Siapa Pengganti Ali Khamenei Setelah Tewas dalam Serangan AS-Israel? Ini Daftar Nama yang Muncul

02 - Mar - 2026, 07:37

Ali Khamenei, petinggi Iran yang tewas saat serangan Israel dan AS. (Foto: Wikipedia)

JATIMTIMES - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, mengguncang lanskap politik Teheran. Pemerintah Iran mengonfirmasi Khamenei tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel di ibu kota pada Sabtu (28/2/2026). 

Peristiwa ini langsung memicu spekulasi luas tentang siapa yang akan menggantikan posisi paling berpengaruh dalam sistem Republik Islam Iran.

Baca Juga : Ramalan Keuangan 2 Maret 2026: Siapa Zodiak Paling Hoki Soal Uang Hari Ini?

Dilansir NDTV, wafatnya Khamenei membuat isu suksesi kepemimpinan menjadi pembahasan utama di dalam dan luar negeri. Mengacu pada konstitusi Iran, pemimpin tertinggi tidak dipilih lewat pemilu langsung, melainkan ditentukan oleh Majelis Pakar, badan beranggotakan 88 ulama senior yang memiliki kewenangan penuh menunjuk pengganti.

Mekanisme Suksesi dan Dua Skenario yang Mungkin Terjadi

Menurut laporan kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), selama masa transisi pemerintahan dapat dijalankan oleh dewan sementara. Dewan ini terdiri dari presiden Iran, kepala lembaga peradilan, dan satu anggota Dewan Penjaga Konstitusi hingga Majelis Pakar menetapkan pemimpin baru.

Para analis menilai ada dua kemungkinan skenario. Pertama, Majelis Pakar segera bersidang untuk memilih sosok baru dari kandidat yang dianggap memenuhi syarat. Kedua, Iran dipimpin sementara oleh dewan transisi dalam periode yang lebih panjang jika proses politik berjalan alot.

Reuters melaporkan sejumlah nama mulai diperbincangkan sebagai calon kuat pengganti Khamenei. Jika salah satu tokoh garis keras terpilih, kebijakan Iran terhadap Barat dan Israel diperkirakan akan semakin tegas.

Daftar Kandidat yang Disebut Berpeluang

Berikut sejumlah nama yang ramai disebut dalam berbagai laporan internasional:

1. Mojtaba Khamenei

Putra kedua Ali Khamenei ini kerap disebut memiliki pengaruh besar di balik layar kekuasaan. Ia diyakini memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kekuatan militer yang sangat dominan di Iran.

Namun, wacana suksesi dari ayah ke anak menuai kontroversi. Sebagian ulama Syiah menilai pola tersebut menyerupai sistem monarki yang pernah digulingkan dalam Revolusi Iran 1979.

2. Hassan Khomeini

Cucu pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini, ini dinilai memiliki legitimasi historis kuat. Meski begitu, pengaruh politiknya disebut tidak sekuat beberapa kandidat lain yang lebih aktif dalam lingkaran kekuasaan saat ini.

3. Alireza Arafi

Wakil Ketua Majelis Pakar sekaligus anggota Dewan Penjaga ini dianggap sebagai figur kompromi. Di usia 67 tahun, Arafi memiliki kredibilitas keagamaan tinggi dan dikenal sebagai pemimpin sistem seminaris (hawza) di Iran.

Sejumlah pengamat menyebutnya sebagai kandidat “jalan tengah” yang mampu menjembatani kepentingan ulama senior dan militer, sehingga berpotensi meminimalkan gejolak politik.

4. Mohammad Mehdi Mirbagheri

Baca Juga : Situasi Timur Tengah Memanas, Nasib Jemaah Umrah RI Bagaimana? Ini Kata Kemenhaj

Bagi kelompok konservatif garis keras, Mirbagheri menjadi sosok yang paling ideal. Ia dikenal sebagai ulama senior dengan pandangan sangat tegas terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Pendukungnya meyakini Mirbagheri akan menjaga garis ideologis revolusi tetap keras dan tidak memberi ruang kompromi terhadap Barat.

5. Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i

Sebagai Kepala Lembaga Peradilan Iran, Eje’i dikenal sebagai figur tegas dan loyal terhadap kepemimpinan Khamenei. Saat ini ia juga berperan dalam dewan transisi yang menjalankan pemerintahan sementara.

Pengalaman panjangnya dalam birokrasi membuatnya dipandang mampu menjaga stabilitas internal di tengah situasi politik yang sensitif.

Oposisi Iran Ikut Ambil Momentum

Di luar lingkaran elite pemerintahan, tokoh oposisi juga mulai bersuara. Maryam Rajavi, pemimpin National Council of Resistance of Iran (NCRI) yang berbasis di Paris, menyerukan perubahan besar di Iran.

Dalam pernyataannya kepada media internasional, Rajavi menyebut rezim ulama telah membawa penderitaan berkepanjangan dan mendorong rakyat Iran membangun pemerintahan yang lebih demokratis.

Sementara itu, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran yang hidup dalam pengasingan, juga mengajak rakyat Iran menentukan masa depan mereka sendiri melalui perubahan politik.

Masa Depan Iran di Titik Kritis

Kematian Ali Khamenei menandai babak baru dalam sejarah politik Iran. Dengan mekanisme suksesi yang berada di tangan Majelis Pakar, arah kebijakan dalam negeri maupun luar negeri Iran sangat bergantung pada siapa yang akhirnya terpilih.

Apakah Iran akan memilih figur kompromi yang menjaga stabilitas, atau tokoh garis keras yang mempertegas konfrontasi dengan Barat? Dunia kini menanti keputusan yang akan menentukan wajah Republik Islam Iran ke depan.