Cegah Banjir Bandang di Hulu Sungai Brantas, Warga Tanam Pohon dan Hidupkan Tradisi Sumber Air
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
12 - Apr - 2026, 09:56
JATIMTIMES - Upaya mencegah bencana banjir bandang di kawasan hulu Sungai Brantas terus digencarkan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat hingga lembaga adat. Salah satunya diwujudkan lewat kegiatan Diklat Rumat Sumber bertema “Menjaga air merawat budaya” yang digelar Yayasan Nawadya Cita Nusantara di Kota Batu, Sabtu-Minggu (11-12/4/2026).
Pelatihan ini diikuti kader rumat sumber dari Desa Bulukerto dan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, mulai dari kelompok tani hutan, juru pelihara sumber, hingga tokoh masyarakat. Mereka dipersiapkan menjadi garda depan dalam menjaga kelestarian mata air sekaligus meminimalisir risiko bencana di wilayah hulu.
Baca Juga : Pemkot Blitar Pasang Alat Pengusir Blekok untuk Jaga Kebersihan Alun-Alun
Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, mengingatkan bahwa ancaman banjir bukan hal baru bagi wilayahnya. "Ada folklore yang berkembang secara turun temurun, banjir serupa terjadi 100 tahun lalu,” ucapnya.
Trauma banjir bandang lima tahun silam yang menewaskan tujuh warga menjadi pengingat nyata pentingnya menjaga kawasan hulu. Peristiwa tersebut diduga kuat dipicu alih fungsi hutan lindung menjadi lahan pertanian sayur yang mengurangi daya serap air.
Kini, perlahan kesadaran itu mulai tumbuh. Para petani hutan mulai beralih menanam tanaman keras seperti kopi dan alpukat sebagai bentuk konservasi sekaligus upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Tak hanya pendekatan ekologis, pelestarian juga dilakukan melalui jalur budaya. Lembaga adat setempat terus menghidupkan tradisi menjaga sumber air, termasuk merawat Sumber Belik Sumo yang dianggap sebagai sumber kehidupan warga sejak dahulu.
“Secara turun temurun diwariskan membaca tanda-tanda alam dalam pertanian dengan teknologi pranata mangsa. Pengetahuan ini perlu dilestarikan, jangan ditinggalkan,” kata Suhermawan.
Upaya ini akan diperkuat melalui Festival Mata Air yang rencananya digelar di Umbul Gemulo pada 19 dan 23 April 2026. Kegiatan tersebut meliputi kerja bakti membersihkan sumber air, ritual selamatan, hingga diskusi ekologi.
Sementara itu, Ketua Kaliku Lestari Nusantara, Sugeng Widodo, menilai banjir bandang di kawasan dataran tinggi seperti Batu merupakan fenomena yang tidak lazim.
“Dataran tinggi seperti Batu seharusnya tidak mudah terkena banjir bandang. Ini tanda ada yang berubah dari ekosistemnya,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menanam pohon di kawasan tangkapan air sebagai langkah konkret memulihkan fungsi hutan.
Baca Juga : Pengertian Hari Pentakosta: Sejarah, Makna, dan Jadwal Perayaan 2026
“Mengembalikan nyawa air dengan menanam pohon. Menjaga warisan leluhur,” tegasnya.
Sugeng juga menyoroti dampak alih fungsi lahan yang masif, mulai dari berkurangnya debit mata air hingga meningkatnya suhu udara. Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga memengaruhi daerah lain yang dialiri Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.
“Perlu bergotong-royong menanam, dan merawat pohon. Tidak cukup hanya menanam, tapi juga harus dijaga agar tetap hidup,” tambahnya.
Di sisi lain, nilai-nilai lokal tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga keseimbangan alam. Ariyono dari lembaga adat Bulukerto mengungkapkan bahwa puluhan tahun lalu, warga rela mengantre demi mendapatkan air dari Sumber Belik Sumo.
“Sumber Belik Sumo merupakan kehidupan warga. Setiap tahun dilakukan metri atau selamatan sumber,” ujarnya.
Meski kini kebutuhan air sudah terpenuhi melalui jaringan perpipaan, tradisi dan pantangan adat tetap dijaga. Hal ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
