Perang Iran vs AS–Israel Masuk Hari Ke-8, Lebih dari 1.300 Orang Dilaporkan Tewas

Reporter

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

07 - Mar - 2026, 03:53

Penampakan serangan Israel dan AS yang menerjang Iran. (Foto AFP)

JATIMTIMES - Konflik militer antara Iran dan koalisi Amerika Serikat serta Israel terus memanas. Hingga Sabtu, 7 Maret 2026, perang tersebut telah memasuki hari kedelapan sejak pertama pecah pada akhir Februari.

Pertempuran yang berlangsung selama sepekan terakhir dilaporkan semakin meluas dan berdampak besar pada situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Serangan udara yang terus berlangsung menyebabkan jumlah korban jiwa terus bertambah.

Baca Juga : Mengenal Drone Shahed-136 Milik Iran, Senjata Murah yang Jadi Tantangan Serius bagi AS

Lebih dari 1.300 Korban Jiwa di Iran

Menurut laporan media internasional Al Jazeera, sedikitnya 1.332 orang dilaporkan meninggal dunia di Iran sejak operasi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel dimulai.

Gelombang serangan udara terbaru kembali menghantam ibu kota Teheran pada Sabtu pagi. Pemboman intensif ini disebut menargetkan berbagai fasilitas strategis di negara tersebut.

Sementara itu, United States Central Command (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya telah menyerang lebih dari 3.000 target militer di Iran sejak operasi dimulai. Dalam operasi tersebut, mereka juga mengklaim telah menghancurkan 43 kapal perang milik Iran.

Serangan yang terus berlangsung membuat kondisi di berbagai wilayah Iran semakin genting, terutama di daerah yang menjadi sasaran serangan udara.

Iran Tuduh AS dan Israel Serang Infrastruktur Sipil

Di tengah meningkatnya ketegangan, pernyataan berbeda muncul dari pihak Iran. Berbicara kepada wartawan di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menuduh AS dan Israel telah menyerang infrastruktur sipil.

Ia menegaskan bahwa Iran justru berusaha menargetkan fasilitas militer dan tidak menyasar warga sipil maupun kepentingan negara tetangga.

Menurut Iravani, beberapa insiden yang menyebabkan kerusakan pada fasilitas non-militer kemungkinan disebabkan oleh sistem pertahanan udara milik Amerika Serikat.

“Penilaian awal kami menunjukkan bahwa beberapa insiden ini mungkin disebabkan oleh intersepsi atau gangguan oleh sistem pertahanan Amerika Serikat, yang mungkin telah dialihkan dari target militer yang dimaksud,” kata Iravani, seperti dikutip dari The Straits Times.

Namun, pihak AS dan Israel memiliki pandangan yang berbeda dan menilai bahwa Iran justru menjadi pihak yang menyerang wilayah sipil.

Konflik ini semakin kompleks setelah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari pertama perang.

Baca Juga : Imbas Perang Timur Tengah, Harga Emas Antam Naik Rp 35.000 Jadi Rp 3.059.000 Per Gram

Menyusul peristiwa tersebut, Presiden AS Donald Trump meminta Iran untuk menyerah tanpa syarat guna mengakhiri konflik.

Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat ingin terlibat dalam proses pemilihan pemimpin tertinggi Iran yang baru agar sosok pengganti Khamenei dapat diterima oleh komunitas internasional.

Pernyataan tersebut langsung mendapat tanggapan keras dari Iran. Iravani menilai tuntutan tersebut sebagai bentuk pelanggaran terhadap prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri suatu negara yang diatur dalam Piagam PBB.

“Pemilihan kepemimpinan Iran akan berlangsung secara ketat sesuai dengan prosedur konstitusional kami dan semata-mata atas kehendak rakyat Iran tanpa campur tangan asing,” tegasnya.

Meski konflik masih berlangsung, beberapa tanda upaya diplomasi mulai muncul. Beberapa jam setelah pernyataan Trump, pemerintah Iran mengungkapkan bahwa sejumlah negara telah menyatakan kesediaan untuk membantu proses mediasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Langkah tersebut menjadi salah satu sinyal awal adanya kemungkinan inisiatif diplomatik untuk meredakan konflik yang saat ini terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Namun hingga kini, pertempuran masih berlangsung dan situasi di wilayah tersebut tetap berada dalam kondisi sangat tegang.