Timur Tengah Memanas, Harga Emas Diprediksi Meledak hingga Rp 3 Juta per Gram
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
03 - Mar - 2026, 01:12
JATIMTIMES - Memanasnya konflik di Timur Tengah langsung mengguncang pasar keuangan global. Investor ramai-ramai mengalihkan dana ke emas yang dianggap sebagai aset safe haven paling aman saat situasi geopolitik tak menentu.
Sejumlah analis memprediksi harga emas bakal melonjak tajam pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Sentimen perang dinilai cukup kuat untuk memicu aksi borong besar-besaran.
Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan emas berpotensi menjadi primadona ketika pasar kembali dibuka.
"Emas kemungkinan akan lebih diminati dari biasanya ketika pasar dibuka pada hari Senin. Mengingat risiko terkait berapa lama konflik dapat berlangsung, negara mana lagi yang dapat terseret, dan kekhawatiran inflasi, emas diperkirakan akan mengambil perannya sebagai aset safe haven pilihan," kata Waterer dikutip dari Reuters, Selasa (3/3/2026).
Menurut dia, tekanan jual besar kemungkinan terjadi di pasar saham dan aset berisiko lainnya. Investor disebut akan segera mencari pelabuhan aman untuk menyelamatkan dana mereka.
"Investor akan mencari tempat terbaik untuk menempatkan dana mereka, dan emas kemungkinan akan berada di urutan teratas daftar tersebut," ucap Waterer.
Senada, Analis Marex Edward Meir memperkirakan lonjakan harga emas bisa terjadi secara agresif. Pasar biasanya bereaksi cepat terhadap pecahnya konflik bersenjata.
"Saya pikir kita bisa membuka perdagangan dengan kenaikan sekitar $200/ounce untuk emas, tetapi kemudian akan turun sepanjang hari," ungkap Edward Meir.
Lonjakan tersebut dinilai sebagai respons spontan pelaku pasar terhadap ketidakpastian global. Namun, pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik.
Baca Juga : Inflasi Kota Malang Februari 2026 Capai 0,74 Persen, Harga Pangan Jadi Pemicu Utama
Analis Pasar di City Index dan Forex.com, Fawad Razaqzada bahkan memprediksi harga emas bisa mencetak rekor tertinggi baru. Ia menyebut level US$ 5.500 hingga US$ 5.600 per troy ons berpotensi tercapai.
"Akan ada peningkatan permintaan emas sebagai aset safe haven yang dapat menyebabkan harga naik kembali hingga sekitar US$ 5.500, dan mungkin mencapai rekor tertinggi baru di atas puncak Januari sekitar US$ 5.600," papar Razaqzada.
Jika dikonversi, level tersebut setara kisaran Rp 3 juta per gram, tergantung kurs rupiah terhadap dolar AS.
Meski begitu, kenaikan harga emas berpotensi tertahan apabila dolar AS menguat kembali atau harga minyak mentah tetap tinggi tanpa gangguan distribusi besar.
