Dari Mimbar ke Mihrab: Pendeta Yahudi Ini Temukan Kebenaran Islam Lewat Taurat
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Dede Nana
28 - Mar - 2026, 09:15
JATIMTIMES - Perjalanan spiritual seorang pendeta Yahudi di Yastrib menjadi kisah yang tak lekang oleh waktu. Ia bukan sekadar tokoh agama, tetapi juga seorang pencari kebenaran yang akhirnya mengubah jalan hidupnya secara drastis setelah menemukan petunjuk dalam kitab sucinya sendiri.
Sosok itu dikenal sebagai Husen bin Salam, seorang pemuka agama Yahudi yang dihormati karena keluasan ilmu dan keteguhan akhlaknya. Hari-harinya dihabiskan dalam kedalaman tafsir Taurat, mengajar umat, serta beribadah di kuil. Dari aktivitas itulah muncul kegelisahan sekaligus harapan tentang kedatangan nabi akhir zaman.
Baca Juga : Pariwisata Telaga Sarangan Menurun, Ketua Pokdarwis Magetan Desak Sistem Informasi Satu Pintu
Dalam kajiannya terhadap Taurat, Husen berulang kali menemukan penyebutan tentang seorang utusan bernama Ahmad. Ciri-ciri yang dijelaskan begitu rinci, berasal dari bangsa Arab, membawa risalah universal, dan akan muncul di wilayah Yastrib.
Pengetahuan itu tidak berhenti sebagai pemahaman semata. Ia berubah menjadi keyakinan yang diam-diam disimpan. Di tengah mayoritas kaumnya yang menolak kemungkinan nabi terakhir datang dari luar Bani Israel, Husen memilih berhati-hati. Ia menyembunyikan keyakinannya sambil menunggu waktu yang tepat.
Momen yang dinanti akhirnya tiba ketika kabar hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Yastrib mulai terdengar. Husen tidak langsung bergabung dengan kerumunan penyambut, melainkan memilih mengamati dari kejauhan. Ia bahkan memanjat pohon kurma tertinggi untuk memastikan apakah sosok yang datang sesuai dengan gambaran yang selama ini ia pelajari.
Ketika keyakinan itu menguat, hatinya pun mantap. Sosok yang dilihatnya bukan sekadar manusia biasa, tetapi utusan yang telah lama dijanjikan dalam Taurat. Ia pun segera mendekat, terdorong oleh rasa haru dan keyakinan yang tak terbendung.
Di tengah kerumunan masyarakat yang menyambut Rasulullah, Husen mendengar langsung pesan-pesan yang sederhana namun sarat makna, seperti menyebarkan salam, memberi makan, dan mendirikan salat malam. Ucapan itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa ajaran tersebut sejalan dengan nilai ketuhanan yang ia yakini.
Tanpa ragu, ia memperkenalkan diri di hadapan Nabi Muhammad. Dalam pertemuan itu, Rasulullah mengganti namanya menjadi Abdullah bin Salam, sebagai penanda babak baru dalam hidupnya.
Baca Juga : BPJS Cabang Malang Diduga Peras Sejumlah Faskes, Minta Setoran Emas Batangan
“Demi Allah yang mengutus Anda dengan kebenaran, saya menerima nama ini dan tidak akan menggantinya lagi,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Abdullah menyadari bahwa pilihannya akan membuatnya berseberangan dengan sebagian besar kaumnya. Namun baginya, kebenaran tidak dapat ditukar dengan kenyamanan.
Kisah ini menunjukkan bahwa pencarian kebenaran sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan masa lalu, termasuk identitas yang telah lama melekat. Dari seorang pendeta yang mengajar di tempat ibadahnya, Abdullah bin Salam memilih jalan baru yang diyakininya sebagai kebenaran sejati.
