Mini Art Malang #7 Hadirkan 220 Seniman, Pameran AKAR Ajak Publik Menelusuri Jati Diri dan Memori Budaya
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
18 - Jul - 2026, 06:35
JATIMTIMES - Pameran seni rupa tahunan Mini Art Malang (MAM) #7 resmi dibuka di Malang Creative Center (MCC), Kota Malang, Jumat (17/7/2026). Mengusung tajuk “AKAR”, penyelenggara tidak hanya menghadirkan ratusan karya seni, tetapi juga mengajak masyarakat merefleksikan asal-usul, identitas, hingga nilai budaya yang menjadi fondasi kehidupan.
Pameran berlangsung hingga 30 Juli 2026 di lantai 4 dan 5 MCC dengan jam operasional 09.00–21.00 WIB. Tiket masuk dibanderol Rp 25 ribu untuk umum dan Rp 15 ribu bagi pelajar yang mengenakan seragam.
Baca Juga : Cegah Penyebaran LGBT Lewat Regulasi, Ketua Dewan: Jangan Sampai Masyarakat Bertindak Sendiri
Kurator MAM #7, Leck Budi, mengatakan pemilihan tema “AKAR” berangkat dari keinginan menghadirkan ruang kontemplasi melalui seni. Menurutnya, akar bukan sekadar bagian tumbuhan yang tersembunyi di bawah tanah, tetapi simbol yang menopang kehidupan.
“Meski akar berada di bawah tanah dan tak terlihat, ia adalah sumber kehidupan utama yang memungkinkan sebuah pohon-baik itu berupa ide, kreativitas, maupun kebudayaan-untuk tumbuh, tegak berdiri, dan berkembang,” ucap Leck.
“Akar melambangkan landasan yang kuat, nilai-nilai dasar, serta koneksi mendalam yang tak terpisahkan antara manusia, alam, lingkungan, dan komunitasnya,” imbuh Leck.
Ia mengatakan, konsep tersebut kemudian diterjemahkan menjadi refleksi yang lebih luas mengenai sejarah personal, asal-usul keluarga, budaya lokal, cerita rakyat, hingga ingatan kolektif yang membentuk peradaban.
“Akar kami posisikan sebagai representasi sejarah personal, keluarga, serta asal-usul budaya tempat seseorang bernaung. Konsep ini meluas hingga mencakup tradisi lokal, cerita rakyat, hingga ingatan kolektif yang membentuk peradaban manusia saat ini,” tambahnya.
Tema tersebut mendapat respons dari ratusan seniman dengan interpretasi yang beragam. Tahun ini terdapat 171 seniman yang mengisi ruang utama pameran. Mereka menghadirkan karya dua dimensi maupun tiga dimensi dengan berbagai pendekatan, mulai dari realisme, ekspresionisme, abstrak hingga konseptual.
Tak hanya itu, penyelenggara juga menghadirkan lima zona khusus, yaitu Zona Sepilihan Perupa Muda Jawa Timur, Paviliun Kota Pasuruan, Pameran Tugas Akhir lima perguruan tinggi di Jawa Timur, Pameran Tunggal Happy Wahyudi Firdaus, serta Representasi MTN LAB 2025. Dengan tambahan lima zona tersebut, total seniman yang berpartisipasi mencapai 220 orang.
Baca Juga : Profil Slavko Vinčić, Wasit Asal Slovenia yang Pimpin Final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina
Leck menilai keberagaman peserta menjadi kekuatan utama MAM #7. Selain mempertemukan seniman profesional dan perupa muda, pameran ini juga membuka ruang dialog antargenerasi dalam membaca persoalan identitas dan budaya.
Karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menyampaikan berbagai isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Mulai dari hubungan spiritual manusia dengan alam, ketahanan hidup (survival), identitas budaya, hingga kritik terhadap persoalan sosial yang berkembang saat ini.
“Melalui karya-karya ini, publik kami ajak kembali mengenali dasar kehidupan mereka, menjaga nilai-nilai luhur yang dimiliki, menyerap energi positif dari sejarah, dan tumbuh menuju masa depan tanpa kehilangan jati diri,” ungkap Leck.
Mini Art Malang sendiri telah berkembang menjadi salah satu agenda seni rupa yang konsisten digelar di Kota Malang. Berdasarkan kajian akademik Universitas Brawijaya, penyelenggaraan MAM selama beberapa tahun terakhir berperan sebagai ruang apresiasi sekaligus wadah lahirnya perupa-perupa muda di Malang dan daerah lain di Indonesia.
