Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Baru Iran, Putra Ali Khamenei yang Tak Disukai AS

Reporter

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

09 - Mar - 2026, 09:19

Mojtaba Khamenei, petinggi baru Iran. (Foto: AFP)

JATIMTIMES - Iran resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah. Majelis Ahli Iran kemudian menunjuk putra mendiang pemimpin tersebut, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus jabatan tertinggi di Republik Islam Iran.

Penunjukan Mojtaba dinilai menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memiliki pengaruh kuat dalam struktur kekuasaan Iran.

Baca Juga : Lilik DPRD Jatim Tekankan Religiusitas dan Nasionalisme sebagai Fondasi Demokrasi

Media Iran melaporkan bahwa badan ulama tersebut memilih Mojtaba Khamenei, seorang ulama tingkat menengah berusia 56 tahun, lebih dari sepekan setelah kematian ayahnya di tengah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Salah satu anggota Majelis Ahli, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, menyebut keputusan tersebut diambil berdasarkan arahan Ali Khamenei sebelum wafat.

Ia menyampaikan bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya bukan sosok yang disukai oleh musuh negara.

“Kandidat dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya ‘dibenci oleh musuh’,” ujar Heidari Alekasir dalam sebuah video yang dikutip dari AFP, Senin (9/3/2026).

Dalam pernyataannya, ia juga menyinggung komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menolak kemungkinan Mojtaba Khamenei menjadi pemimpin Iran.

“Bahkan ‘Setan Besar’ pun telah menyebut namanya,” kata Heidari Alekasir, merujuk pada Amerika Serikat dan pernyataan Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”.

Sosok Berpengaruh di Balik Layar

Dilansir Reuters, Mojtaba Khamenei selama bertahun-tahun dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik pemerintahan ayahnya. Ia membangun pengaruh melalui hubungan dekat dengan aparat keamanan serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.

Ia juga dikenal sebagai sosok yang menentang kelompok reformis yang ingin memperbaiki hubungan Iran dengan negara-negara Barat, terutama terkait upaya pembatasan program nuklir Iran.

Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) membuat pengaruhnya cukup kuat dalam sistem politik dan keamanan negara tersebut.

Beberapa sumber menyebut Mojtaba secara perlahan membangun perannya sebagai “penjaga gerbang” bagi ayahnya.

“Ia memiliki basis dukungan yang kuat di dalam IRGC, terutama di kalangan generasi muda yang lebih radikal,” kata Kasra Aarabi, kepala penelitian IRGC di organisasi kebijakan yang berbasis di Amerika Serikat, United Against Nuclear Iran.

Di Iran, pemimpin tertinggi memiliki kewenangan besar dalam menentukan arah negara, termasuk kebijakan luar negeri dan pengembangan program nuklir.

Negara-negara Barat selama ini berupaya menekan Iran agar tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun pemerintah Iran menegaskan bahwa program nuklir yang dijalankan hanya untuk tujuan sipil.

Meski demikian, Mojtaba Khamenei kemungkinan akan menghadapi tantangan dari dalam negeri. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Iran beberapa kali melakukan demonstrasi besar menuntut kebebasan politik yang lebih luas, meskipun aksi tersebut sering dibubarkan oleh aparat keamanan.

Latar Belakang Mojtaba Khamenei

Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Syiah, Mashhad. Ia tumbuh di tengah aktivitas politik ayahnya yang saat itu terlibat dalam gerakan oposisi terhadap pemerintahan Shah Iran sebelum Revolusi Iran 1979.

Ketika masih muda, Mojtaba juga pernah terlibat dalam Perang Iran-Irak.

Setelah itu ia melanjutkan pendidikan agama di kota Qom, yang dikenal sebagai pusat pendidikan teologi Syiah di Iran. Di sana ia belajar di bawah bimbingan sejumlah ulama konservatif.

Mojtaba diketahui memiliki gelar keagamaan Hojjatoleslam.

Meski memiliki pengaruh besar, ia tidak pernah memegang jabatan resmi dalam pemerintahan Republik Islam Iran. Ia juga jarang tampil di depan publik meskipun beberapa kali terlihat dalam rapat umum pendukung pemerintah.

Peran Mojtaba yang kuat di balik layar juga memicu kontroversi di Iran. Sebagian pihak menilai kemungkinan naiknya Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi mencerminkan praktik politik dinasti, sesuatu yang dianggap bertentangan dengan semangat revolusi yang menggulingkan monarki pada 1979.

Baca Juga : Harga Minyak Dunia Tembus $100 per Barel, Tertinggi dalam 5 Tahun Terakhir

Pernah Dijatuhi Sanksi Amerika Serikat

Pada 2019, Departemen Keuangan Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba Khamenei.

Washington menyebut Mojtaba mewakili pemimpin tertinggi Iran dalam berbagai urusan resmi, meskipun ia tidak pernah dipilih atau ditunjuk dalam jabatan pemerintahan selain bekerja di kantor ayahnya.

Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan bahwa Ali Khamenei pernah mendelegasikan sebagian tanggung jawabnya kepada Mojtaba.

Ia juga dituduh bekerja sama dengan komandan Pasukan Quds IRGC serta milisi Basij, kelompok paramiliter yang berafiliasi dengan Garda Revolusi.

Menurut pemerintah Amerika Serikat, langkah tersebut dilakukan untuk mendukung ambisi regional Iran serta kebijakan domestik yang dianggap represif.

Nama Mojtaba juga sempat menjadi sorotan saat gelombang demonstrasi besar di Iran pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang meninggal dalam tahanan polisi setelah ditangkap karena diduga melanggar aturan berpakaian yang ketat.

Kontroversi dan Jalan Menuju Kekuasaan

Secara fisik, Mojtaba Khamenei disebut memiliki kemiripan dengan ayahnya. Ia juga mengenakan sorban hitam yang menandakan bahwa keluarganya merupakan sayyed atau keturunan Nabi Muhammad.

Namun sejumlah pengkritik menilai ia belum memiliki kredensial keagamaan yang cukup untuk menjadi pemimpin tertinggi Iran.

Gelar Hojjatoleslam yang ia sandang berada satu tingkat di bawah Ayatollah, gelar yang dimiliki oleh Ali Khamenei maupun pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Meski demikian, nama Mojtaba telah lama disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus kepemimpinan Iran.

Peluang tersebut semakin terbuka setelah kandidat potensial lainnya, mantan Presiden Iran Ebrahim Raisi, meninggal dalam kecelakaan helikopter pada 2024.

Sebuah dokumen diplomatik Amerika Serikat yang ditulis pada 2007 dan kemudian dipublikasikan oleh WikiLeaks bahkan menyebut Mojtaba sebagai salah satu jalur penting untuk menjangkau Ali Khamenei.

Ia juga diyakini memiliki peran dalam naiknya tokoh garis keras Mahmoud Ahmadinejad yang terpilih sebagai presiden Iran pada 2005.

Mojtaba kembali memberikan dukungan kepada Ahmadinejad pada pemilihan presiden 2009 yang berujung pada kemenangan masa jabatan kedua dan memicu protes besar di Iran.

Demonstrasi tersebut akhirnya dibubarkan secara keras oleh milisi Basij dan aparat keamanan.

Ulama moderat Mehdi Karroubi yang juga mencalonkan diri dalam pemilu tersebut sempat menulis surat kepada Ali Khamenei untuk memprotes dugaan keterlibatan Mojtaba dalam mendukung Ahmadinejad. Namun tuduhan itu dibantah oleh Khamenei.

Dalam perkembangan terbaru, konflik yang terjadi juga berdampak langsung pada keluarga Mojtaba. Istrinya dilaporkan tewas dalam serangan udara beberapa hari lalu.

Sang istri diketahui merupakan putri dari tokoh garis keras Iran sekaligus mantan ketua parlemen, Gholamali Haddadadel.