba-tiba. Polanya sudah terlihat sejak lebih dari satu abad lalu dan kini semakin sering terjadi dengan dampak yang jauh lebih besar.

Bencana besar pada November 2025 menjadi pengingat bahwa mitigasi, pemulihan fungsi hutan, dan tata ruang yang benar sangat penting untuk mencegah bencana serupa di masa mendatang.