Euforia Makan saat Lebaran Bisa Picu Gangguan Pencernaan, Dokter Beri Peringatan
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
19 - Mar - 2026, 10:01
JATIMTIMES - Perayaan Idul Fitri kerap identik dengan meja makan yang dipenuhi aneka hidangan menggugah selera. Sajian seperti opor ayam, rendang, serta berbagai kue kering hampir selalu hadir dalam setiap kunjungan silaturahmi. Namun di balik kemeriahan tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan masyarakat untuk tetap mengontrol pola makan agar tidak menimbulkan masalah kesehatan.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan saluran cerna dan jati Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Syifa Mustika mengatakan bahwa setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan, tubuh telah beradaptasi dengan pola makan yang lebih terbatas.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Selama Ramadan, frekuensi makan umumnya berkurang menjadi dua waktu utama, yakni saat sahur dan berbuka puasa. Ritme tersebut membuat sistem pencernaan menyesuaikan diri dengan pola makan yang lebih teratur.
Masalah kerap muncul ketika Lebaran tiba. Banyak orang langsung menikmati berbagai makanan dalam jumlah besar yang sebelumnya jarang dikonsumsi selama berpuasa.
“Setelah sebulan berpuasa, sering muncul euforia untuk mencicipi berbagai hidangan khas Lebaran. Tanpa disadari, seseorang bisa makan lebih banyak dari biasanya,” ujar Syifa.
Situasi tersebut semakin dipengaruhi oleh tradisi berkunjung dari satu rumah ke rumah lain. Di setiap tempat biasanya tersedia hidangan yang membuat tamu tergoda untuk kembali makan.
Akibatnya, seseorang dapat mengonsumsi makanan berkali kali dalam waktu singkat tanpa memperhatikan jumlah yang sudah dimakan sebelumnya.
“Ketika tubuh yang selama Ramadan terbiasa dengan porsi makan tertentu tiba tiba menerima makanan dalam jumlah besar, sistem pencernaan bisa mengalami gangguan,” jelasnya.
Keluhan yang paling sering muncul antara lain perut terasa penuh, kembung, mual, hingga nyeri di bagian ulu hati. Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat memicu kambuhnya penyakit yang berkaitan dengan lambung.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
Beberapa gangguan yang cukup sering terjadi adalah Gastroesophageal Reflux Disease dan Dispepsia, terutama jika makanan yang dikonsumsi tinggi lemak dan santan.
Selain berdampak pada sistem pencernaan, kebiasaan makan berlebihan juga dapat memengaruhi kondisi kesehatan lain. Pola makan yang tidak terkontrol berpotensi meningkatkan kadar kolesterol serta memicu lonjakan gula darah, khususnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2.
“Perubahan pola makan secara mendadak dapat memengaruhi metabolisme tubuh, termasuk keseimbangan gula darah dan proses pencernaan,” tambahnya.
Karena itu, masyarakat disarankan untuk tetap menjaga keseimbangan asupan makanan selama Lebaran. Mengatur porsi makan, memperbanyak minum air putih, serta menambahkan sayur dan buah dapat membantu tubuh tetap nyaman meski menikmati berbagai hidangan khas hari raya.
“Lebaran tetap bisa dinikmati dengan berbagai hidangan, tetapi sebaiknya tetap bijak dalam mengatur porsi makan agar kesehatan tetap terjaga,” pungkasnya.
